Belajar dari Novel Minoel Sebagai Wacana Penyadaran dalam Relasi Pacaran
Sumber Foto: Google

Belajar dari Novel Minoel Sebagai Wacana Penyadaran dalam Relasi Pacaran

Sabtu, 27 April 2019 - 06:16:57 WIB
0 | Kategori: Lifestyle |Dibaca: 194

Kenali.co, Sebuah karya sastra lahir dari realitas sosial masyarakat, ia ada untuk merekam berbagai kejadian yang diramu oleh pengarang dengan bahasa yang segar dan menggugah. Dalam ranah akademik kita dapat mengambil pelajaran dan menambah pengetahuan dengan membacanya. Salah satu bentuk karya sastra yang gandrung oleh masyarakat adalah novel. Di Indonesia sendiri, novel terus berkembang dan menjelma berbagai macam genre.

Salah satu genre yang cukup menjadi perhatian adalah teenlit atau remaja. Genre ini menjadi cukup menarik karena menjadi salah satu genre khusus yang membahas tentang kehidupan dan seluk beluk tokoh saat remaja. Kondisi psikologis remaja yang rentan dan berada dalam proses mencari jati diri menjadi salah satu tawaran pencerdasan bagi para remaja umumnya. Tak heran, jika di toko buku kita menemukan barisan genre buku ini berderet dengan buku yang sejajar dengannya.

Sebut saja novel remaja berjudul Minoel karya Ken terate yang terbit pada Mei 2015. Novel  ini  memiliki ketebalan sekitar 272 halaman dengan proses penceritaan berdasarkan riset dan wawancara yang cukup matang dengan menyajikan kondisi psikologis dan mental yang kuat dengan studi kasus yang banyak terjadi di kalangan remaja. Relasi pacaran yang akrab di kalangan remaja seringkali melahirkan kondisi yang mengenaskan seperti kekerasan dalam pacaran. Salah satu pihak biasanya dirugikan karena perbuatan tersebut diasumsikan sebagai bentuk “cinta” meskipun tanpa dasar yang jelas. Hal inilah yang kemudian dihadirkan dalam novel ini.

Novel Minoel menceritakan tentang kehidupan seorang remaja yang akrab disapa Minoel. Ia hidup di sebuah desa terpencil, dengan kondisi keluarga yang serba kekurangan. Fokus cerita pada saat ia menginjak Sekolah Menengah Atas. Ia akrab bersama dua orang temannya bernama lilis dan Yola,  ia merasa malu karena diantara teman-temannya  hanya ia belum punya pacar. Di tengah-tengah kekalutan nya muncul lah seorang lelaki bernama akang. Lambat laun mereka pun pacaran. Dalam perjalanannya, Akang menjelma lelaki bertingkah  kasar dan semena-mena. Awal nya Minoel berbesar hati dengan tindakan akang ini, ia mengira inilah ujian cinta nya, karena akang mau menerima nya yang serba kekurangan, miskin, bodoh dan cacat. Yola dan Lilis terus mengingatkan Minoel bahwa akang tidak baik untuk nya, namun minoel terus mengabaikan dan tetap menganggap cinta Akang tulus. Sampai diakhir cerita Minoel mendapatkan perlakuan  percobaan pemerkosaan. Akibat kejadian itu, Minoel jadi terganggu secara mental dan psikis.

Secara umum cerita di dalam novel tersebut menyajikan wacana penyadaran dalam relasi pacaran berupa hubungan kekerasan dalam pacaran. Dalam hal ini, minoel sebagai korban tidak menyadari bahwa ia hanya menjadi objek pemuasan nafsu oleh akang. Hal itu dibuktikan dengan kutipan” Aku..yah..aku, takut dia benar-benar cari cewek lain. Tapi masalah nya aku gak bisa nurutin semua yang dia mau karena, yah mesklipun itu wajar. tapi bagi ku itu tidak wajar.” Kutipan tersebut menunjukkan ketakberdayaan minoel dalam hubungannya bersama akang. Fenomena budaya pacaran pada remaja yang merasa bahwa itu adalah sebuah kewajaran namun hal itu lantas merugikan salah satu pihak. Bukan hanya perempuan, laki-laki juga kerap menjadi korban atau yang biasa dikenal dengan nama bucin (budak cinta)

Tidak adanya batasan yang jelas dalam pacaran seringkali menjerumuskan keduanya pada hal-hal yang tidak rasional. Novel ini  memberikan pengalaman dan refleksi kepada pembaca tentang relasi pacaran yang berimplikasi pada kejahatan kemanusiaan. Jika ditarik pada kasus yang sedang booming beberapa saat yang lalu, kasus Audrey seorang remaja SMP di Pontianak juga mengarah kepada hal yang sama. Audrey bukanlah korban yang menjadi tujuan utama, tetapi ia hanya perantara antara pelaku dengan seorang laki-laki yang merupakan sepupunya. Kasus yang masih memiliki kekaburan fakta ini menjadi pembelajaran bersama bahwa relasi pacaran dapat menyebabkan hal-hal yang mengerikan.

Penulis: Novita Sari

#News1


kenali.co