Penerimaan CPNS Tidak Linear, Salah Siapa?
repro: kenali.co
Oleh: Novita Sari

Penerimaan CPNS Tidak Linear, Salah Siapa?

Kamis, 25 Oktober 2018 - 05:55:34 WIB
0 | Kategori: Kolom |Dibaca: 1499

Kenali.co, Setelah dibukanya formasi penerimaan CPNS (Calon Pengawai Negeri Sipil) di Universitas Jambi sebanyak 120 kursi (www.unja.ac.id), banyak para pelamar yang berminat menjadi salah satu pengisi ruang sebagai dosen tetap di Universitas terbesar di Jambi tersebut. Tak terkecuali pada fakultas ilmu budaya. Sebagai salah satu fakultas baru non OTK (Organisasi Tata Kelola), formasi 2 orang tepatnya pada program studi sastra Indonesia merupakan peluang empuk bagi dosen-dosen kontrak yang ada. Tak bisa dipungkiri, di prodi tersebut memang lebih banyak dosen kontrak dibandingkan dosen tetap (PNS). Namun, hal mengejutkan dan terdengar aneh adalah formasi tersebut menerima klasifikasi dosen lulusan magister pendidikan. Tentu hal ini tidak linear dengan kondisi akademis program studi tersebut. Pasalnya, program studi keilmuan sastra tersebut harusnya diisi oleh orang-orang yang juga merupakan lulusan keilmuan sastra bukan orang-orang yang merupakan lulusan pendidikan (red-fkip).

Berbagai spekulasi dan tanggapan pun muncul, siapa yang membuat kebijakan demikian?

Sejauh yang penulis lihat, dari pihak kepala prodi maupun fakultas mengatakan tidak tahu apa-apa mengenai kebijakan ini. Mereka berdalih hal ini merupakan keputusan dari universitas sendiri tanpa memberitahukan terlebih dahulu kepada pihak fakultas maupun prodi tentang klasifikasi yang dibuat subjektif tersebut. Padahal, kebijakan semacam ini akan merugikan semua pihak. Dari segi program studi hal ini tentu tidak relevan, dari sudut pandang mahasiswa hal ini juga tidak efektif karena sistem dan kepakaran bidang tidak sesuai dengan apa yang dipelajari.

Lebih dari itu, program studi sastra Indonesia fakultas ilmu budaya yang saat ini terakreditasi C akan mempersulit prodi tersebut untuk re-akreditasi guna mendapat predikat yang lebih baik dikarenakan segala bentuk prestasi, penelitian dan karya tulis dosen (M.Pd) tersebut tidak akan terpakai.

Jadilah program studi tersebut sebagai bayang-bayang dari program studi pendidikan bahasa, sastra Indonesia dan daerah pada fakultas FKIP Unja yang lebih dulu tegak.

Hal yang tak kalah menarik adalah jika disandingkan dengan munculnya pemberitaan di Universitas Diponegoro (Undip) yang telah mengubah program studi sastra ke program studi pendidikan. Akankah nasib prodi sastra Indonesia Unja sama seperti Undip?

Yang lebih menggelitik barangkali, sampai tulisan ini dibuat adalah tidak ada yang dilakukan oleh pihak-pihak terkait dalam menanggapi hal ini. Semua pihak terkesan legowo dengan keputusan ini.

Jadi, daripada tulisan ini diakhiri dengan kegeraman dan kegusaran semata menjelang proses pengumuman hasil penerimaan pegawai negeri sipil untuk fakultas Ilmu Budaya khususnya prodi Sastra Indonesia. Maka penulis memutuskan untuk mengajak para pembaca yang budiman untuk ikut mendoakan agar apa yang menjadi ketakutan penulis tidak terjadi. Semoga pihak-pihak bersangkutan dapat mendengarkan dan ikut memperbaiki kesalahan pengambilan keputusan dalam dunia pendidikan khususnya pada program studi sastra Indonesia fakultas ilmu budaya Universitas Jambi.

***

#News1


kenali.co