Mengenal Feminisme
Sumber foto : Pribadi

Mengenal Feminisme

Sabtu, 01 Juni 2019 - 08:02:47 WIB
0 | Kategori: Lifestyle |Dibaca: 265

Kenali.co, Feminisme merupakan suatu hal yang kompleks, disampaikan demikian karena pola pikir dan konsep negatif telah lebih diperuntukkan dalam khazanah pemahaman kita. Feminisme merupakan gerakan internasional yang bermuatan kesetaraan gender yang menuntut perempuan sebagai individu yang memiliki hak dengan laki-laki di berbagai bidang seperti ekonomi, sosial dan politik serta kebebasan dalam menentukan pilihan yang tepat.

Kunci pemahaman tentang feminismeadalah pengertian akan gender. Jenis kelamin merupakan sifat yang melekat pada laki-laki dan perempuan yang dikontruksi secara sosial dan kultural. Misalnya perempuan itu disebut lemah-lembut, cantik, emosional, irrasional. Sementara laki-laki dianggap kuat, rasional, atau perkasa. Padahal, sifat-sifat itu adalah sifat yang dapat dipertukarkan (bukan takdir yang tetap) karena pada persetujuan ada laki-laki yang lembut dan ada pula perempuan yang keras. Selain itu, kita juga perlu memposisikan diri sebagai orang yang ingin mencari tahu, bukan orang yang lebih dulu memberi label feminisme adalah gerakan sesat yang ingin menyaingi laki-laki.

Persoalan feminisme sendiri merupakan konsep yang jamak. Ia terdiri dari berbagai ideologi, paradigma, serta teori yang dipakai oleh masing-masing aliran. Namun, umumnya mereka memiliki kepedulian yang sama yakni memperjuangkan nasib perempuan dan kesetaraan manusia. Dalam perjalanannya gerakan feminis berkembang menjadi tiga gelombang, dimana tiap gelombang memiliki aliran-alirannya sendiri (Farida, 2018: 72-74). Permasalahan utama yang menjadi titik fokus feminisme adalah budaya patriarki yang membuat perempuan berada pada posisi kelas dua dan inferior. Berikut ini  penjelasan mengenai bagian  feminisme yang dikutip melalui buku kajian dan dinamika gender karya Prof. Dr. Farida Hanum, M.Si yaitu :

1. Feminisme gelombang pertama

Feminisme gelombang pertama dimulai pada akhir abad ke 17 dengan karya Mary Wollstonecraft berjudul Vindication Ridht of Woman tahun 1792 yang berisi kekacuan sosial dan politik disebabkan oleh revolusi prancis. Gelombang pertama ini didominasi dengan peningkatan intelektual dan rasionalitas perempuan dengan tuntutan pertama untuk mendapatkan hak politik. Perhatian gelombang pertama ini bertujuan pada pemerolehan hak-hak politik dan kesempatan ekonomi yang setara bagi perempuan. Beberapa aliran dalam gelombang ini yaitu :

Feminisme Liberal

Feminisme liberal beranggapan bahwa kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dengan menjadi agensi yang bernalar dan kestidaksetaraan gender adalah hasil dari penyoalan berdasarkan seksi pembagian kerja. Agenda feminisme liberal adalah mendesak agar perempuan diberi kesempatan pendidikan dan ekonomi yang sama dan tanggung jawab yang sama (Ritzer, 2008: 800).

Feminisme Radikal

Feminisme Radikal perintisnya adalah Charlotte Perkins Gilman, Emma Goldman dan Margarret Sanger. Mereka mengatakan bahwa perempuan harus melakukan kontrol radikal terhadap tubuh dan kehidupan mereka. Feminisme radikal kontemporer berkembang pesat pada tahun 1960-1970 an di New York AS. Aliran ini melihat penindasan perempuan bukan sebagai produk kapitalisme melainkan bersumber dari semua sistem penindasan. Aliran ini radikal karena memfokuskan pada akar dominasi pria dan klaim bahwa semua bentuk penindasan adalah perpanjangan dari supremasi pria. Feminisme jenis ini beranggapan bahwa perjuangan harus dimulai dengan penggarapan kembali kesadaran perempuan secara mendasar sehingga perempuan menyadari nilai dan kekuatannya sendiri serta menolak tekanan-tekanan dari patriarkhis (Chasteen dalam Ritzer, 2012).

Feminisme Marxis

Dapat dikatakan sebagai kritik terhadap feminisme liberal. Karya Frederick Engels, The Origins of The Family, Private Property and The State, yang ditulis pada tahun 1884 merupakan awal mula pemikiran Marxis tentang penyebab penindasan perempuan. Penindasan terhadap perempuan akibat tindakan individual yang disengaja melainkan hasil dari struktur poltik, sosial, dan ekonomi yang dibangun dalam sistem kapitalisme. Argumentasi kaum Marxis didasarkan kepada persoalan ketidakadilan dalam pembagian kerja dan status kepemilikan. Adapun agenda aksi yang dilakukan adalah perlawanan terhadap kelas pemilik modal. Seperti yang dipesankan oleh Karl Marx, tiada yang abadi dalam kehidupan kecuali pertentangan tersebut.

Feminisme Sosialis

Feminisme Sosialis memahami penindasan terhadap perempuan melalui sudut pandang teori epistimologi yang mendalilkan bahwa semua pengetahuan mempresentasikan kepentingan dan nilai-nilai kelompok sosial tertentu. Komitmen dasar feminisme sosialis adalah mengatasi penindasan kelas. Program feminis sosialis adalah untuk perubahan menyerukan solidaritas global di kalangan perempuan untuk perubahan menyerukan solidaritas global di kalangan perempuan untuk melawan perlakuan kejam kapitalisme yang bekerja dalam kehidupan masyarakat.
 

2. Feminisme gelombang kedua

Gerakan feminis gelombang kedua memperjuangkan pembebasan perempuan yang bersifat kolektif dan revolusioner (Gamble, 2010: 35). Gerakan feminis gelombang ini memberikan dorongan kepada perempuan untuk mencapai kedewasaan, identitas, dan keutuhan diri. Gelombang ini berhubungan dengan  upaya mereka untuk beranjak dari aktivitas yang sifatnya praktis menuju kea rah kegiatan yang bersifat teoritis. Keberhasilan gelombang ini adalah pembentukan gender sebagai suatu konsep inti dalam sosiologi. Beberapa alirannya antara lain :

Feminis Psikoanalisis

Feminis aliran ini berawal dari penjelasan fundamental atas cara bertindak perempuan berakar dari psikis perempuan, terutama dalam cara berfikir perempuan. Sigmund Freud (Arivia, 2002) sebagai psikolog yang mencetuskan konsep psikoanalisis mengklaim bahwa ketidaksetaraan gender berakar dari rangkaian pengalaman masa kanak-kanak ketika masyarakat memandang maskulinitas lebih baik daripada feminitas. Freud beranggapan bahwa inferioritas perempuan terhadap laki-laki disebabkan karena kepemilikan dan tidak kepemilikan atas penis, sehingga menimbulkan “kecemburuan penis” (penis envy).    

Feminisme Eksistensialis

Munculnya gerakan ini berawal dari dua karya besar filsuf Perancis  yaitu Being and Nothingness karya Jean Paul Sartre dan The Second Sex karya Simone De Beauvouir. Kedua konsep ini beranggapan bahwa perempuan adalah ancaman bagi laki-laki. Karenanya jika laki-laki ingin tetap bebas, ia harus mensuboordinasi perempuan terhadap dirinya (Tong, 2008: 262). Pemikiran keduanya menjadi dasar para feminis eksistensialis yaitu mekanisme penguasaan laki-laki sebagai diri (subjek) terhadap Liyan (objek) yang kemudian menjadi tindakan tragis perempuan yang menerima  ke-Liyanan mereka sebagai misteri feminin.


3. Feminisme gelombang ketiga

Gerakan feminis sebelumnya dianggap tidak membawa perubahan dan hanya dinikmati oleh perempuan ras kulit putih dan kelas menengah keatas, hingga kemudian muncul gerakan feminis gelombang ketiga atau bisa disebut postfeminisme. Postfeminisme ini menjadi reaksi keras terhadap dasar yang telah ditetapkan oleh feminis gelombang kedua. Gelombang ini terletak pada  kemampuannya mendefinisikan diri sebagai sebuah ironi, kritiknya yang semi intelek terhadap gerakan feminis, ketimbang sebagai respon permusuhan. Aliran dalam gelombang ini :

Feminis Posmodern

Feminis aliran ini memberikan kecurigaan terhadap feminis klasik yang memberikan suatu penjelasan tertentu mengenai penyebab opresi (tekanan)  terhadap perempuan dan langkah-langkah yang harus diambil perempuan untuk mencapai kebebasan. Pemikiran feminis postmodern dipengaruhi oleh gagasan Sang Liyan Simone de Beauvoir, Dekontruksi Jaques Derrida, dan Psikoanalisis Jaques Lacan. Aliran jenis ini sulit dimengerti, ia dianggap melarikan diri dari perjuangan revolusionernya dan malah banyak berdiam di lingkungan mereka dengan menuliskan gagasan yang semakin tidak relevan bagi kebanyakan perempuan.

Feminis Multikultural dan Global

Feminis aliran ini mendukug adanya keberagaman dan berkembang di Amerika. Feminis ini didasarkan pada pandangan bahwa semua perempuan tidak diciptakan atau dikontruksikan secara setara, bergantung pada ras dan kelas, kecenderungan seksual, usia, agama, pencapaian pendidikan, pekerjaan, status perkawinan dan sebagainya.  Aliran ini lebih memperjuangkan perempuan dalam kedudukannya sebagai identitas lain, yaitu menyangkut ras dan kelas sosial tertentu yang mengalami dominasi.

Ekofeminisme

Aliran ini menunjukkan opresi bukan hanya pada manusia tetapi juga pada alam. Tokoh ekofeminisme Karen J. Warren mengungkapkan modus patriarki yang hierarkis, dualistik dan opresi telah merusak perempuan dan alam. Kemunculan ekofeminisme juga berawal dari buku Rachel Carson (2002) berjudul The Silent Spring yang terbit pada tahun 1962 yang menceritakan pembangunan mulai mengubah ekosistem dan struktur alam dengan tidak adanya burung-burung pada musim semi. Dalam aliran ini, perempuan sebagai mahluk ekologis yang unik. Perempuan dianggap memahami alam dengan cara yang laki-laki sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk melakukannya serta sekeras apapun laki-laki mencoba, tidak akan pernah bisa dilakukan laki-laki. Salah satu gerakan yang pernah dimulai oleh aliran ini adalah gerakan “memeluk pohon” yang dipimpin langsung oleh seorang perempuan India bernama Amrita Devi.

Di Indonesia, gerakan feminisme diterjemahkan dalam perjuangan perempuan  baik dalam bidang pendidikan maupun perjuangan melawan penjajahan seperti Kartini, Cut Nyak Dien, Martha Kristina Tiahahu, Dewi Sartika dan tokoh lain. Meskipun diakui, Indonesia belum menentukan jenis feminis mana yang cocok dengan kulturnya. Selain itu, penandatanganan deklarasi pada konferensi Beogard tahun 1964 oleh presiden Soeharto melahirkan keputusan kikutsertaan Indonesia bahwa sistem keluarga berencana merupakan salah satu hak asasi manusia, hal ini kemudian menjadi salah satu agenda dari feminis Indonesia dalam meminimalisir efek buruk bagi sebagian besar perempuan yang harus mengikuti program tersebut dibanding laki-laki.

Pengalakkan pembangunan di Indonesia juga tidak terlepas dari pembangunan perempuannya. Hal ini dikarenakan perempuan merupakan salah satu pilar pembangunan, meskipun pemerintah dalam hal ini telah mengakomodir pembentukan organisasi yang biasa disebut Dharma Wanita dan PKK (pembinaan kesejahteraan keluarga) yang pada penerapannya ternyata tidak berpotensi mengembangkan partisipasi perempuan Indonesia. Baik Dharma Wanita maupun PKK dibentuk dan beranggotakan para istri dari pejabat yang ada bukan karena kapabilitasnya. Sehingga, organisasi tersebut dinilai kurang efektif. Beda halnya dengan LSM yang memang dibuat atas dasar kesadaran dan nilai-nilai feminis yang dianggap diperlukan dalam masyarakat kita.

Peran serta masyarakat secara umum dan sinergisitas dengan pemerintah adalah kunci dalam penerapan berbagai bentuk gerakan. Sehingga apapun bentuk gerakannya hal itu dapat terinternalisasi dengan baik. Disamping itu, faktor pengetahuan dan agama tetaplah hal yang fundamental. Sebagai negara dengan sila pertama ketuhanan yang maha esa, kita memiliki kekuatan tersendiri dalam mengejawantahkan agenda-agenda internasional yang syarat akan ideologi tertentu.

Penulis: Novita Sari

#News1


kenali.co