Pemilih Ganda; Kecurangan Demi Kemenangan
Linda Ariyanti, A.Md
Oleh: Linda Ariyanti, A.Md

Pemilih Ganda; Kecurangan Demi Kemenangan

Minggu, 23 September 2018 - 06:42:18 WIB
0 | Kategori: Kolom |Dibaca: 1043

Kenali.co, Tahun politik semakin panas terasa, gejolak pilpres cukup mengusik ketenangan masyarakat Indonesia, tak terkecuali Jambi. Ada masyarakat Jambi yang menolak gerakan ganti presiden, namun mahasiswa Jambi justru melakukan aksi meminta presiden mundur dari jabatannya. Sebagian warga Jambi mungkin ada yang bimbang, ada apakah gerangan? Seolah ada sekat-sekat antar rakyat, padahal yang diinginkan rakyat Indonesia hanyalah kesejahteraan, tapi mengapa sulit diwujudkan?. Finally, sebagian rakyat apatis terhadap pilpres di negeri ini.

Dilansir Kenali.co (13/09/2018), Polemik DPT ganda pemilu 2019, bertanda tingkat partisipasi masyarakat masih rendah. Sekjend Komunitas Peduli Pemilu dan Demokrasi (KOPIPEDE) Provinsi Jambi, Mochammad Farisi, LL.M. menanggapi polemik Daftar Pemilih Tetap (DPT) Ganda Pemilu 2019 hingga mencapai 56.073 orang khususnya di Provinsi Jambi. Sumber data dari Bawaslu Provinsi Jambi.

Terkait hal tersebut pihaknya meyakini KPU telah bekerja keras memutahirkan data pemilih, namun dengan adanya temuan dugaan pemilih ganda yang jumlahnya mencapai Ribuan orang menunjukkan kerja KPU belum benar-benar optimal. Panitia Pendaftaran Pemilih (Pantarlih) sebagai ujung tombak pencocokan dan penelitian data pemilih harus lebih lebih cermat dan teliti saat coklit dan input data di sistem informasi data pemilih (Sidalih).

Pemilih Ganda untuk Siapa?

Ribuan daftar pemilih ganda hanyalah satu dari sekian banyak kebobrokan sistem demokrasi, mengapa saya katakan demikian? Coba kita cek bagaimana pendapat para tokoh pencetus ide ini. Aristoteles (348-322 SM) menyebut demokrasi sebagai mobocracy atau pemerintahan segerombolan orang. Dia menyebutkan demokrasi sebagai sebuah sistem bobrok karena pemerintahan dilakukan oleh massa, demokrasi rentan akan anarkisme.

Plato (472-347 SM) mengatakan liberalisasi adalah akar demokrasi sekaligus biang petaka mengapa negara demokrasi akan gagal selamanya. Plato dalam bukunya The Republic mengatakan, "Mereka adalah orang-orang merdeka, negara penuh dengan kemerdekaan dan kebebasan berbicara, dan orang-orang di dalam sana boleh melakukan apa yang mereka sukai" (merdeka.com, 07/04/2014).

Dari ungkapan kedua tokoh ini saja kita sudah bisa menerka mengapa selalu ada pemilih ganda di setiap pemilu, semua ini adalah permainan pihak yang menginginkan kemenangan meski harus berlaku curang. Sesungguhnya rakyat yang memilih hanya sebatas symbol adanya demokrasi saja, tapi yang menentukan hasil adalah para penghitung suara. Maka, bisa dipastikan pemimpin yang akan terpilih adalah mereka yang bisa menguasai seluruh elemen proses pemilihan, bukan murni yang dipilih oleh rakyat.

Pemilihan Pemimpin dalam Islam

Islam adalah agama sempurna yang mengatur seluruh tatanan kehidupan manusia, termasuk dalam memilih pemimpin. Allah swt telah menetapkan bahwa segala amal manusia akan dihisab, baik atau buruk dalam firmanNya “Pada hari ini, tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya.” [Al Mu’min / 40 : 17]. Apa hikmah yang harus kita ambil dari ayat ini? Adakah hubungannya dengan sistem demokrasi serta pemilihannya?

Rasulullah saw adalah manusia agung yang tugasnya bukan hanya sebagai Rasul, tetapi beliau juga bertugas sebagai kepala negara. Saat Rasulullah saw hijrah ke Madinan, beliau bukan dalam pelarian menghindari rencana pembunuhan kafir Quraisy, melainkan beliau telah menerima kepemimpinan dari rakyat Madinah saat baiat aqabah ke-2.

Setelah Rasulullah saw wafat, kaum muslimin bermusyawarah dan sepakat membaiat Abu Bakar ra. untuk menjadi khalifah (pengganti) Rasulullah saw, menggantkan perannya sebagai kepala negara bukan sebagai Rasul. Abu Bakar ra. pun menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya, karena khalifah lebih besar lagi tanggung jawab dan hisabnya.

Dari satu kisah pergantian kepemimpinan ini, seharusnya kita bisa mengambil pelajaran bahwa jabatan kepala negara bukanlah jabatan yang harus diperebutkan, apa lagi jika harus sampai memecah belah persatuan umat Islam. Kecurangan dalam proses pemilihan pemimpin tak akan terjadi dalam sistem Islam, karena umat akan memahami bahwa segala hal akan dihisab.

Islam menetapkan bahwa metode memilih pemimpin adalah baiat, adapun cara menentukan siapa calon terpilih yang akan dibaiat dikembalikan kepada kesepakatan umat, bisa dengan cara bermusyawarah, penunjukan pengganti, atau rakyat memilih secara langsung. Mari jaga persatuan umat, wujudkan kerinduan dalam kehidupan Islam. Jangan terpecah belah, karena baratlah yang akan tertawa melihat umat Islam yang saling menghujat. Wallahu’alam bishshowab

Penulis adalah tenaga pendidik dan anggota Komunitas Muslimah Jambi Menulis

#News1


kenali.co