Respon Perlawanan Pembakaran Bendera Tauhid Sampai ke Jambi
Swafoto dengan topi bertuliskan kalimat tauhid.
Oleh: Novita Sari

Respon Perlawanan Pembakaran Bendera Tauhid Sampai ke Jambi

Rabu, 24 Oktober 2018 - 05:53:44 WIB
0 | Kategori: Kolom |Dibaca: 5161

Kenali.co, Aksi pembakaran terhadap bendera tauhid yang dikutip melalui viva.co.id saat perayaan hari santri nasional di lapangan alun-alun kecamatan Limbangan, Garut, Senin 22 Oktober 2018 menuai kontroversi. Gelombang tersebut bahkan sampai ke Provinsi Jambi. Hal itu dikarenakan perbuatan tersebut dirasa tidak sesuai dengan nilai-nilai humanisme dan akan berpotensi menyebabkan polemik terlebih di tahun politik saat ini.

Penulis dalam hal ini, melihat beberapa bentuk respon perlawanan yang dilakukan oleh beberapa orang mahasiswi Universitas Jambi dalam menjawab kasus tersebut.

Pandangan terhadap bendera tauhid yang dibakar sebagai bentuk pembersihan terhadap ideologi tertentu serta anggapan bahwa bendera tersebut adalah wujud sebuah ormas merupakan logika berfikir yang salah. Pasalnya, umat muslim secara umum mengenal bendera tersebut sebagai panji Rasulullah yang biasa disebut Al-liwa Ar-rayyan.

Namun, merespon hal tersebut dengan tindakan yang sama atau anarkis bukanlah pilihan yang bijak. Hal menarik yang penulis temui adalah respon segelintir mahasiswi yang melakukan tindakan dalam upaya menentang dan ikut merasakan kesedihan atas dibakarnya secara sengaja bendera tersebut dengan hal-hal berikut ini :

Gerakan 1 Juta topi tauhid

Sebagai salah satu bentuk keikutsertaan dalam tauhid challenge, bahkan saat artikel ini ditulis sudah ada 9385 tagar tauhid challenge di akun media sosial instagram yang meramaikan. Para mahasiswi ini berswa foto dengan menggunakan topi yang bertuliskan kalimat tauhid tersebut sebagai bentuk respon tindakan atas dibakarnya bendera tauhid di Garut tersebut.
 

Menulis caption Instagram

Meski kedengarannya sederhana, menulis di laman media sosial merupakan salah satu bentuk eksistensi diri dalam menyatakan sesuatu. Dalam kehidupan millenial yang lebih banyak didominasi oleh kegiatan menunduk (mengoperasikan gadget) informasi dan situasi nyatapun berseliweran di dalam gadget. Banyaknya pengguna medsos yang ada juga menjadi salah satu ruang yang cocok untuk menyatakan sekaligus menginformasikan pada khalayak ramai. Mungkin hal demikian pulalah yang melatarbelakangi seorang mahasiswi bernama ulia niati dalam akun instagramnya @aulianiati yang ikut berpendapat mengenai pembakaran bendera tauhid tersebut.

"Sungguh kau telah memancing singa yang sudah kelaparan sejak dulu! ahh sungguh gak habis pikir!!! Ada orang sebegitu bencinya sama bendera berlafaskan kalimat tauhid, ketahuilah itu bukan hanya sekedar aksara arab!!! Begitu sebagian caption yang dilontarkan beliau kira-kira.

Dalam kehidupan negara demokrasi, tentu saja kita dibebaskan untuk melakukan apapun untuk menyuarakan kehendak kita. Namun, tetaplah berhati-hati dan senantiasa memahamkan diri terhadap situasi yang ada. Apapun respon kita terhadap kejadian tersebut semoga dapat menjadi pelajaran untuk bersama-sama mawas diri, sehingga dapat menjaga tindakan atau perilaku yang dapat memancing kemarahan orang banyak. Salam damai.

***

#News1


kenali.co