Asal Usul Pasar Kramat Tinggi Batanghari
Repro Kenali.co
Cerita Rakyat Jambi Part 2

Asal Usul Pasar Kramat Tinggi Batanghari

Selasa, 04 Desember 2018 - 05:24:38 WIB
0 | Kategori: Lifestyle |Dibaca: 737

Kenali.co, Cerita rakyat merupakan cerita yang perkembangannya turun-temurun dari satu generasi ke genarasi. Ciri khas dari cerita rakyat ini ialah tidak diketahui siapa pengarangnya. Cerita rakyat berisi kejadian tentang petuah, asal-mula terjadinya suatu tempat, kisah-kisah kepahlawanan  seorang tokoh, maupun cerita mistis yang secara tidak langsung berkembang dan mewarnai kehidupan masyarakat.

Cerita rakyat juga merupakan salah satu karya sastra klasik yang tersebar di seluruh nusantara, tidak terkecuali di provinsi Jambi. Provinsi Jambi terdiri dari 11 kabupaten dan 2 kota. Salah satu kabupaten yang memiliki cerita rakyat adalah kabupaten Batang Hari. Batang Hari memiliki 8 kecamatan, yakni : Muaro Sebo Ulu, Mersam, Muaro Sebo Ilir, Tembesi, Batin XX1V, Muaro bulian, Bajubang, dan Pemayung.

Dari 8 kecamatan tersebut,  penulis mencoba membuat laporan mengenai penjelasan tentang salah satu mitos di kecamatan Muaro Bulian kabupaten Batang Hari. Mitos ini merupakan mitos yang terdapat dalam kehidupan masyarakat setempat mengenai nama sebuah tempat untuk pasar tradisional, yaitu Kramat Tinggi.

Kramat Tinggi merupakan pasar tradisional terbesar di kecamatan Muaro Bulian. Menariknya, cerita tentang pasar Kramat Tinggi ini terdapat pada namanya. Kramat secara umum diartikan sebagai sesuatu yang tak bisa (memiliki keistimewaan) sedangkan tinggi memiliki arti diatas. Menurut penuturan dari warga setempat, kata Kramat Tinggi  berasal dari nama kuburan kramat yang terletak di pinggir aliran sungai Batang Hari, di desa Muaro Lamo (sekarang Muara Bulian).

Asal muasal kuburan Kramat Tinggi, menurut warga setempat bermula dari ditemukannya sesosok mayat pada zaman penjajahan. Dimana, mayat tersebut mengapung di Batang Hari, tetapi tidak mau hanyut. Mayat tersebut hanya berputar-putar saja di depan pemakamannya yang sekarang, padahal aliran sungai Batang Hari saat itu lumayan deras. Kemudian mayat tersebut diangkat ke tepi oleh masyarakat setempat dan dikuburkan dengan tata cara orang islam.

Kuburan tersebut memiliki panjang 9 depo (depa) yang kira-kira mencapai 16,8 meter di luar rata-rata manusia pada umunya. Hal ini menjadi satu alasan kuburan ini dikatakan kramat. Karena kekramatannya yang diyakini, maka banyak masyarakat yang datang untuk berziarah dan meminta bantuan pada kuburan kramat itu. Dari asal kata Kramat inilah, masyarakat Muara Bulian membuat nama pasar tradisionalnya. Mereka yakin, bahwa nama juga merupakan doa. Meski pada kenyataannya, tak semua nama-nama baik juga membuat pengguna nama demikian.

Namun masyarakat setempat masih percaya pasar tersebut bisa berjaya dan memberikan manfaat bagi warga setempat sampai kapanpun. Seperti namanya yang kramat. Bahkan masyarakat disana juga percaya, masih berdirinya pasar kramat tinggi dikarenakan penamaan dan nilai-nilai yang tertanam di dalam namanya.

Penulis: Novita Sari

#News1


kenali.co