Degradasi dan Perubahan Paradigma Budaya Kaum Milenial
Oleh : M. Farid Nur Isnaini

Degradasi dan Perubahan Paradigma Budaya Kaum Milenial

Sabtu, 12 Mei 2018 - 06:08:11 WIB
0 | Kategori: Kolom |Dibaca: 256

Kenali.co, Dewasa ini acap kali sering dijumpai banyak muda mudi Tanah Air menjadikan budaya luar sebagai kiblat dalam berbudaya. Seperti sudah menjadi lifestyle, banyak budaya luar yang diadopsi kaum milenial dalam kesehariannya. Tak sepenuhnya salah memang , masuknya  ragam budaya asing sebagai bagian dari konsekuensi dari adanya globalisasi. Namun menjadi sepenuhnya salah apabila menjadikan menjadikan budaya luar sebagai entetitas tunggal dalam berbudaya dan melupakan keberagaman budaya tanah air.

Pada keseharian remaja milenial terutama di Kota-kota besar, sebagian individu menempatkan budaya impor semisal Amerika Serikat, Jepang, Inggris dan Korea Selatan sebagai puncak teratas dalam kiblat berbudaya. Memang tidak semua individu seperti itu, sebagian lainnya masih terlihat nyaman menjadikan budaya sendiri sebagai bagian dari kesehariannya.

Bijak dalam melihat ragam budaya luar, serta memegang teguh nilai dasar budaya asal adalah sebuah keharusan. Terutama bagi kaum milenial, karena mereka adalah perwujudan dari generasi berikutnya .Jika tidak demikian bukan tidak mungkin ragam budaya indonesia mengalami fase degradasi budaya, menyebabkan terjadinya perubahan paradigma budaya kaum milenial

Menurut hemat penulis banyak faktor yang mempengaruhi perubahan paradigama budaya kaum milenial. Kemudian penulis sederhanakan menjadi dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Dimulai dari faktor internal di mana suatu individu cenderung meniru sesuatu yang dianggap keren dan mendorongnya mengadopsi ragam budaya luar. Kemudian faktor eksternal di antaranya kemajuan dan kecanggihan teknologi dan komunikasi, kemajuan di sektor tersebut membuat individu dan golongan dapat dengan mudah mengakses dunia luar, dengan mudahnya individu dan golongan menjangkau dunia luar seperti menjadi jembatan akan terbentuknya dalam perubahan paradigma budaya yang dianggap keren. Kemudian yang faktor yang tidak dapat dipungkiri adalah munculnya selebritas yang menjadi idola baik  luar dan dalam negri yang mengadopsi budaya luar. Sebagai penggemar banyak individu atau golongan menjadikan idola mereka sebagai panutan dalam segala hal.

Banyak dampak dari masuknya budaya asing ke Indonesia baik dampak negatif maupun dampak positif. Di antaranya adalah kemungkinan hilangnya budaya murni karena campuran budaya lokal dan luar, bisa jadi tidak ada generasi penerus yang melestarikan budaya halaman. Kemudian yang tidak kalah mengkhawatirkan ialah masuknya budaya asing yang buruk lalu ditelan mentah mentah. Namun disisi lain tetap ada nilai positif adalah mempelajari kebiasaan, pola pikir dan perilaku bangsa luar yang maju sehingga mendorong kita dapat menjadi lebih baik dan maju.

Budaya Indonesia terlahir pada sejarahnya yang berakar kuat serta beragam dan menarik, sudah seharusnya kita bangga terhadap budaya sendiri. Beragam dan menariknya budaya Indonesia dapat dilihat dari banyaknya suku bangsa di tanah air, yang kemudian dari suku bangsa tersebut mempunyai ragam budayanya masing masing.Kemudian yang membanggakan kebudayaan Indonesia mulai menarik perhatian dunia, Banyak dari event-event internasional menyertakan budaya budaya Indonesia dalam setiap pagelaran mulai dari budaya batik, tari pendet, reog ponorogo dsb. Hal ini dapat diartikan budaya Indonesia mulai mendapat tempat di kalangan mancanegara

Di saat beberapa individu dan golongan menempatkan kebudayaan luar sebagai kiblat, justru masyarakat mancanegara malah melihat budaya Indonesia sebagai budaya yang unik dan elok. Jadi masih mau mengimpor kebudayaan luar atau memaksimalkan kebudayaan halaman sendiri?

*) Penulis adalah Mahasiswa Unja Semester 2/2018, tinggal di Perumahan Aur Duri No 199, Penyengat Rendah, Telanaipura Jambi

#News1


kenali.co