MENTOL: Sikap Tanpa Protes
*Ilustrasi
Oleh: Ulia Niati

MENTOL: Sikap Tanpa Protes

Minggu, 30 Desember 2018 - 06:32:46 WIB
0 | Kategori: Kolom |Dibaca: 296

Kenali.co, MENTOL, menyikapi toleransi maksudnya. Bicara mengenai mentol ini sering timbul tanda tanya seperti memangnya kenapa sih dengan mentol? dan bagaimana seharusnya mentol itu?. Sebelum itu seperti kita ketahui di akhir tahun biasanya euporia yang sering dibicarakan adalah toleransi.

Yap mengenai sikap toleransi, apalagi dalam bulan Desember tentu wacana toleransi terus dihembuskan terlebih mengenai toleransi dalam beragama, sebab seperti yang kita ketahui di bulan Desember adanya perayaan Natal bagi kaum Nasrani sehingga bisanya toleransi dikaitkan dengan perayaan Natal tersebut dan bahkan sering juga dikaitkan dengan pergantian tahun. Biasanya jika dikaitkan dengan Natal yang dihembuskan itu suatu perkara toleransi dalam mengucapkan selamat natal.

Sampai kini hembusan angin toleransi tak pernah henti dari dulu dan mengenai tolerasi, kita memaknai sikap kita pada sesuatu hal yang kita yakini, dalam hal ini mengenai Natal, timbul pertanyaan bagaimana seharusnya muslim menyikapinya? Mungkin sebagian orang mengatakan mengenai ini baik itu dari non Muslim ataupun dari Muslim sendiri, jika mengatakan selamat atas perkara tersebut biasa saja toh “cuman” ucapan semata, ucapan “doang”, sekedar ucapan “aja”.

What's wrong?

Hmm... sepertinya kita perlu memaknai toleransi terlebih dahulu.

Jadi, secara bahasa toleransi berasal dari kata tolerance. Maknanya adalah “to endure without protest” yang artinya menahan perasaan tanpa protes. Menurut Webster’s New American Dictionary, toleransi adalah memberikan kebebasan dan berlaku sabar dalam menghadapi orang lain.

Lalu, kata tolerance tersebut diadopsi ke bahasa Indonesia menjadi toleransi, berasal dari kata toleran yang mengandung arti; bersikap atau bersifat menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan) yang berbeda atau yang bertentangan dengan pendiriannya bersadasarrkan dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Nah dari sini kita memahami bahwa toleransi membiarkan suatu perkara yang berbeda dengan yang kita yakini, seperti halnya perkara Natal tadi meskipun “cuman”, “doaang” atau “aja” bukan bearti kita dapat memberikan ucapan selamat begitu saja, sebab jika kita mengucapkan hal demikian berarti kita secara tidak langsung menyetujui bahwa tuhan memiliki anak, padahal jelas dalam surah Al-Ikhlas dikatakan “Lam yalid walam yuulad” yang artinya “(Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan”. Sehingga dari sini perkara natal tersebut sudah masuk pada perkara akidah.

Sehingga sebagai muslim seharusnya menyikapinya, cukup dengan membiarkan mereka mengerjakan apa yang mereka yakini, tidak mengusik mereka ataupun membubarkan perayaan mereka. Sebab jika kita mengikapi dengan ucapan, bahkan sampai ikut serta dengan dalih “kan cuman”, “kan ucapan doang” dan semacamnya, bukankah dalam Islam dari yang sekedar ucapan dapat menjadi hal yang haram menjadi halal maupun sebaliknya. Contohnya?

Seperti halnya jika mau nikah, harus ada akad melalui ucapan, padahal hanya ucapan doang, yang awalnya haram menjadi halal kan?. Lalu perkara apalagi? seperti perkara cerai cuman ucapan saja atau hanya sekedar begurau itu bisa mengakibatkan, fatal!. Sehingga dalam Islam setiap ucapan yang kita ucapkan akan dipertanggung jawabkan di akhirat kelak.

Jadi, mengenai toleransi dalam hal ini kita cukup membiarkan tanpa protes tanpa mengusik mereka. Kita masih bisa dan diperbolehkan berinteraksi dengan non Muslim seperti berteman dengan mereka, menolong mereka, bertamu ke rumah mereka, memberi mereka hadiah dan lainnya asal tidak bertentangan dengan akidah Islam.

Islam mengajarkan pada kita prinsip dalam Qs.Al-Kafirun: 6 yang artinya “Untukmu agamamu dan untukkulah, agamaku”. Sudah semestinya kita memegang prinsip tersebut sebagai seorang muslim. Bukan bearti tidak mengucapkan selamat natal merupakan suatu sikap intoleransi, padahal Islam begitu toleransi. Bisa jadi kita tidak begitu memahami Islam yang semestinya. Sudah semestinya kita mempelajari Islam lebih dalam lagi agar kita mengetahui apa yang menjadi tuntunan kita bukan sekedar berKTP Islam semata.

Wallahu a'lam bish-shawabi.

*) Penulis merupakan anggota Komunitas Mahasiswi Menulis Jambi.

#News1


kenali.co