Belasungkawa Korban Tsunami Banten, Warning: Ketidakseriusan Dalam Mitigasi
*ilustrasi
Oleh: Ulia Niati

Belasungkawa Korban Tsunami Banten, Warning: Ketidakseriusan Dalam Mitigasi

Rabu, 02 Januari 2019 - 06:11:35 WIB
0 | Kategori: Kolom |Dibaca: 134

Kenali.co, Masih ingat dengan banyaknya musibah yang menimpa bumi pertiwi? Dari mulai pesawat yang jatuh ke dasar laut, lalu gempa bumi yang beruntun di Lombok lalu lanjut ke daerah Palu-Donggala dengan gempa dan tsunaminya, angin puting beliung yang membuat kota Bandung dan yang baru terjadi di akhir tahun tsunami Selat Sunda.

Bencana tsunami menerjang beberapa wilayah pantai di Selat Sunda, di antaranya di pantai di Kabupaten Pandeglang, Serang, dan Lampung Selatan. (Republika.co.id 24/12/2018)

Tentu kejadian demi kejadian tersebut memiliki dampak massal baik itu materi, fisik, bahkan emosi diri menjadi dampaknya. Kejadian demi kejadian tentu kita perlu beriktiar untuk meminimalisir resiko dan dampak kerugian yang akan didapatkan.

Dalam hal ini sering dikenal dengan Mitigasi bencana. Mitigasi bencana merupakan serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana (Pasal 1 ayat 6 PP No 21 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana).

Sudah semestinya hal ini dilakukan untuk meminimalisis resiko yang akan terjadi jika mendapati musibah meskipun kita sadari bahwa musibah sudah menjadi ketetapan Allah, namun kita perlu mengupayakan untuk meminimalisir hal tersebut sebelum kejadian seperti kata pepatah “Sedia payung sebelum hujan” begitu pula dengan ini.

Namun mitigasi ini tak pernah usai dan selesai tidak ada bentuk pengupaya yang terjadi dari kita semua dalam menjaga lingkungan, kita kerap terus merusak bumi secara fisik maupun dari tingkah maksiat kita yang kian hari mungkin kian banyak. Nauzubillah

Begitu pula dari segi pemerintah yang tidak menampakkan keseriusan dalam meminimalisir resiko bencana yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, bahkan kerap sekali kita lihat dan mungkin kita rasakan bahwa pemerintah akan bertindak atau membangun infrastruktur untuk melindungi masyarakat dari bencana ketika telah terjadi bencana, bahkan mirisnya kerap didapati hanya wacana saja tanpa ada realisasinya.

Bencana kerap terus berulang tapi tak jua membuat kita dan pemerintah sadar dengan tanggung jawab akan nyawa rakyat, padahal hal ini akan diminta pertanggung jawabannya atas amanah yang terabaikan.

Mungkin bisa jadi ini disebabkan oleh sistem kapitalisme yang diterapkan saat ini, sistem yang menjadikan semuanya berputar atas dasar materi, jadi jika ada materi atau keuntungan yang didapatkan baru diurusi, bila tidak ada materi atau keuntungan maka tak akan diurusi. Tersiksalah hidup di sistem ini hanya berkiblat atas asas materi, bahkan minta bantuan jangan-jangan harus ada keuntungan juga. Nggak habis pikir.

Bencana alam dalam pandangan kapitalis tentu tak ada keuntungan yang bisa diraih baginya, maka wajar pekerjaan atau tugas dalam mengatasi masalah ini pun diabaikan dan dibiarkan saja. Walau ada ratusan bahkan jutaan jiwa rakyat mati, namun untuk kapitalis tak ada ruginya. Sebab nyawa manusia tak ada harganya sama sekali dimata kapitalis. Begitu miris!

Seandainya kita semua menyadari betapa mulianya hidup di Sistem Islam. Setiap orang akan merasakan bersalah atas perbuatan yang melalaikannya, takut akan dosa yang mengintainya tiap kali lalai atas amanah yang dipercayakan padanya bahkan semua tindakan akan dilakukan sesuai dengan aturan dari sang illahi.

Seperti pada masa Umar bin Khattab yang saat itu menjabat sebagai Amirul Mukminin, ketika itu terjadi musim paceklik di seluruh kawasan jazirah Arab. Tanaman-tanaman gagal panen, termasuk lahan-lahan di sekitar lembah Sungai Euprat, Tigris, dan Nil. Banyak orang-orang yang masuk ke Madinah untuk meminta bantuan pemerintah. Akhirnya Khalifah Umar membentuk tim untuk menanggulangi bencana kekeringan ini.

Setiap orang dari tim penanggulangan bencana ditempatkan pada pos-pos di perbatasan Kota Madinah untuk mencatat hilir mudik orang yang mencari bantuan makanan. Hingga tercatat sepuluh ribu orang yang masuk ke dalam Madinah dan lima puluh ribu orang yang masih berada di daerah asalnya. Khalifah Umar segera menyalurkan bantuan kepada orang yang berada di luar Madinah dan menampung orang yang mengungsi.

Khalifah Umar memberikan segalanya hingga tidak ada yang dapat diberikan. Kemudian Khalifah Umar mengirim surat kepada Abu Musa di Bashrah dan Amru bin Ash di Mesir yang berisi, “Bantulah umat Muhammad, mereka hampir binasa”.

Kemudian kedua gubernur mengirimkan bantuan ke Madinah dalam jumlah besar hingga mencukupi kebutuhan pangan rakyat yang mengalami musibah kekeringan. Selain itu, Khalifah Umar pun senantiasa bermunajat kepada Allah melalui doa meminta turun hujan bersama paman Nabi, Abbas.

Sungguh sangatlah agung dan mulia sikap Khalifah Umar bin Khattab dalam mengayomi rakyatnya. Ia tak malu untuk terjun langsung menjadi pelayan bagi rakyatnya yang membutuhkan bantuannya. Ia pun tidak mempermasalahkan tubuhnya kurus dan kulitnya menghitam ketika ia dan rakyatnya dilanda musim paceklik.

Bahkan tidak ada perlakuan khusus terhadap Umar selama musim paceklik. Umar radhiyallahu’anhu berkata, “Akulah sejelek-jelek kepala negara apabila aku kenyang sementara rakyatku kelaparan.”

Khalifah Umar menyadari bahwa ia akan mempertanggungjawabkan posisinya sebagai pemimpin. Sebagaimana hadits riwayat Bukhari, “Imam (waliyul amri) adalah pengurus rakyat dan dia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus.”

Sepenggal kisah Khalifah Umar bin Khattab dapat dijadikan pelajaran atas penanggulangan bencana di Indonesia. Oleh karena itu, pemimpin negeri hendaknya fokus dan bersungguh-sungguh mengerahkan segala pemikiran dan perbuatan yang akan dilakukan terhadap korban bencana tsunami selat sunda sebagaimana Khalifah Umar yang fokus mengatasi permasalahan paceklik selama sembilan bulan lamanya. Sungguh tak ada lagi sistem yang mampu mengurusi seluruh kebutuhan serta masalah manusia kecuali Khilafah Islamiyyah.

Wallahu a’lam bish-shawabi.

*Penulis merupakan anggota Komunitas Mahasiswi Menulis Jambi

#News1


kenali.co