Remaja Milenial dan Hoaks
Anak dari bapak U.Pasaribu dan ibu L.Manalu
(Menyongsong Pesta Demokrasi 2019)

Remaja Milenial dan Hoaks

Kamis, 04 Oktober 2018 - 05:55:51 WIB
0 | Kategori: Kolom |Dibaca: 400

Kenali.co, Tak terasa mendekati akhir tahun, aura-aura tahun kontestasi Politik semakin merebak. Hal ini ditandai dengan banyaknya pemberitaan di media cetak maupun online terkait penetapan Nomor Urut Capres dan Cawapres 2019 beberapa waktu yang lalu. Tentunya event sangat mencuri perhatian masyarakat maupun netizen. Tampak di berbagai media sosial dihiasi dengan cuitan-cuitan netizen terkait nomor urut tersebut. Sebagai bagian dari demokrasi masyarakat maupun netizen diberikan akses sebesar-besarnya dalam berpendapat, dengan tidak lupa juga memperhatikan etika dan aturan hukum terkait penggunaan media. Berangkat dari judul tulisan di atas, yang mana remaja adalah sebagai focus utama. Tulisan ini diangkat setelah penulis melakukan sebuah penelitian atau wawancara guna keperluan pendaftaran mengikuti lomba menulis Paper di salah satu universitas di Indonesia bersama partner Eldaniel Siallagan dan Tris Putra beberapa waktu lalu.

Berdasarkan pendapat para ahli, remaja berasal dari kata adolensence yang berarti tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik (Hurlock,1992). Tak jauh berbeda dengan pendapat yang dikemukakan oleh Sri Rumini & Siti Sundari (2004:53) masa remaja adalah peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek atau fungsi untuk memasuki masa dewasa. Jika dilihat dari definisi dari kedua ahli tersebut, artinya remaja merupakan seseorang yang akan melewati suatu transisi menuju jenjang berikutnya. Telah banyak studi terkait remaja, baik itu kenakalan remaja, pergaulan remaja, remaja ditinjau dari aspek sosial dll.

Terdapat banyak referensi yang mengklasifikasikan remaja dalam jenjang usia. Ada remaja awal 12-15 tahun, masa remaja pertengahan 15-18 tahun, dan masa remaja akhir 18-21 tahun. Kemudian hal yang menarik adalah remaja di Indonesia menyumbang komposisi pengguna internet terbesar pada tahun 2017 yang lalu. Hal ini tampak jika dilihat dari data yang didapat dari artikel online Kompas.com menyebutkan besaran pengguna internet berdasarkan usia, sebanyak 16,68 persen pengguna berusia 13-18 tahun dan 49,52 persen berusia 19-34 tahun. Sementara itu, persentase pengguna internet berusia 35-54 tahun mencapai 29,55 persen. Pengguna internet berusia 54 tahun ke atas mencapai 4,24 persen. [kompas.com].

Jika dilihat dari data tersebut,muncul sebuah asumsi ,sebagai pengguna internet terbesar tentu remaja rentan diserang oleh hoaks. Hoaks yang notabene nya sebuah pemberitaan atau informasi yang belum teruji kebenaran nya. Hoaks dapat saja bertujuan untuk menciptakan suasana yang tidak kondusif. Tidak menutup kemungkinan hoaks bertujuan untuk kepentingan politik praktis dengan membunuh karakter lawan nya melalui pemberitaan palsu. Artinya semakin banyak hoaks beredar dan di-share di sosial media hal tersebut merupakn nilai plus bagi pelaku hoaks.

Menjelang tahun politik 2019 ini yakni pemilu yang dilakukan sekali 5 tahunan. Hoaks sangat rawan beredar. Menurut salah satu sumber menyebutkan bahwa ada sekitar 800 ribu situs penyebar hoaks di Indonesia. Yang mengandung berita palsu dan ujaran kebencian. Hoaks pada era milenial ini tampak nya sesuatu yang crusial yang sedang hangatnya diminimalisir. Sejauh ini telah banyak seminar maupun talkshow yang dilakukan untuk mengantisipasi penyebaran hoaks. Dan pemerintah serta pihak kepolisian pun turut turun tangan. Contohnya UU ITE yang terbaru.
 

Komunitas Remaja Cerdas Bermedia

Pada akhir-akhir ini menjelang pesta demokrasi terbesar lima tahunan, media merupakan komponen sangat penting dalam proses marketing politics. Media dianggap mampu menaikkan elektabilitas seseorang dalam mencapai suatu tujuan politik. Maka tidak heran ditemukan politikus-politikus melakukan pencitraan di media. Tidak menjadi suatu permasalahan. Yang menjadi permasalahan adalah oknum-oknum yang memiliki kepentingan politiknya dengan menumbalkan lawan politik melalui pemberitaan palsu. Jangan sampai dikarenakan hoaks yang dibungkus kepentingan politik ini para pendukung satu sama lain terpecah. Terlarut dalam suatu perdebatan secara perspektif.

Berdasarkan permasalahan terkait hoaks tersebut penulis bersama partner Tris Putra dan Eldaniel Siallagan menginisiasi sebuah tawaran alternatif dalam meminimalisir hoaks melalui pembentukan suatu komunitas yang akan diberi nama “Remaja Cerdas Bermedia (RCB) Kota Jambi” merupakan policy brief ditawarkan kepada instansi berwenang dalam sebuah paper. Melalui pembentukan komunitas tersebut kiranya remaja sebagai titik fokus dapat menggunakan media secara bijak konstruktif.

Permasalahan hoaks di era milenial merupakan permasalahan yang krusial, bersifat parsial. Hoaks tidak saja menyerang remaja, bahkan instansi pemerintahan pun rentan diserang pemberitaan hoaks oleh oknum tidak bertanggung jawab. Adapun program yang ditawarkan dalam komunitas ini adalah remaja sebagai fokus utama diharapkan mampu menganalisis mana konten yang dianggap baik untuk dikonsumsi dan disebarluaskan. Artinya proses filtrasi oleh remaja sangat diperlukan dalam mengantisipasi penyebaran hoaks. Dapat berbentuk materi ruangan mapun materi luar ruangan.
 

1. BABE (Bagi-Bagi Ebook)

Melalui pemberian E-book atau buku berbentuk digital, remaja sebagai focus utama dan pelaku dalam komunitas tersebut memiliki refrensi yang banyak. Sehingga remaja cerdas dalam menanggapi suatu berita melalui refrensi tersebut. Dapat melakukan analisis,pembandingan dan filtrasi. Kemudian remaja dapat menggunakan gadget secara produktif.
 

2. KEPO (Kafe Edukasi Politik)

Program ini dapat berbentuk sebuah forum grup diskusi atau seminar, yang membahas permasalahan atau issu sosial politik sedang hangat terjadi. Melalui edukasi politik ini,remaja notabene nya sebagai pemilih pemula dapat memahami relevansi media dan politik..Remaja milenial melek politik dalam menciptakan suatu kondisi tahun politik yang kondusif.
 

3. SPBU (Sekolah Politik Berbasis Umum)

Melalui kegiataan ini remaja yang tergabung dapat belajar menjadi solution maker terkait polemik yang terjadi akibat politik. Output yang diharapkan ketika mereka melewati masa remaja nya dapat memiliki kedewasaan politik. Tidak terpaku kepada issue politik yang berprospek sempit.
 

4. SIMAK (Simulasi Analisis Hoaks)

Hal yang terpenting adalah sebagai pengguna media internet terbesar di Indonesia, remaja mampu mengetahui serta menganalisis suatu informasi. Tingkat ke-validan suatu pemberitaan dapat dilihat melalui analisis. Dengan membandingkan dari sumber satu dengan sumber lainnya, menggunakan refrensi terkait informasi terkandung,tidak langsung menyebarluaskan dengan menggunakan prinsip "Saring dulu kemudian Sharing". Artinya melalui literasi, remaja dapat memberikan edukasi kepada masyarakat. Perangi hoaks!

*) Penulis adalah Mahasiswa Fisipol Program Study Ilmu Politik Universitas Jambi dan Kader GMNI Jambi.

#News1


kenali.co