Refleksi 21 Tahun KAMMI: Bidang Perempuan sebagai Inkubator Pergerakan
Oleh: Novita Sari

Refleksi 21 Tahun KAMMI: Bidang Perempuan sebagai Inkubator Pergerakan

Sabtu, 30 Maret 2019 - 06:02:00 WIB
0 | Kategori: Kolom |Dibaca: 300

Kenali.co, Jumat 29 Maret 2019 bertepatan dengan pengulangan momentum sejarah pergerakan mahasiswa, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia ke 21 tahun. Sebagai bagian yang tak terpisahkan dari sejarah panjang pergerakan di Indonesia, organisasi ini memiliki daya tawar yang cukup baik. Selain sebagai wadah mahasiswa muslim dalam kerangka kesadaran yang menunjukkan resistensi pada rezim yang tidak bersahabat pada masa pergolakan dahulu, organisasi ini juga menjadi jawaban atas kebutaan arah dalam menghadapi lika-liku perjuangan mahasiswa muslim yang memiliki potensi cukup besar.

Sejak kelahirannya pada 29 Maret 1998 melalui sebuah momentum besar FSLDK (forum silaturrahmi lembaga dakwah kampus) ke X di Universitas Muhammadiyah Malang, KAMMI menjadi sebuah alternatif kekuatan mahasiswa muslim. Para cendekiawan KAMMI sejak kemunculannya telah tersebar ke seluruh pelosok negeri dengan berbagai profesi. Sebagai organisasi yang cukup matang, ia memiliki sejumlah struktur lengkap dari jajaran pusat hingga komisariat.

Organisasi ini pun memiliki wadah khusus yang menaungi perempuan sebagai ijtihad untuk menyebarkan sayap guna menyentuh bagian-bagian yang cukup penting dalam masyarakat. Sebagai negara dengan jumlah populasi perempuan cukup banyak, Indonesia pun memiliki beragam permasalahan tentang perempuan. Tak ingin tertinggal dengan pergerakan perempuan di kancah internasional maupun nasional yang bersumber dari organisasi lain, bidang perempuan kammi atau biasa disebut Badan Pemberdayaan Perempuan perlu membentuk diri sesuai karakter zaman.

Berbicara tentang gerakan perempuan dalam negeri, kita tentu tidak dapat menutup mata dengan gerakan perempuan (feminisme) yang telah lebih dahulu bergulir di luar negeri. Dimulai pada abad ke XIX R.A. Kartini sebagai pelopor perjuangan perempuan telah berhasil membuka mata perempuan Indonesia yang kemudian disusul oleh kemunculan generasi berikutnya seperti Dewi Sartika, Rohana Kudus, Cut Nyak Dien, Cut Meuthia serta Martha Christina Tiahahu dalam sejarah pergerakan perempuan yang ada.

Jumlah mahasiswi muslim yang cenderung lebih banyak dibanding mahasiswa laki-laki di perguruan tinggi memiliki potensi cukup besar dalam hal pergerakan. Potensi ini harus senantiasa diberikan wadah yang sesuai agar tidak hanya menjadi kekuatan masa tanpa pengembangan kapasitas intelektual setiap individunya. Diluar permasalahan yang mengakibatkan ketaksepahaman dalam mengartikan pergerakan perempuan sebagai gerakan kesetaraan gender sesuai dengan apa yang diperjuangkan oleh para pemikir feminis, maka bidang perempuan KAMMI harus memiliki plat form berfikir sendiri yang berlaku jangka panjang sebagai arah dan tujuan gerakan.

Mengacu pada nama, badan pemberdayaan perempuan merupakan inti dari isu lama yang telah dilaksanakan lebih dari dua dasawarsa. Hasilnya dapat dilihat pada peningkatan peran dan kedudukan perempuan di berbagai bidang kehidupan. Hal ini bermuara pada upaya kemampuan perempuan untuk memperoleh akses dan kontrol terhadap sumber daya, ekonomi, politik, dan sosial budaya agar perempuan dapat mengatur diri dan meningkatkan rasa percaya diri untuk mampu berperan dan berpartisipasi aktif dalam memecahkan masalah sehingga mampu membangun kemampuan dan konsep diri.

Meski cukup berhasil, pergerakan perempuan yang ada masih perlu merevolusi diri sebab permasalahan perempuan saat ini menjadi makin kompleks. Bidang perempuan KAMMI perlu benar-benar memetakan tujuan jangka panjang yang komprehensif dengan tawaran gerakan kekinian dan menyesuaikan dengan karakter humanisme yang ada hari ini. Gerakan yang sifatnya supporting system harus dikesampingkan, ia harus bergerak dengan tujuan sendiri namun tidak membelot dari tujuan KAMMI secara utuh yakni sebagai wadah perjuangan permanen yang akan melahirkan kader-kader pemimpin dalam upaya mewujudkan bangsa dan negara Indonesia yang islami.

Dengan menetapkan bidang perempuan sebagai inkubator pergerakan yaitu ruang khusus untuk menempa kapasitas  kader akan lahir aktivis perempuan militan yang memiliki arah pandangan dan tujuan yang jauh kedepan guna meretas permasalahan perempuan yang ada. Inkubator ini harus disusun sedemikian rupa dengan polesan yang ciamik. Terlebih pada masa revolusi industri 4.0 yang meniscayakan penggunaan internet dan media lebih masif pada saat ini, bidang perempuan juga harus menampilkan wajah dan mengisi ruang-ruang yang kini setiap hari diakses oleh orang banyak. Tawaran ini kemudian menjadi sebuah konklusi dari kontruksi berfikir yang cukup tepat untuk dimainkan oleh para pemuda khususnya mereka yang bergiat di bidang perempuan.

Meski banyak bidang perempuan serupa sebagai bentuk perpanjangan tangan pemerintah, namun kita dapat menyadari bahwa hal itu belum cukup menyentuh permasalahan perempuan yang ada. Data yang dikeluarkan oleh save our sister Jambi beberapa waktu lalu menyebutkan masih banyak terjadi tindakan kekerasan seksual di berbagai kampus di Provinsi Jambi yang didominasi oleh teman sebaya, dosen, dan relasi pacaran yang memberikan arti bahwa masih banyak tugas di bidang perempuan dalam skala kecil untuk mencerdaskan sesama mereka. Meski bukan hanya tanggung jawab mereka, namun kekuatan organisasi bidang perempuan apapun itu haruslah selaras dan menjawab tantangan zaman.

Sebagai konklusi, penulis mengucapkan selamat ulang tahun wadah perjuangan. Tetaplah menjadi ruang alternatif penyampaian gagasan kritis, independent dan bermartabat sebagai perpanjangan tangan dari harapan dan cita-cita bangsa untuk kemerdekaan yang sesungguhnya.

*) Penulis adalah Kader KAMMI Daerah Kota Jambi

#News1


kenali.co