Launching Study Pelecehan pada Mahasiswa; Kampus Tidak Aman
Siti Saira saat membaca puisi pada pembukaan konferensi pers.
Oleh: Novita Sari

Launching Study Pelecehan pada Mahasiswa; Kampus Tidak Aman

Sabtu, 12 Januari 2019 - 06:00:34 WIB
0 | Kategori: Kolom |Dibaca: 112

Kenali.co, Rabu, 9 Januari 2019. Bertempat di aula himpunan mahasiswa ilmu pemerintahan (HIMIP) STISIP Nurdin Hamzah kota Jambi, dilangsungkan acara konferensi pers launching hasil study pelecehan seksual pada mahasiswa. Kegiatan ini diinisiasi oleh Beranda Perempuan yang bekerja sama dengan beberapa organisasi seperti Gerakan Pemberdayaan Perempuan (Gerdapuan) BEM KBM UNJA, Seruni, Save Our Sister dan Stisip NH.

Acara tersebut dibuka dengan pembacaan puisi oleh Siti Saira sebagai perwakilan dari Siginjai Kammi. Ida Zubaidah, direktur Beranda Perempuan dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menyadarkan sekaligus menghindarkan mahasiswa dari berbagai macam bentuk pelecehan seksual baik verbal maupun non verbal. Hasil study ini merupakan puncak dari riset penyebaran sejumlah kuisioner yang dilakukan di 4 kampus di provinsi Jambi yaitu Universitas Jambi, Unbari, UIN Sultan Thaha dan STISIP NH Jambi dengan metodologi survei dan teknik sampel random.

Konferensi itu dilakukan dengan 3 macam penyampaian. Penyampaian yang pertama disampaikan oleh Desy Riski yang menyampaikan tentang pelecehan dan kekerasan seksual dalam relasi pacaran dan pertemanan laki-laki berupa chat, gambar pesan berorientasi seks dan intimidasi. Kemudian dilanjutkan oleh penyampaikan Bernadeta mengenai pelecehan dan kekerasan seksual dosen pada mahasiswa lalu penyampaian terakhir oleh Zerfina Yenti M.ag selaku ketua pusat study gender UIN mengenai dinamika kampus dan pelecehan seksual.

Berdasarkan konferensi pers tersebut, angka pelecehan seksual yang dilakukan oleh relasi teman laki-laki menduduki angka tertinggi yakni sebesar 73,21%, kemudian disusul oleh angka pelecehan yang dilakukan dalam pacaran sebesar 23,18% serta dosen sebesar 3,60%. Ada berbagai macam penyebab tingginya angka pelecehan dan kekerasan terhadap mahasiswa diantaranya :

1. Budaya patriarkal
2. Konsekuensi pacaran
3. Kemudahan berselancar untuk mengakses konten kegatif serta
4. Kebutuhan biologis

Namun sayangnya, kampus sebagai institusi tertinggi tidak memiliki SOP (Standar Operasional Prosedur) maupun mekanisme pelaporan yang jelas mengenai mahasiswa yang mengalami pelecehan dan kekerasan seksual. Alih-alih menerapkan konsekuensi tegas, kampus seolah tak mau dipusingkan karena berhubungan dengan pencitraan di mata publik. Meski penelitian ini dilakukan dengan objek perempuan, namun menurut salah satu narasumber tidak menutup kemungkinan jika laki-laki juga mengalami nya.

Tempat yag disinyalir rentan terhadap aksi tak senonoh ini adalah ruang dosen dan ruang belajar. Kondisi ini juga diperparah dengan fasilitas kampus yang kurang memadai seperti cctv, toilet yang pisah antara laki-laki dan perempuan serta penerangan yang memadai. Hasil penelitian ini juga menyebutkan bahwa angka tersebut hadir akibat kegagalan pemahaman dalam menempatkan diri dalam relasi pacaran. Perwujudannya berupa tidak nya ada batas tegas antara laki-laki dan perempuan, kebanyakan korban tidak merasa dilecehkan, mudah memaafkan, hubungan seks adalah hubungan kasih sayang serta seks sebagai ukuran kesetiaan.

Secara umum, responden menyatakan bahwa 71,2% kampus tidak aman untuk mahasiswa. Sehingga diakhir konferensi banyak masukan untuk keberlanjutan agar angka ini tidak bertambah. Rekomendasi itu berupa edukasi bentuk dan dampak pelecehan seksual, dorongan kesadaran intelektual kolektif akademisi serta peningkatan pelayanan dan sistem di kampus melalui pusat study gender masing-masing.

*) Penulis merupakan Menteri Gerdapuan BEM KBM UNJA

#News1


kenali.co