Membaca Pengalaman Para Penulis Dunia
Sumber Foto www.bukalapak.com

Membaca Pengalaman Para Penulis Dunia

Rabu, 29 Mei 2019 - 06:02:34 WIB
0 | Kategori: Campus |Dibaca: 197

Kenali.co, Menulis merupakan serangkaian kegiatan untuk melenturkan pikiran. Tulisan hadir atas berbagai dorongan, baik dari dalam (keinginan pribadi) maupun dorongan dari luar. Kemampuan menulis juga lahir dari proses pembacaan dan penghayatan atas realitas yang ada. Hanya beberapa orang yang menyadari bahwa ia memiliki kemampuan alamiah menulis sejak kecil, selebihnya adalah mereka yang berusaha melatih kemampuan dan berkomitmen untuk terus menulis.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk menyajikan cara-cara menulis, namun akan memaparkan beberapa pengalaman para penulis dunia dalam menghasilkan tulisannya yang dikutip melalui sebuah buku berjudul Menulis Itu Indah Pengalaman Para Penulis Dunia sebuah buku terjemahan yang diterbitkan oleh Immortal Publishing dan Octopus pada tahun 2018. Buku ini memuat pengalaman 23 orang penulis dunia yang telah terkenal seperti Albert Camus hingga Virginia Wolf dan lain-lain.

Berikut ini tiga pengalaman penulis dunia diantara banyaknya penulis yang termaktub dalam buku tersebut :

1. George Orwell

Kemampuan George dalam menulis didasarkan oleh pengalaman pribadinya yang cukup buruk. George tak pernah lagi melihat ayahnya sejak usia 8 tahun. Pengalaman ini membuatnya menjadi sosok yang pendiam dan terbiasa menyendiri. Ia terbiasa membuat percakapan dengan sosok imajiner. Ia menulis puisi pertamanya pada usia empat tahun yang saat itu dituliskan oleh ibunya. Pada saat perang 1914 -1918 meletus, usia George menginjak sebelas tahun, ia menulis puisi patriotik dan dua tahun kemudian dimuat di surat kabar lokal. Pada saat dewasa, ia menulis puisi-puisi natural dengan gaya buruk dan tak selesai. Ia juga berusaha menulis cerpen yang berakhir dengan mengerikan.

Ia terbantu dengan berbagai aktifitas sastra yang dilakoninya. Diluar sekolah, ia menulis puisi-puisi semikomik dengan cepat. Pada umur empat belas tahun, ia menulis drama dan sanjak yang dipentaskan berkeliling dan membantu menyunting majalah-majalah sekolah. Diluar hal itu, George melakukan latihan menulis sastra berupa pembuatan cerita berkelanjutan tentang dirinya sendiri.

Ketika umurnya mencapai enam belas tahun, ia merasa mendapatkan kesenangan dengan menjelajahi kata-kata temasuk suara dan asosiasi kata. Ketika merasa perlu menjelaskan benda-benda, maka George harus tahu lebih dulu benda-benda itu. Novel lengkap pertamanya berjudul Burmese Day ditulis ketika berumur tiga puluh tahun yang telah direncanakan jauh sebelumnya. Salah satu faktor yang penting dalam menulis menurutnya adalah umur, tetapi sebelum menulis seorang penulis harus mencapai sikap emosional yang mantap. Ia harus mendisiplinkan temperamennya dan meninggalkan masalah di tingkat kedewasaan yang belum matang dan bertentangan dengan mood untuk menulis. Selain itu, menurut George dalam menulis seseorang juga harus mempertahankan atmosfernya dari sekedar egoisme, antusiasme estetik, implus historis, dan tujuan politis.

George juga pernah tidak menulis novel selama tujuh tahun. Menurut George, kegagalan itu wajar, setiap buku adalah kegagalan tetapi ia tahu buku semacam apa yang ingin ia tulis. Ia menyadari setiap penulis memiliki motif-motif tersendiri dalam proses menulis. Bahkan menurutnya semua penulis itu sia-sia, mementingkan diri sendiri, dan malas. Karena menulis buku itu mengerikan, perjuangan yang meletihkan seperti sakit berkepanjangan. Seorang penulis juga butuh dorongan, agar tak memiliki kekurangan alasan untuk menulis sehingga ia tak akan menghasilkan buku-buku yang tak bernyawa, penuh kalimat tanpa makna, kata-kata dekoratif dan omong-kosong.
 

2. Jean Paul Sartre

Pada bagian Jean, ia menjelaskan tentang apakah menulis itu. Menurutnya, menulis itu adalah proses menjawab segala bentuk aspek yang ada di dunia. Seseorang tidaklah menjadi penulis untuk memilih mengatakan hal-hal tertentu, tetapi untuk memilih mengatakan hal-hal itu dalam cara tertentu dan gaya menghasilkan prosa.

Menurutnya, menulis itu merupakan suatu usaha karena para penulis adalah mahluk hidup sebelum kemudian menjadi mayat, karena kita berpikir bahwa kita harus sedapat mungkin mencoba menulis dalam buku-buku kita dan tak ada alasan untuk menunjukkan kemampuan walau terlebih dahulu kita bisa salah. Karena penulis akan melibatkan diri dalam karya-karyanya bukan sebagai pelaku pasif yang tak berbuat apa-apa yang hanya mengedepankan ketidakberdayaan serta kelemahannya, melainkan suatu kehendak tegas dan pilihan, maka pertanyaan “mengapa seseorangmenulis” menurut Jean juga harus ditanyakan pada diri kita masing-masing.
 

3. Mark Twain

Mark dalam buku tersebut bercerita tentang kisah terbitnya buku yang ia tulis. Ia memulai debutnya dalam dunia kepengarangan sejak tahun 1867. Pada awalnya, ia memang tidak yakin dengan bukunya sendiri namun temannya Charles H. Webb seorang reporter dan editor menyarankannya untuk menerbitkan tulisannya. Tulisan pertama yang ingin ia terbitkan adalah naskah cerita “The Jumping Frog” yang akan berbentuk sebuah buku kecil namun penerbit yang ia tuju sesuai saran temannya tak menghiraukan naskah tersebut. Lalu buku itu dimanfaatkan Henry Clapp untuk membantu jurnal sastranya yang telah lama tak terbit. Cerita tersebut kemudian terkenal dan Mark sering mengisahkannya secara lisan.

Saat Mark menanyakan tentang naskahnya, penerbit tersebut membentaknya dan mengatakan bahwa banyaknaskah yang sedang menunggu untuk diterbitkan. Dua puluh satu tahun kemudian, ketika bertemu kembali dengan penerbit itu Mark berbesar hati dan menganggapnya sebagai teman. Naskahnya tersebut diterbitkan lewat American New Company. Naskah selanjutnya adalah petualangannya menaiki The Excursion, ia dibayar sebesar lima persen atas buku itu. Ia menulis buku itu dan mengirimkannya sesuai waktu kontrak, namun pengerjaan ilustrasi nya kemudian terhenti dan kontrakpun berakhir, tak ada penjelasan. Mark kemudian harus ceramah keliling mengenai naskah tersebut.

Ia juga menanyakan kapan naskahnya terbit pada dirinya sendiri, ketika ada orang yang bertanya padanya tentang kapan bukunya terbit maka Mark akan segera marah dan memusuhinya. Mark kemudian menyelidiki tentang naskahnya, ternyata direktur penerbitan itu takut menerbitkan buku Mark karena karakternya dinilai berbeda dengan buku-buku yang pernah diterbitkan disana. Ia kemudian diminta untuk menarik naskah dan membantalkan kontraknya, namun Mark malah sebaliknya ia tidak mau menarik naskah tersebut dan mengancam akan memperburuk citra penerbitan itu. Buku itu kemudian dicetak, diluar dugaan ternyata menghasilkan keuntungan yang berlipat ganda.

Meskipun merupakan buku terjemahan, buku ini cukup menarik untuk dibaca. Kita akan mengetahui bagaimana lika-liku pengalaman para penulis dunia yang karyanya pun telah sampai di rak-rak toko buku Indonesia dengan harga yang beragam. Dengan membaca inipun, akan menstimulus kita dalam mempersiapkan diri untuk menjadi seorang penulis dengan menemukan pengalaman kreatif kita sendiri.(*)

Penulis: Novita Sari, Mahasiswa Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jambi

#News1


kenali.co