LAGI-LAGI ISLAM
sumber foto: google.com
Oleh: Fauziah Syahraani

LAGI-LAGI ISLAM

Rabu, 16 Mei 2018 - 11:36:15 WIB
0 | Kategori: Kolom |Dibaca: 209

Kenali.co, Indonesia kembali berduka atas aksi yang dilakukan oleh kelompok teroris di Surabaya. Ya, tragedi bom bunuh diri di 3 gereja sekaligus. Puluhan korban berjatuhan akibat peristiwa ini, ada yang tewas ada pula yang terluka. Peristiwa ini merupakan peristiwa besar yang melukai hati rakyat Indonesia. Namun seperti biasa, apabila terjadi suatu peristiwa yang menghebohkan maka akan banyak isu lain nya yang dikaitkan dengan peristiwa ini. Ada yang mengatakan bahwa peristiwa ini hanya pengalihan isu semata, ada pula yang mengaitkan nya dengan pemilihan presiden di tahun mendatang dengan semboyan “2019 Ganti Presiden!”, dan lain-lain. Akan tetapi di antara pengaitan isu-isu yang beredar, isu yang memiliki kaitan paling kuat adalah Islam. Islam kembali mendapat sorotan tajam atas peristiwa ini. Bagaimana tidak, pelaku dari bom bunuh diri ini sendiri menggunakan simbol keislaman yaitu cadar.

Sudah menjadi rahasia umum apabila ada kasus-kasus bom bunuh diri, dan Islam menjadi sorotan utamanya. Pengkaitan ini bukan tidak beralasan, berdasarkan fakta di lapangan sekitar 80% pelaku bom bunuh diri di Indonesia beragama Islam. Fakta ini tentu saja menimbulkan justifikasi yang menohok terhadap Islam. Hal ini pun saya alami sendiri, pada saat itu tanggal 15 Mei 2018 dua hari setelah peristiwa bom bunuh diri di Surabaya, saya dan teman-teman mengadakan rapat di Perpustakaan Wilayah kota Jambi awalnya kegiatan rapat ini berjalan lancar hingga kami memutuskan untuk beranjak karena waktu menunjukkan pukul 15.45 WIB pertanda sebentar lagi perpustakaan akan ditutup.

Ketika kami mengambil tas kami yang tersimpan di loker, terdengar suara yang berasal dari meja tempat karyawan di belakang kami. “Ha ini jilbab yang panjang-panjang ni yang biaso nyo ni” kami pun melirik ke belakang. Saya berasumsi bahwa Bapak tersebut merupakan pegawai di perpustakaan itu, karena seragam yang beliau kenakan sama dengan pegawai-pegawai lain yang lalu lalang ketika kami rapat. Kami tidak memperdulikan perkataan beliau, kami lanjut mengemasi barang-barang kami. Tak lama kemudian beliau kembali merespon “Dek, lain kali jangan bawa tas yang besak-besak (berukuran besar), kan dak tau tu isi nyo apo, bawak tas-tas yang transparan be”. Sebenar nya tas yang kami bawa hanyalah tas ransel biasa, saya dan teman-teman juga sudah paham dengan maksud beliau, namun kami lebih memilih untuk tidak menanggapi nya. Beranjak dari apa yang saya alami, saya pun berfikir saya dan teman-teman yang tidak mengenakan cadar saja bisa mendapatkan respon demikian bagaimana dengan yang menggunakan cadar atau yang berjanggut lebat. Lagi-lagi jastifikasi buta telah menyelimuti Islam.

Padahal bila dikaitkan dengan peristiwa bom bunuh diri ajaran Islam sangat bertolak belakang dengan hal tersebut. Faktanya Islam merupakan agama yang damai dan sangat menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama. Bisa dilihat dari perspektif sejarah ketika Khalifah Umar bin Khattab menaklukan Al-Quds, beliau membuat perjanjian yang berisi jaminan perlindungan pada umat Kristen dan tempat ibadah mereka, juga ketika Nabi Muhammad SAW di Madinah, beliau membuat perjanjian damai dengan kelompok-kelompok suku Arab yang non-muslim dan Yahudi. Perjanjian ini juga secara resmi ditanda tangani oleh mereka yang sepakat. Dalam sejarah perjanjian ini dikenal dengan Piagam Madinah, dan merupakan konstitusi pertama di dunia yang memuat dasar-dasar toleransi, harmoni, dan kebebasan beragama. Dan masih banyak lagi bukti-bukti bahwa Islam merupakan agama yang menjunjung tinggi toleransi.

Lalu mengapa masih saja ada oknum yang tidak bertanggung jawab melakukan hal yang di luar kemanusiaan dengan mengatas namakan Islam?. Logikanya begini, mengapa jalanan yang sudah diberi rambu-rambu lalu lintas, namun tetap saja ada yang nekat melanggar hingga terjadi kecelakaan dan menimbulkan korban jiwa? Di situ lah kekeliruan muslim yang sangat mungkin terjadi. Oleh karena itu, perlu diingat ketika ingin memberikan sebuah pembenaran terhadap suatu agama sangat penting untuk melihat Sumber ajaran agama tersebut bukan dari perilaku pemeluk nya. Begitu pula dengan Islam. Islam adalah agama yang sempurna yang tidak sempurna itu adalah muslim.

Belajar dari peristiwa yang terjadi di Surabaya, mari sama-sama intropeksi diri jangan sampai keberagaman menimbulkan rasa paling benar sendiri dan jika ingin mencari kebenaran cobalah untuk menarik kebenaran tersebut dari kaca mata orang lain, jangan anggap sesusatu itu salah hanya karena melihatnya dari satu sisi.

*Penulis adalah Mahasiswi Fakultas Adab dan Humaniora UIN STS Jambi

#News1


kenali.co