Bagaimana Kita Memandang Orang Gondrong?
Sumber foto : Instagram/gondrong
Oleh: Novita Sari

Bagaimana Kita Memandang Orang Gondrong?

Minggu, 27 Januari 2019 - 06:58:44 WIB
0 | Kategori: Kolom |Dibaca: 323

Kenali.co, Sebagai salah satu mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya yang setiap hari menyetujui orang-orang yang unik dan berbeda seperti mahasiswa, Ada banyak hal yang dikemukakan pada khalayak sebagai bentuk pengetahuan bersama. Kali ini penulis akan memberikan pandangan tentang laki-laki dan perempuan yang banyak berkeliaran di fakultas saya dengan sistem. Paradigma yang acap kali merundung laki-laki yang senang memanjangkan rambut ini berbeda dengan laki-laki pada umumnya. Ada yang suka namun ada pula yang tidak. Hal ini tentu menarik untuk dipahami.

Dikutip melalui artikel di Qureta.com yang menyebutkan dalam kesehariannya, ada dua jenis orang berambut gondrong. Tipe yang pertama adalah mereka yang gondrong tanpa alasan (ikut-ikutan) sedangkan yang kedua adalah mereka yang gondrong beralasan. Kita tidak membahas hal ini lebih dalam. Namun demikian, kita akan masuk pada dimensi. Mengenai orang-laki-laki di perspektif orang-orang yang dikelilingi lingkungan dengan penelitian di sekitar kampus Universitas Jambi.

Jika biasanya orang-orang gondrong akrab dengan stigma negatif yang akrab dengan teman-teman dukun, memenangkan dan orang gila, lalu bagaimana jika orang gondrong tersebut berasal dari akademisi? Masihkah stigma negatif itu melekat pada mereka? Berikut investigasi yang dilakukan pada beberapa mahasiswa mengenai hal ini.

Penelusuran pertama dilakukan pada mereka yang cenderung tidak setuju dengan laki-laki berambut gondrong. Hasil yang didapat menurut beberapa narasumber, laki-laki gondrong dinilai tidak rapi, nyentrik dan urakan. Kepada Kenali.co seorang mahasiswa bernama Muhammad Halim, seorang mahasiswa semester delapan program studi pendidikan kewarganegaraan fakultas FKIP mengatakan ketika melihat laki-laki yang berambut gondrong Ia merasa bahwa tampilannya tidak rapi. “Ya, dak rapi bae gitu liat nya,” ungkap beliau saat disambangi di sela-sela kesibukannya di sekre Bem Unja.

Sebaliknya, pandangan terhadap orang gondrong lewat mereka yang cenderung suka dengan tampilan tersebut. Mereka cenderung mengatakan bahwa orang gondrong memiliki kesan yang misterius, klasik dan  terlihat lebih tampan. Dewi Pratiwi mahasiswa program studi pendidikan bahasa arab melalui wawancara mengatakan bahwa seorang laki-laki berambut gondrong adalah orang yang tampan, mereka juga memiliki rambut yang indah dan teratur. “Aura seni yang kuat dan kegantengan yang tidak dimiliki oleh semua lelaki. Kadang membuat saya terpikat,” ungkap perempuan itu saat ditemui di rumahnya pada (25/01/19) kemarin.

Selain itu, ada poros ketiga yaitu mereka yang melihat orang gondrong dengan pandangan biasa-biasa saja. Menurut kalangan ini, tidak ada yang aneh dan berlebihan dari gondrong laki-laki. Mereka memandangnya sebagai fenomena yang biasa. Hal ini diwakili oleh salah satu mahasiswa fakultas kehutanan bernama singgih. Dalam wawancara dia mengatakan "biaso bae" mengungkapkannya kepada Kenali.co.

Pada dasarnya, setiap orang berhak untuk menentukan gaya dan penampilan masing-masing. Apa yang penulis lakukan hanya menjadi rangsangan yang akan selalu ada yang menentang dan menyukai apa pun yang bisa kita buat. Yang penting dalam hal ini adalah kita dapat bijak dalam menilai sesuatu. Sebuah pepatah bahkan mengatakan "Jangan buku hanya dari sampulnya," begitu juga pada orang-orang gondrong. Tidak semua dari mereka berkelakuan buruk. Perlu melakukan proses untuk dapat menilai lebih lanjut. Terbukti laki-laki gondrong bukan hanya mereka yang memandang buruk, malah mahasiswa, musisi, budayawan, dan priyayi juga ada yang suka gondrong. Karena pada dasarnya tampilan adalah indikator yang membandingkan esensi dari sikap asli pemiliknya.

*) Penulis adalah mahasiswa aktif Universitas Jambi, 2019.

#News1


kenali.co