Studi Tokoh; Mohammad Hatta
Mohammad Hatta, Sumber foto: instagram.com

Studi Tokoh; Mohammad Hatta

Selasa, 23 April 2019 - 05:56:31 WIB
0 | Kategori: Lifestyle |Dibaca: 156

Kenali.co, Membaca kisah Moh. Hatta memang akan selalu menarik. Sebagai salah satu tokoh perjuangan bangsa, kepribadian yang ia miliki dalam perjuangan dan pendidikan yang perlu diteladani. Ciri khasnya sebagai orang Sumatra yang menjadi salah satu orang penting di republik ini menjadi nilai jual pada sisi yang lain. Jika kita melihat, pada saat memutakhirkan ini belum lagi ada tokoh Sumatra yang menepati tempat yang sama seperti dia.

Meski tidak dikenal sebagai orang yang menggetarkan saat berorasi, Moh. Hatta adalah orang yang menggelegar dalam tulisan. Koleksi buku pribadi yang mencapai ratusan ribu dengan gambar diri sebagai orang yang serius dan jarang membuat gambarnya yang menarik dan menarik perhatian. Apa yang membuat Hatta lebih baik mampu mendampingi Sukarno memimpin Indonesia pasca kemerdekaan barangkali terpatri dalam pikiran kita. Berikut ini Fakta-Fakta menarik tentang pribadi Moh. Hatta yang akan menjawab pertanyaan tersebut, mengutip melalui buku Hatta: Jejak yang melampaui zaman   seri buku saku tempo.

Fakta yang pertama adalah Hatta adalah anak yang lahir dari keluarga priyayi dan saudagar, menang pada 12 Agustus 1902 di Desa Aur Tajungkang, Bukittinggi. Ia dilahirkan sebagai buah kasih dari pasangan Saleha dan Mohammad Djamil. Sejak kecil ia sudah berguru pada seorang pemuka agama bernama Syekh Mohammad Djamil Djambek yang merupakan pakar ilmu falak dari Mekah. Ia belajar di surau yang tak jauh dari rumah. Di surau ini pulalah Hatta khatam baca Al-Quran.

Kepribadian Mohammad Hatta sebagai orang yang dikenal dengan sosok yang serius, jarang ketawa, dan berkacamata tebal membuatnya sering dianggap kolot oleh teman-teman. Pernah suatu kompilasi, seorang kawan mengerjainya dengan menempatkan Hatta bersama seorang gadis cantik dan seksi di dalam taksi, alih-alih memanfaatkan peluang, Hatta malah tertidur pulas di sudut kanan dan gadis tersebut disudut kiri. Bahkan malah saling sapa.

Meskipun demikian, romantisme Hatta tidak dapat diragukan. Menikah dengan Rahmi yang memiliki selisih yang cukup jauh lebih tinggi dari perjodohan rekan karibnya Sukarno, Hatta menikahi Rahmi dengan mas kawin buku tebal karangannya sendiri berjudul "alam piker yunani" yang juga sendiri menentang Hatta soal ini. Pernikahannya pun berlangsung setelah kemerdekaan RI, dalam hal ini Hatta memang pernah bersumpah untuk tidak menikah sebelum perjuangan kemerdekaan berhasil digapai.

Ada anekdot yang muncul tentang hubungan Hatta dan buku. Sebagai orang yang memiliki banyak koleksi buku, Hatta memang sangat menyayangi buku-buku nya. Ia bahkan akan samgat marah jika ada yang mengeluarkan bukunya dan dikembalikan dengan rusak dan terlipat. Sebaliknya, anekdot yang muncul adalah istri pertama Hatta adalah buku, istri kedua adalah buku, dan istri ketiga barulah Rahmi.

Fakta selanjutnya adalah Hatta yang selalu dibahas secara cepat. Untuk hal ini, ia memperoleh pendidikan dan kebiasaan sejak kecil. Dua bulan menjalankan tugas dengan menyelesaikan di tanah kelahirannya, Hatta selalu menyempatkan untuk berjalan menuju surau saat shalat subuh setiap hari, saat perjalanan pulang ia akan menyapa warga sekitar serta memberi teguran pada rumah warga yang dimaksud dengan sampah. Begitu pula saat ia diasingkan ke Digul, Hatta menjadi waktu penentu bagi para petani saat ia melakukan perjalanan mengunjungi kebun-kebun setiap sakit. Jika melihat Hatta lewat, orang-orang akan segera bersiap-siap untuk pergi ke kebun sebab itu berarti waktu telah disetujui untuk melepaskan lima sakit.

Dalam kehidupan politik, Hatta mengkritik ulung. Ia memiliki pemikiran tentang koperasi sebagai jalan keluar kesulitan bagi masyarakat. Ia juga aktif mengirimkan tulisan-tulisannya yang berisi kritik terhadap keputusan Sukarno yang ingin menerapkan sistem satu partai. Moh. Hatta memiliki pandangan tentang negara Indonesia memiliki hak untuk menerapkan sistem multi partai sebagai dasar yang mendukung sistem demokrasi.

Meski tulisannya pernah diterbitkan untuk diterbitkan, Hatta tak pernah gentar. Ia menjadi sahabat sekaligus pegkritik terhadap kebijakan Sukarno yang ia anggap sudah sesuai dengan cita-cita awal perjuangannya. Ia memutuskan untuk mundur sebagai pasangan politik Sukarno saat presiden ini telah melampaui batas. Meski demikian, Hatta tetaplah sahabat yang baik. Ketika anak laki-laki Sukarno meminta menikah sedang diundang tak bisa menjadi wali, Sukarno meminta Hatta yang menjadi wali untuk pernikahan hasil tersebut. Benar saja, Hatta langsung mengiyakan.

Saat-saat Sukarno terbaring di rumah sakit, Hatta menyambanginya dengan sepenuh hati. Tak terlihat ada dendam terhadap rekannya itu. Meski banyak bicara, mereka suka berbicara dalam hati. Hatta hanya mengatakan "bagaimana kabarmu No?" Lalu mereka tenggelam dalam haru. Beberapa hari setelah itu, Sukarno wafat. Di masa-masa akhir kehidupannya, setelah memutuskan mundur dari jabatannya, Hatta dan keluarga harus melewati masa-masa pelik, uang pensiunannya tidak cukup untuk kehidupan sehari-hari. ia tidak dapat diizinkan untuk keluar dari negeri, mengajar di UGM dan rumah tak boleh menjadi tujuan para tokoh yang datang dari luar negeri. Bahkan, akhirnya ia membeli sepatu yang ia idamkan.

Itulah Fakta-Fakta menarik tentang salah satu tokoh penting yang ikut memperjuangakan kemerdekaan Indonesia. Meski demikian belum ada, belum keteladanan dan kecintaannya pada negara Indonesia dan pengetahuan akan selalu menjadi goresan tinta yang tak pernah lekang oleh zaman.

*) Penulis merupakan mahasiswa sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

#News1


kenali.co