MENUJU KEMENANGAN SEJATI
Oleh: Bahren Nurdin

MENUJU KEMENANGAN SEJATI

Rabu, 05 Juni 2019 - 05:51:07 WIB
0 | Kategori: Kolom |Dibaca: 264

Kenali.co, SIAPA sebenarnya pemenang sejati itu? Rasanya baik juga untuk dibahas karena saat ini ummat Muslim sedang menyambut hari kemenangan yaitu hari raya Idul Fitri. Pertanyaan selanjutnya, kemenangan dari apa? Idealnya, seseorang akan disebut pemenang ketika ia mampu menjadi unggul dari yang lain. Pemenang dalam perlombaan balap motor ketika ai mampu menjadi yang tercepat. Pemenang dalam pertarungan silat ketika ia menjadi yang terkuat. Pemenang dalam lomba menyanyi ketika suaranya yang paling merdu, dan seterusnya.

Lantas, mengapa seseorang disebut sebagai pemenang ketika merayakan hari raya Idul Fitri? Mana medan juangnya? Ternyata ranah perangnya adalah di bulan suci Ramadhan. Jika begitu, untuk melihat kemenangan yang diperoleh pada Idul Fitri, harus pula dilihat bagaimana kisah perjuangannya saat Ramadhan. Jangan-jangan mengaku menang tapi sesungguhnya tidak berjuang. Menang tanpa perjuangan adalah kemenangan semu..! Hambar.

Konsep dasarnya adalah semakin keras perjuangan untuk memperoleh suatu kemenangan itu maka semakin manis pula kemenangan yang didapat. Dan sebaliknya, semakin mudah perjuangan yang dilalui, semakin hambar makna kemenangan yang dirasakan.

Ramadhan memang menawarkan kedua-duanya; keras dan mudah. Pilihannya ada pada pribadi masing-masing. Sangat bergantung pilihan mana yang hendak ia ambil. Itulah mengapa kemudian melalui hadits agung yang diriwayatkan langsung oleh Nabi shallallahu’alaihi wasallam dari Rabb-nya, bahwa Dia berfirman “Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa, sebab ia hanyalah untuk-KU dan Akulah yang akan memberikan ganjaran padanya secara langsung ”. (HR Bukhari). Ini merupakan jalur khusus hubungan personal antara hamba dan Rabbnya.

Disitulah letak keistimewaan Ramadhan. Seseorang memiliki kebebasan untuk menentukan perjuangan yang dia lalui. Dia bisa bersungguh-sungguh demi Allah atau berpura-pura demi manusia. Semua memiliki konsekuensi. Jika ia memutuskan menjalankan amalan-amalan di Ramadhan karena Allah maka Allah-lah yang akan menentukan pahala yang ia terima. Dan sebaliknya, jika yang dilakukan hanyalah untuk menutupi aibnya dari orang, maka kemuliaan di mata orang-lah yang ia dapatkan.

Inilah konsep kemenangan itu. Pemenang sejati adalah orang-orang yang mempu menjadi pemimpin atas dirinya sendiri. Ia mampu menaklukkan dirinya untuk menjadi sebenar hamba di hadapan Allah. Mari kita lihat beberapa ciri mental para pemanang sejati. Jika ciri-ciri ini tidak terpenuhi, boleh jadi ia mengaku menang dan ikut merayakan kemenangan, namun sesungguhnya ia sedang merayakan kebohongan dirinya sendiri.

Pertama, menjunjung tinggi kejujuran. Ini adalah mindset-nya para pemanang sejati. Pada konteks Ramadhan, mudah saja untuk membohongi orang lain untuk menunjukkan bahwa dirinya sedang berpuasa. Dengan hanya berpura-pura lemas dan lapar, orang akan percaya bahwa ia sedang berpuasa, walaupun dia sedang kekenyangan. Begitu juga amalan-amalan lain yang sangat mudah untuk ‘dicitrakan’ di mata manusia.

Tapi apakah ia bisa membohongi dirinya sendiri? Tidak akan pernah. Mental seorang pemenang sejati akan mengeluarkan segala daya dan upaya yang ada untuk mengalahkan segala bentuk kejahatan dalam dirinya sebelum kemudian ia mengalahkan kejahatan dari luar (eksternal). Dan ini tidak mudah, bahkan lebih sulit dari menghadapi lawan dari luar.

Berlaku jujur memerlukan perjuangan yang sangat keras. Perjuangan dari dalam diri. Ramadhan kemudian menjadi medan tempur untuk membentuk kejujuran. Ramadhan menjadi media pendidikan untuk tidak membohongi diri sendiri dan orang lain. Jika demikian, apakah masih manis nilai kemenangan yang dirayakan pada saat Idul Fitri jika selama Ramadhan ia sudah kalah melawan kejujuran? 

Kedua, integritas. Para pemenang sejati dapat dipastikan memiliki integritas yang baik. Jack Welch, dalam bukunya yang berjudul “Winning” mengatakan, “Orang-orang yang memiliki integritas  mengatakan kebenaran, dan orang-orang itu memegang kata-kata mereka.  Mereka bertanggung-jawab atas tindakan-tindakan mereka di masa lalu, mengakui  kesalahan mereka dan mengoreksinya. (ot.id). Kamus Besar Bahasa Indonesia  mendefinisikan Integritas sebagai “mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan; kejujuran”. 

Dalam bahasa lain sesungguhnya integritas dapat dimaknai sebagai satu kesatuan sikap yang menyelaraskan antara pikikiran (mind), perkataan dan perbuatan. Inilah yang disebut ‘kesatuan’ yang utuh tersebut. Orang-orang yang memiliki integritas tidak memisahkan antara apa yang ia pikirkan, katakan dan perbuat. Semua menjadi satu. Apa yang ada dalam pikirannya, itulah yang ia katakan, dan apa yang ia katakan itulah pula yang ia lakukan. 

Menyelaraskan tiga hal ini memang tidak mudah. Diperlukan perjuangan yang amat sangat berat lebih-lebih di zaman teknologi canggih dan kemudahan komunikasi informasi saat ini. Orang dimungkinkan dengan gampangnya untuk merekayasa diri demi kepentingan-kepentingan tertentu. Menggunakan teknologi yang ada, orang bisa mencitrakan dirinya yang hebat di mata manusia walaupun sesungguhnya apa yang terdapat pada dirinya sangatlah berbeda. Apa yang ada di foto, video, media sosial belum tentu itu ada pada dirinya. Palsu!

Lebih miris lagi, banyak saat ini para pemimpin di berbagai level yang tidak memiliki integritas. Terjebak dengan berbagai manipulasi. Banyak diantara mereka yang hanya mampu mengumbar janji (politik) kepada masyarakat tetapi tidak direalisasikan sebagaimana mestinya. Lain yang dipikirkan, lain yang diucapkan dan lain pula yang dilakukan. 

Pemenang sejati yang merayakan kemenangan pada hari Raya Idul Fitri adalah orang-orang yang dengan sekuat tenaga telah berusaha memiliki integritas diri yang baik. Selama sebulan penuh ditempa agar mampu menyelaraskan antara yang dipikirkan, dikatakan dan diperbuat. Bahkan, agar umat Islam selalu menjaga perkataannya, Rosulullah menyarankan untuk diam sebagaimana Sabda Beliau, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.”(HR. Bukhari,  dan Muslim). Pilihannya cuma satu; berkata baik atau diam.

Ketiga, membesarkan orang lain. Pemenang sejati adalah orang yang mampu memberikan kemenangan kepada orang lain. Menempatkan orang lain sebagai bagian terpenting dalam hidupnya. Itulah pemenang sejati. Dia tidak mempecundangi orang lain untuk menjadi pemenang. Itu artinya, pemenang sejati memperoleh kemenanganya tanpa harus menyakiti orang lain. Tidak ada pilihan kecuali kemenangan itu didapat dengan cara-cara yang baik. 

Kemenangan yang didapat dengan cara-cara yang tidak wajar akan menyakiti banyak orang. Apa lagi, jika kemenangan itu didapat dengan kecurangan, kebusukan, dan penghianatan. Di sinilah kita mengenal istilah, ‘orang besar adalah orang yang berhasil membesarkan orang lain’. Dan sebaliknya, para pecundang itu adalah orang yang selalu merendahkan atau mengecilkan orang lain. Merasa, sekali lagi hanya merasa, dirinya hebat. Walaupun nampaknya besar, pejabat, berpangkat, kaya, dan hebat, tapi jika jiwanya masih belum mampu membesarkan orang lain, dia tetap saja ‘cemen’ alias ‘looser’!. 

Akhirnya, manisnya kemenangan itu hanya akan dapat dirasakan oleh orang-orang yang benar-benar telah melewati berbagai perjuangan. Orang-orang yang akan merasakan keagungan perayaan kemenangan pada hari Raya Idul Fitri adalah orang yang telah mampu menaklukkan segala bentuk ‘peperangan’ sehingga terbentuklah diri seorang pemenang yang jujur, memiliki integritas, dan bermanfaat bagi orang lain. Itulah Pemanang Sejati! 

*Akademisi UIN STS dan Pengamat Sosial Jambi

#News1


kenali.co