Unik, Bahasa Kerinci Dialek Tebing Tinggi Memiliki Bahasa Tersendiri
Mimi Fatria

Unik, Bahasa Kerinci Dialek Tebing Tinggi Memiliki Bahasa Tersendiri

Selasa, 26 November 2019 - 09:17:45 WIB
0 | Kategori: Lifestyle |Dibaca: 851

Untuk Mengekspresikan Emosi Tetapi Tidak Memiliki Arti Pada KBBI

Kenali.co, Kerinci adalah kabupaten yang kaya akan bahasa, budaya dan ciri khas. setiap desa di Kerinci memiliki dialek bahasanya tersendiri yang dituturkan masyarakat setempat untuk berkomunikasi dan bersosialisasi di ruang lingkup Kerinci. 

Terlebih lagi bahasa Kerinci pada bagian kecamatan Danau Kerinci yang terdiri dari kurang lebih 10 desa, yaitu Koto Salak, Koto Iman, Tanjung Tanah, Ambai, Cupak, Tebing-tinggi, Seleman, Pendung Talang Genting (Pentagen), Sanggarang Agung, dan Talang. Pada daerah ini dialek bahasa hampir memiliki kemiripan terkhusus pada vokal "ao". Misalnya pada kata "mau kemana". Jika dituturkan maka akan menjadi "ndek kamanao, kanao, ndok kamanao, nduak kamanao" 

Tebing-tinggi adalah salah satu desa di kecamatan Danau Kerinci yang memiliki dialek bahasa yang sangat unik, bahasa yang masih kental untuk dituturkan pada desa tersebut, contohnya saja ketika ada orang rantau yang pulang kampung maka orang tersebut harus bisa berbahasa ibunya, Jika tidak akan diejek "orang kota masuk pelosok desa". Hal ini perlu diapresiasi bahwa masih ada masyarakat yang melestarikan bahasa ibu sejak dahulu hingga saat ini. 

Di Tebing-tinggi bahasa Indonesia hanya digunakan pada ruang lingkup pembelajaran formal saja, jadi dari anak-anak hingga lanjut usia sangat fasih menggunakan bahasa ibu tetapi lemah pada Bahasa Indonesia, terlebih lagi pada orang tua yang umurnya di atas 45 tahun, orang tua di desa Tebing Tinggi bisa menggunakan bahasa Indonesia namun kerap sekali masih mencampuri dengan bahasa ibu. 

Uniknya pada desa Tebing Tinggi ada kata yang tidak memiliki arti pada KBBI namun diucapkan guna untuk memberikan ekspresi ketika sedang marah. Contohnya: kata galabeah, sagaluheat, sagaluhit dan masih banyak lainnya. Kata-kata ini hanya diucapkan ketika berada pada fase emosional yang tinggi.

Saya sebagai orang yang berdomisili Tebing Tinggi pun tidak memahami arti kata tersebut, bahkan ketika saya bertanya kepada orang tua saya mereka juga tidak mengetahui jelas bahasa itu, namun kerap sekali diucapkan oleh mereka. Tidak ada sejarah pasti mengenai bahasa tersebut, namun memiliki keunikan tersendiri pada saat mengungkapkan ekspresi marah. 

Penulis : Mimi Fatria, Mahasiswi Universitas Jambi, fakultas Ilmu Budaya, prodi Sastra Indonesia. 

#News1


kenali.co