Radikalisme, Islamophobia Gaya Baru
Repro Kenali.co
Oleh: Atika Marsalya

Radikalisme, Islamophobia Gaya Baru

Senin, 03 Desember 2018 - 05:36:29 WIB
0 | Kategori: Kolom |Dibaca: 456

Kenali.co, Badan Intelejen Nasional (BIN) tampil dengan informasi terkait 41 masjid di lingkungan pemerintahan wilayah Jakarta terpapar radikalisme. Tentu kabar ini menimbulkan kekhawatiran di tengah-tengah masyarakat. Dilansir dari laman IDN Times Kasubdit Direktorat 83 BIN Arief Tugiman mengategorissasikan, masjid yang terpapar paham radikal menjadi tiga level. Pertama, 7 masjid level rendah, 17 level sedang, dan 17 lainnya level tinggi (Rabu, 21/11/2018).

Indikasi 41 masjid yang diklaim BIN terpapar radikalisme ini adalah konten ceramah yang disampaikan penceramah di masjid-masjid tersebut, di laman detiknews BIN menjelaskan soal penceramah berpaham radikal tersebut disimpulkan berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh P3M NU yang hasilnya disampaikan kepada BIN sebagai early warning (Jumat, 23/11/2018).

Menilik bagaimana cara survei itu dilakukan, kepada tim redaksi Republika Ketua Dewan Pengawas Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) Agus Muhammad mengatakan, survei itu dilakukan setiap shalat Jumat dari tanggal 29 September hingga 21 Oktober 2017. Kemudian, tim survei menganalisis materi khutbah Jumat yang disampaikan, dan hasilnya ada 41 masjid yang terindikasi radikal. Sebagai masyarakat muslim awam tentu perlu memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan radikal dan radikalisme. Sehingga diharap mampu melihat hasil survei ini dengan penilaian yang objektif.
 

Rezim Panik Umat Memiliki Kesadaran Politik

Dimunculkannya kembali isu radikalisme masjid dan penceramah menunjukkan tingkat kepanikan yang tinggi rezim sekuler neolib menghadapi kesadaran politik umat Islam yang kian menguat, terutama jelang pilpres tahun 2019 mendatang. Perlu diketahui arti kata radikal menurut kbbi adalah secara mendasar atau sampai kepada hal yang prinsip. Dari pengertian ini tidak menunjukkan adanya makna positif atau negatif dari kata radikal ini, makna bisa diperoleh ketika kata radikal disandingkan kata lain yang mengikutinya. Itu artinya, Islam radikal dapat dimaknai orang yang memegang teguh prinsip-prinsip dasar keIslaman, lantas di mana letak salahnya?

Yang membuat ngeri adalah ketika kata radikal diberi imbuhan isme di belakangnya. Radikalisme menurut kbbi adalah sebuah paham atau aliran yang menginginkan perubahan aau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis. Rezim melalui pernyataan BIN seperti sedang melakukan upaya pendiskreditan Islam beserta ajarannya dengan narasi radikalisme. Ini adalah sebuah bentuk kepanikan yang nyata dari rezim yang tidak siap menghadapi geliat kebangkitan umat, sehingga terpaksa melempar tuduhan keji terhadap Islam dan ajarannya yang mulia. Tindakan ini seakan memberitahu kita bahwa rezim dalam sistem demokrasi saat ini sedang terjangkit virus Islamophobia gaya baru.
 

Umat Harus Bangga Pada Identitas Aslinya

Umat tidak boleh terpengaruh isu-isu yang terus mendiskreditkan umat Islam, karena Islam bukan ajaran radikalisme tapi hukum-hukumnya justru membawa kebaikan bagi umat manusia. Mengingat kembali Firman Allah SWT yang artinya “Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran, sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang penghuni-penghuni neraka” (QS. Al-Baqarah: 219).

Penentangan atas arus kebangkitan Islam merupakan sunnatullah. Perang pemikiran sesungguhnya hari ini tengah terjadi, pertarungan antara haq dan batil kian nyata dirasakan umat. Islam sebagai Agama yang diturunkan Allah SWT kepada Rasulullah Muhammad SAW. telah sempurna ajarannya dan paripurna sebagai aturan kehidupan. Namun orang-orang yang memusuhi Islam akan selalu ada, mereka tidak rela hidupnya diatur dengan syariah Islam, justru mereka lebih bangga mengikuti arahan kafir barat yang hidupnya tak diatur oleh Agama.

Allah SWT berfirman “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah? Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim. mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya” (QS. Ash-shaff: 7-8). Itu artinya umat Islam jangan mengambil posisi sebagai pihak tertuduh, sebaliknya umat harus bangga pada identitas keIslamannya, dan umat justru harus segera menentukan sikap untuk berada di barisan perjuangan mengembalikan Islam dalam pengaturan kehidupan. Wallahua’lam.***

Penulis merupakan Anggota Mahasiswi Jambi Menulis.

#News1


kenali.co