7 Pilar Pembentukan Komunitas Literasi
Ilustrasi.

7 Pilar Pembentukan Komunitas Literasi

Jumat, 24 Mei 2019 - 05:38:38 WIB
0 | Kategori: Campus |Dibaca: 215

Kenali.co, Literasi merupakan kemampuan menulis dan membaca yang mendasari keilmuan dalam hidup kita. Kemampuan berliterasi secara struktur, diajarkan sejak kecil hingga kita dewasa melalui pendidikan di sekolah. Wajib belajar 12 tahun merupakan langkah yang dibuat oleh konstitusi untuk mendorong hal itu. Namun, kenyataan bahwa banyaknya anak-anak yang berhenti sekolah, orang tua yang buta huruf maupun mereka yang enggan mencicipi bangku sekolah membuat daya literasi kita menjadi cukup lemah.

Sebuah riset yang dilakukan oleh CSSU pada tahun 2016 tentang peningkatan keliterasian sebuah negara menyatakan bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara paling literat di dunia. Hal ini menunjukkan perlunya peningkatan literasi di negara kita sebagai penunjang kualitas masyarakat. Literasi juga merupakan tanggung jawab semua pihak di samping lembaga pendidikan. Keikutsertaan serta kesadaran masyarakat dalam penumbuhan budaya dan minat akan literasi akan mendorong Indonesia ke peringkat lebih baik dalam bagian negara paling literat di dunia.

Pentingnya keikutsertaan masyarakat dalam penumbuhan minat literasi akan menambah jejaring literasi Indonesia. Perwujudan tersebut dapat berupa pembentukan serta keberlangsungan sebuah komunitas literasi. Sebagai salah satu poros literasi selain literasi keluarga dan literasi sekolah, literasi yang dijalankan komunitas ini akan menjadi faktor pemenuhan kebutuhan literasi masyarakat. Keberlangsungan komunitas literasi ini juga akan membantu dalam menagkis hoax atau berita bohong yang menjadi penyakit sosial yang akut.

Perkembangan arus teknologi Indonesia yang memasuki  masa revolusi Industri 4.0 juga menjadikan literasi sebagai penunjang kemampuan mengolah informasi yang benar. Sebagai negara dengan pengguna gawai sebanyak 371,4 Juta unit yang tersebar pada penduduk sekitar 262 Juta jiwa mengasumsikan bahwa rata-rata penduduk Indonesia memakai 1- 4 unit gawai setiap orang dengan 2-3 kartu telepon. Hal ini bermuara pada masifnya konsumsi bacaan masyarakat pada gawai dibandingkan dengan buku.

Keseimbangan pembacaan pada sumber-sumber terpercaya seperti buku harus ditumbuhkembangkan dalam masyarakat kita. Sepanjang tahun 2017 Indonesia hanya mencatatkan angka 59.400 judul buku berdasarkan pengajuan ISBN pada perpustakaan nasional RI. Angka ini jika dibandingkan dengan penggunaan gawai tentu sangat jauh berbeda. Sehingga, pentingnya pembentukan komunitas literasi sudah mencapai titik darurat.

Berikut ini adalah pilar-pilar pembentukan sebuah komunitas literasi berdasarkan seminar literasi dengan tema “menggiatkan minat membaca dan menulis masyarakat di era digital” yang disampaikan oleh pegiat literasi nasional Gola Gong yang bertempat di Grand Hotel Jambi beberapa waktu yang lalu. Gola Gong dalam penyampaiannya memiliki konsep 7 pilar komunitas literasi yang sudah ia terapkan di komunitasnya, Rumah Dunia di Serang, Banten yang dapat kita pelajari dalam mendirikan sebuah komunitas literasi. Pilar-pilar tersebut meliputi :

1. Base Camp

Merupakan tempat untuk berkumpul dalam rangka merumuskan serta mengevaluasi segala bentuk kegaiatan yang dibuat oleh sebuah komunitas literasi.

2. Sumber daya manusia

Adalah orang-orang yang memiliki kesamaan visi untuk mengembangkan komunitas serta mereka yang peduli akan pentingkah pengembangan literasi masyarakat.

3. Program

Program dalam sebuah komunitas literasi dapat disesuaikan dengan kemampuan dan sumber daya yang ada. Program tersebut  juga dapat dikombinasikan dengan memperhatikan sasaran. Beberapa bentuk program dalam sebuah komunitas menurut Gola Gong  ialah bedah buku, lapak baca, kompetisi menulis, antologi bersama dan pelatihan kepenulisan berupa essay, novel, puisi, kumcer, memoir, jurnalistik dan lain-lain yang ddirasa perlu.

4. Koleksi buku

Koleksi buku merupakan kebutuhan primer dalam sebuah komunitas, hal ini penting untuk mengembangkan minat anggota komunitas dalam membaca maupun sasaran yang dituju oleh komunitas tersebut. Gola Gongpada saat itu memperlihatkan pada peserta seminar sebuah foto buku di rumah dunia (sebuah base camp miliknya) yang terdapat banyak sekali buku-buku.

5. Dana

Dana dalam komunitas juga menjadi hal yang penting untuk membantu pembelian buku, transportasi, administrasi dan lain-lain.

6. Jejaring

Jejaring diperlukan dalam membentuk sebuah komunitas literasi sebagai sarana bertukar piker antar pegiat dan informasi terkait literasi.

7. Promosi dan publikasi

Hal ini bertujuan untuk mempermudah informasi kepada masyarakat untuk mengakses komunitas literasi tersebut.

Di samping hal-hal di atas, keselarasan gerak antara pemerintah, sekolah dan komunitas literasi merupakan suatu keharusan dalam meningkatkan literasi masyarakat secara keseluruhan untuk kemampuan literasi Indonesia yang lebih tinggi.

Penulis: Novitasari, Ketua Komunitas Berani Menulis Jambi

#News1


kenali.co