Macet di Kawasan Mendalo, Mahasiswa Unja Raja Jalanan
Suasana jalan Mendalo di depan Universitas Jambi, pada Rabu (11/4/2018).

Macet di Kawasan Mendalo, Mahasiswa Unja Raja Jalanan

Jumat, 13 April 2018 - 10:47:25 WIB
0 | Kategori: Berita Jambi |Dibaca: 435

Kenali.co, Pemandangan macet yang mengular di daerah Mendalo Darat hingga ke Simpang Rimbo merupakan pemandangan yang tidak asing lagi, terlebih pada saat jam pergi dan pulang kantor. Pemerintah agaknya telah selangkah lebih maju untuk mengatasi kemacetan ini dengan menghadirkan bus Trans Siginjai. Namun, hal ini ternyata tidak memberikan dampak yang besar bagi solusi kemacetan di Mendalo.

Zamroni selaku General Manager Trans Siginjai mengatakan antusiasme masyarakat sudah tinggi akan adanya Trans Siginjai ini. Namun, hal itu belum berhasil menarik mahasiswa Universitas Jambi (Unja) pada umumnya. Sebagai salah satu universitas dengan jumlah ribuan mahasiswa, Unja memang punya keterkaitan dengan kemacetan yang ada. ”Ya, mungkin mahasiswa sudah terbiasa dengan kendaraan bermotor dan domisili mereka dekat dengan kampus,” ujar Roni, yang ditemui di ruanganya, pada Selasa (11/4/2018),

Ditambahkannya, Damri sebagai operator diberikan 5 unit mobil untuk beroperasi. Rata-rata perhari bus Trans Siginjai mengangkut 300 orang penumpang, terdiri dari berbagai macam kalangan masyarakat. Ia menyayangkan banyaknya kendala dalam proses perjalanan Trans Siginjai salah satunya kendaraan umum yang berhenti di halte.

Dijelaskannya, di provinsi Jambi ada 6 lintasan Trans Siginjai yang dijadwalkan beroperasi dari jam 06.00-17.30 WIB. “Tahun 2018 ini, kepala dinas perhubungan akan menambah jumlah bus sekitar 30 unit, sehingga nantinya bus Trans Siginjai bisa sampai ke Candi Muarojambi dan bandara Sultan Thaha,” katanya.

Ia berharap berjalannya bus Trans Siginjai ini dapat seirama dengan program pemerintah, bahwa sebuah provinsi layaknya memiliki sebuah angkutan masa agar dapat membantu mengurai kemacetan yang ada.

Di sisi lain, Lismi Hastuti (35) salah satu penumpang bus Trans Siginjai saat ditemui mengatakan bahwa Trans Siginjai tidak ada hubungannya dengan kemacetan di Mendalo. “Iya, sebelum ada Trans Siginjai juga sudah macet,” kata Lismi.

Ia menerangkan bahwa kesadaranlah yang harus ada pada diri masyarakat terlebih mahasiswa unja. “Mahasiswa Unja ini kan raja jalanan, kalau mau keluar mereka keluar. Kalau mau masuk mereka masuk,” ujarnya.

Sebagai jalan lintas, kawasan jalan yang sempit, hal ini diperparah dengan ribuan mahasiswa yang membawa kendaraan bermotor apalagi dengan kendaraan mobil yang berlalu-lalang. “Macet kan sering terjadi pada jam mahasiswa keluar,” ungkapnya.

Dikatakan Lismi bahwa, kemacetan ini membuat dirinya resah. ”Pagi-pagi kalau terlambat, stres saya lewat sini,” ungkapnya.

Menurut pendapat Lismi, untuk dapat menarik minat mahasiswa harusnya di setiap halte ada tempelan waktu keberangkatan bus. Hal ini perlu agar mahasiswa tahu dan dapat memanfaatkan bus sebagaimana mestinya. “Kalau Trans Siginjai nya nyaman, waktu nya disesuaikan dengan jam pulang mahasiswa dan ada tempelan jadwal keberangkatan siapa tahu itu dapat menarik minat mahasiswa,“ pungkasnya.

Penulis: Novita Sari

 

#News1


kenali.co