Rasa Kopi Berujung Rasa Cinta
Wahyu Hidayat
Relationship

Rasa Kopi Berujung Rasa Cinta

Selasa, 09 Oktober 2018 - 06:03:24 WIB
0 | Kategori: Lifestyle |Dibaca: 194

Kenali.co, Menikmati manisnya secangkir kopi, rutinitas yang aku lakukan dikala berdiskusi dengan para penikmat kopi lainnya. Bukan hanya minum biasa, tapi resolusi-resolusi pasti lahir pasca menikmati kopi. 

Malam, waktu yang begitu indah untuk dinikmati. Bahkan malamku adalah waktu produktif untuk berkreasi, aku terlanjur Cinta dengan suasana malam hari. Jangan pernah berani mengusik malam indahku (satu kalimat pembenci bermain cinta).

Memang, rutinitas seperti ini sudah lama aku tekuni, tiga tahun terakhir sejak aku terkena musibah hati. Iya, ketika itu putus akan ikatan Cinta (pacaran). Cinta yang sudah lama aku rawat, kandas ditengah jalan tanpa aba-aba. Begitu besar rasa cinta kala itu, namun sebuah penghianatan menghancurkan sebuah komitmen yang saat itu permanen aku deklarasikan.

Hancunya sebuah komitmen, tentu berakibat fatal. Kepercayaan tidak akan dipandang sebagai landasan utama dalam dunia rasa. Sejak saat itu aku mulai merasa bahwa aku tidak butuh nikmat perasaan terhadap lawan jenis. Karena bermain rasa tidak akan memberikan apa kebutuhan hatiku.

Tiga tahun berjalan dengan baik, tanpa ada batasan apapun, aku mulai menapaki diri dalam keseriusan. Bukan keseriusan rentang rasa, akan tetapi keseriusan di dunia kompetensi. Yah, aku berhasil menapaki itu semua. Bahkan aku berhasil menggali potensi-potensi yang ada dalam jiwaku, yang sempat hilang dirampas oleh rasa.

Perjuangan dan pengorbanan menjadi hal mutlak yang aku lakukan, berhenti mencintai dan menutup diri untuk dicintai aku tinggalkan sejenak. Formula seperti ini adalah resep jitu yang hingga kini masih aku nikmati faedahnya.

Suatu malam, seperti biasa aku duduk dan berdiskusi dengan teman sejawat. Kemudian Lewat lah sesosok wanita di depan meja kami, berjalan kearah depan dengan pakaian hijab nya yang terurai, seketika sedikit membuat aku penasaran akan sosok wanita tersebut.

Tanpa ada rasa ragu, aku mulai melirik kearahnya. Walaupun sedikit bentuk pemberontakan terhadap hati, namun dayaku tak mampu menahan perlawanan ini. Iya, aku terus melirik ke arahnya. Namun hal mengejutkan terjadi, ternyata orang yang aku lirik adalah wanita yang dulunya pernah singgah sebentar menemani rasaku, Ia bernama Leni.

Memang di luar dugaan dan aku tidak pernah berfikir Leni bisa berubah 180°, ia terlihat anggun dan cantik dengan pakaian hijabnya. Intinya aku kembali jatuh cinta. 

Semakin aku lirik, ternyata ia juga kemudian melirik ku dari mejanya. Aku langsung tertunduk dan sedikit kulihat bahwa ia tersenyum padaku. Lagi-lagi kali ini aku berkhianat pada rasa, karena aku kembali jatuh cinta.

Sejam kemudian, dia dan teman-temannya pergi, mungkin dia mau pulang karena kulihat jam sudah larut malam. Dengan kondisi diskusi yang tidak memungkinkan aku ikuti, karena fokusku berkurang semenjak dia datang, maka aku putuskan juga untuk pulang.

Dan setibanya aku di rumah, tiba-tiba hp ku berbunyi (nada pesan), iya tidak disangka Leni mengucapkan salam melalui pesan singkat. Bahagianya, di luar dugaan memang, karena sebelumnya aku yang berencana untuk mengechatnya. Tanpa ragu dan tanpa malu aku langsung membalasnya, dan dari sinilah aku mulai menapaki keseriusan pembicaraan dengan Leni.

Besok harinya, aku yang mulai duluan untuk berkomunikasi lewat hp, dan aku diminta untuk menelponya. Lagi-lagi aku tidak tau cara menolak permintaannya dan sebenarnya aku juga tidak mau menolak itu. Iya, malu-malu adalah hal yang pertama terjadi kala itu. Masih canggung satu sama lain karena sudah tiga tahun tidak berkomunikasi. 

Dan akhirnya ia utarakan niatnya untuk memintaku membuka diri. Kembali seperti dulu, mengulang kisah yang pernah kami jalani. "Aku bukan Leni yang dulu, Leni yang dulunya begitu kau benci. Masih adakah ruang-ruang kecil yang bisa aku tempati dihatimu?". Dan aku berkata "aku tidak pernah bermain dengan hati, bahkan aku bisa saja mentakdirkan diriku hanya untukmu". Hanya saja aku tidak mau komitmenku hancur untuk kedua kalinya. Hanya keseirusan yang aku mau.

Sebuah rasa tidak akan pernah salah dalam penempatannya, hanya saja masing-masing kita memiliki skenario yang berbeda untuk menemukan tempat berlabuh nya rasa. 

Penulis: Wahyu Hidayat

#News1


kenali.co