Merawat Kewarasan Dalam Pilpres 2019
Image Source: BBC News
Oleh: Novita Sari

Merawat Kewarasan Dalam Pilpres 2019

Senin, 07 Januari 2019 - 06:14:35 WIB
0 | Kategori: Kolom |Dibaca: 80

Kenali.co, Di tahun 2019, sebuah perhelatan besar bagi bangsa Indonesia sudah ada di depan mata. Pada bulan April nanti kita akan bersama-sama menentukan siapa yang berhak menjadi kepala Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ada beberapa catatan tentang pemilihan presiden tahun ini. Sebagai warga negara yang baik, saya ikut memperhatikan berbagai macam pergolakan yang ada.

Tidak sulit untuk dianalisis, sebab Indonesia sebagai negara yang masuk urutan 5 pengguna internet di dunia dengan 54,68% pengguna internet, dapat dengan mudah diakses oleh para pencari kepentingannya. Dengan mengotak-atik media sosial seperti Facebook, Instagram, twitter dan rekan-rekannya Anda akan dengan mudah menemukan informasi yang terkait dengan paslon pada pilpres tahun ini.

Sudah bukan rahasia karena ada 2 paslon dalam perhelatan ini, disinyalir menyebabkan perpecahan masyarakat. Sebut saja kubu cebong dan kampret. Aksi saling adu argumen dan saling pamer paslon yang lebih baik pun tak terelakkan. Mulai dari sindiran pada Jokowi yang hanya gencar di akhir dengan mengirim perwakilan ke kampus, kunjungan tak terduga, saham Freeport yang dipindahkan ke Indonesia yang diperoleh dengan berhutang sampai ke Yinyiran, pelajari Prabowo sebagai antek Soeharto dan tanya sandiaga yang kontradiktif.

Tak khayal, berbagai macam media pun menunjukkan keberpihakan nya. Publik dibuat muak dengan beragam berita yang seakan-akan di-besarkan untuk dijatuhkan atau dicitrakan. Kewarasan para pengikut dan saingan pun dipertanyakan, mereka dengan mudah akan menshare berita (tipuan) yang dianggapnya menguntungkan untuk paslon yang ia pilih. Meski tidak tahu apakah berita ini benar atau tidak. Sebenarnya, orang memang akan niscaya memihak. Laras Sekarasih P.Hd seorang psikolog media Universitas Indonesia mengatakan bahwa orang lebih mempercayai informasi jika sesuai dengan pendapat atau sikap yang ia miliki.

Namun demikian, ada pilihan lain untuk Anda yang muak dengan beragam konten disinformasi tentang kedua kandidat dalam pilpres 2019. Sebut saja pasangan fiktif yang tiba-tiba muncul melalui jalur prestasi dengan nomor urut 10, Nurhadi-Aldo atau disingkat Dildo. Nurhadi sebagai calon presiden dari kudus, jawa tengah. Berprofesi sebagai tukang pijat relaksasi dan perawatan. Melalui wawancara yang dikutip melalui youtube, dia menerangkan orang pertama kali menginisiasi adalah teman facebooknya yang bernama Edwin yang berasal dari Sleman Yogyakarta.

berbagai Kutipan dan video serta foto Nurhadi-Aldo di berbagai akun media sosial membuat para pembaca terpingkal-pingkal. Akun instagramnya saja, sejak Desember 2018 lalu sekarang sudah diikuti oleh 180rb pengikut. Beberapa kutipan Nurhadi - Aldo yang banyak dibagikan oleh para netizen seperti:

"Democrazy adalah tempat bersuara bagi orang-orang kaya"

"Ikut masa aksi jangan cuma selfie mahasiswa goblok!"

"Jika Karl Marx memimpikan masyarakat tanpa kelas yang lalu mana kita akan belajar"

Tak hanya itu, Paslon ini juga merekrut berbagai kalangan untuk menentukan menjadi caleg melalui partai pengusungnya. Hal itupun ditanggapi dengan serius oleh para netizen.

Sebut saja sastrawan Indonesia, Agus Noor. Ia bahkan menerbitkan buku kumpulan cerpennya yang berjudul cinta tak pernah sia-sia menjadi Dildo tak pernah sia-sia. Hal itu dapat Anda lihat di postingannya @ Agusnoor. Lain lagi dengan pengarang ternama Phutut EA, ia mengusung putranya Bisma Kalijaga menjadi salah satu caleg.

Ditengah-tengah keriuhan kedua kubu yang setiap hari ada-ada saja kelakuannya, kita tentu perlu merawat kewarasan. Menlike dan menshare atau mentertawai bersama-sama poros ketiga ini dapat menjadi salah satu pilihan.

Bagaimana menurutmu lur?

*) Penulis merupakan mahasiswa aktif Universitas Jambi

 

#News1


kenali.co