Sampah, Perlu Gerakan Revolusioner
*Ilustrasi
Oleh: Ulia Niati

Sampah, Perlu Gerakan Revolusioner

Jumat, 22 Februari 2019 - 06:01:21 WIB
0 | Kategori: Kolom |Dibaca: 209

Kenali.co, Tahun terus berganti, namun permasalahan sampah tak kunjung usai. Pencemaran lingkungan kian meningkat dengan bertambahnya volume sampah di pinggir jalan. Manusia yang seharusnya bisa menghirup udara  bersih dan segar, tapi malah sebaliknya udara yang dihirup tak lagi bersih bahkan jauh dari kata sehat. Masalah sampah ini memang bukan hanya masalah di Jambi saja, bahkan Indonesia pun mendapat gelar sebagai negara kedua penyumbang sampah terbesar di dunia setelah Tiongkok.

Plastik sekali pakai menjadi problem utama penyumbang terbesarnya. Plastik sekali pakai seperti kantong plastik untuk pembelanjaan, sedotan, gelas plastik, botol, kemasan jajanan dan peralatan makan. Permasalahan ini tentu menjadi hal yang amat genting, kenapa? Karena hal ini tidak pernah usai tidak kadaluarsa meskipun tahun silih berganti.

Kondisi di Jambi sendiri pada tahun 2017 dilasir oleh tribunjambi.com bahwa volume sampah perhari capai 1500 kubik dan volume sampah di Kota Jambi naik 7%. Sampai saat ini volume sampah di Kota Jambi rata-rata 1.574 kubik setiap hari. Namun sampah yang dikelola atau diangkut ke pembuangan sampah akhir Talang Gulo, Kotabaru, Kota Jambi hanya rata-rata 173 kubik atau sekitar 11%. Sekitar 1.401 kubik sampah sampah di kota itu menumpuk di tempat pembuangan sampah sementara setiap hari, ujar Kabid DLH Kota Jambi (10/12/2018, Beritasatu.com)

Berdasarkan laman media Kompas dari data Sciencemag memperlihatkan bahwa jumlah produksi sampah plastik secara global sejak tahun 1950-2015 selalu menunjukkan peningkatan. Pada tahun 1950 sebanyak 2 juta ton pertahun setelah 65 tahun setelah itu pada tahun 2015 meningkat menjadi 381 juta ton pertahun. Tentunya angka tersebut meningkat lebih 190 kali lipat, rata-rata peningkatan sebesar 5.8 ton pertahun. Bagaimana dengan tahun ini? Kemungkinan besar tetap konsisten dalam peningkatan.

Seperti yang kita ketahui plastik tidak dapat terurai jika ada yang terurai ia membutuhkan waktu yang lama. Namun hal tersebut  tentunya tidak semua  masyarakat sadar akan hal ini. Jika dibiarkan kerusakan lingkungan akan semakin memburuk dan dapat membuat aroma busuk sangat menyengat hingga dapat terjadi banjir maupun dapat menimbulkan penyakit tentunya.

Masih ingat kejadian di bulan November tahun lalu? Di mana terdapat seekor paus sperma ditemukan mati terdampar di perairan pulau Kapota, Wakatobi - Sulawesi Tenggara? kejadian tersebut nyatanya membuat geger dunia. Kenapa? Karena di dalam perut bangkai paus tersebut terdapat 5.9 Kg sampah plastik. Sadar atau tidak kemungkinan besar ikan-ikan yang berada di sungai yang airnya tercemar oleh sampah jika ikan yang disungai tersebut dikonsumsi dapat menyebabkan penyakit bagi tubuh manusia yang memakan ikan dari sungai tersebut.  Mungkin tidak terasa secara langsung namun akan meracuni tubuh perlahan-lahan. Jika melihat hal ini dapat dikatakan ternyata sampah ini bukan hanya permasalahan manusia semata namun juga menjadi permasalahan makhluk hidup baik itu hewan maupun tumbuhan dan ini suatu perbuatan yang zholim.

Tidak asing bagi kita mendengar “Buanglah sampah pada tempatnya” atau “Jangan membuang sampah sembarangan” bahkan dari sekolah dasar hal tersebut sudah diajarkan. Lalu kenapa masih tetap saja ada yang membuang sampah sembarangan? Tentu menjadi PR bagi kita mencari solusi hal tersebut.

Kemungkinan pemicu pertama seseorang membuang sampah sembarangan mungkin saja tidak tersedianya tempat pembuangan sampah yang seharusnya, sehingga tidak ada pilihan dengan lempar sana lempar sini. Kedua atau dapat kita katakan ini adalah problem utamanya. Apa itu? Ya, Problem pemikiran alias kesadaran. Kesadaran akan peduli lingkungan, kesadaran akan nilai hidup, dan apalagi kehidupan saat ini yang jauh dari nilai Islam. Sehingga permasalah sampah ini tidak memunculkan kesadaran kepada individu kita, maka kita akan biasa saja membuang sampah sembarangan selama  tidak dirugikan. Miris !!!

Selanjutnya gaya hidup kita didesain untuk mengkonsumsi makanan siap saji yang rata-rata  dalam kemasan plastik, problem ini dapat kita katakan sebagai problem sistem kapitalis sekuler yang justru memproduksi gaya hidup tersebut. Dimana menyampaikan dan menghasilkan sampah yg membludak dan berbahaya serta ketidakmampuan mengurai dan menyelesaikannya secara bersamaan.

Konflik sampah salah satunya terjadi di Jambi ini merupakan wujud dari kegagalan sistem  di negeri ini. Kenapa karena sistemnya tidak terikat. maksudnya seperti apa? Seperti masih saja ditemui ketidak saling berhubungan seperti terjadi konflik di perbatasan mengenai sampah  seperti yang terjadi di kawasan perbatasan Kota Jambi dan Muaro Jambi tidak ada yang ingin bertanggung jawab mengenai hal tersebut.

Hal ini disebabkan negara abai pada peran edukasi, advokasi  dan penegakan hukum secara tegas terhadap permaslahan tersebut. Bahkan masyarakat. para akademisi dan negara saat ini hanya memberikan solusi parsial semata serta tidak terintegrasi yang hanya berjalan sendiri-sendiri. sehingga meskipun diupayakan hal tersebut tidak akan pernah terwujud dengan sistem hari ini. Maka Semestinya, hanya gerak revolusioner saja yg bisa menyelesaikan problematika umat termasuk sampah.

*Penulis adalah Anggota Komunitas Mahasiswi Menulis Jambi

#News1


kenali.co