Hujan Membawa Banjir, Saatnya Muhasabah Diri
Ilustrasi banjir
Oleh: Tri Wahyuningsih, S.Pi

Hujan Membawa Banjir, Saatnya Muhasabah Diri

Jumat, 13 April 2018 - 04:47:34 WIB
0 | Kategori: Kolom |Dibaca: 105

Hujan beberapa minggu ini mengguyur daerah Jambi, mulai dari kota hingga kabupatennya, di sepanjang hari dengan intensitas yang cukup deras, bahkan mendekati badai. Hujan yang deras ternyata membawa dampak yang cukup mengerikan untuk masyarakat, yakni banjir secara mendadak.

Seperti halnya yang terjadi di depan Universitas Islam Negeri Jambi wilayah Mendalo pada Minggu lalu (8/4/18). Secara mendadak ada kolam yang cukup dalam di jalan raya (red. Banjir). Banjir ini disebabkan karena hujan yang mengguyur sejak siang hingga sore hari dan tak adanya saluran irigasi yang memadai di sana. Tak hanya di Mendalo, banjir dadakan juga menghampiri wilayah Patimura dan Nusa Indah tepatnya di Perumahan Kembar Dua Lestari pada sore itu. (Redaksijambi, 8/4/2018).

Hujan dengan intensitas deras mampu membuat wilayah perkotaan tergenang dengan air, ini sepertinya bukanlah hal yang tabuh lagi bagi masyarakat. Artinya selalu berulang,tapi anehnya meskipun banjir ini menyusahkan, memperlambat aktivitas dan hal negatif lainnya yang disebabkan banjir, hingga saat ini tak ada solusi pasti dan tuntas akan kasus banjir sebab hujan ini. Bukankah manusia lebih segalanya dari keledai yang tak ingin masuk ke dalam lubang sama untuk kedua kalinya, lalu mengapa kini seolah-olah enggan untuk memperbaiki kondisi ini.

Banjir yang terus berulang sebab hujan yang tak sampai satu hari, jalan macet karena genangan air yang seharusnya tak ada di sana, dan hal lainnya yang terjadi mungkin bukan karena hujan banjir itu datang, tapi diakibatkan minimnya saluran air yang mampu menampung air hujan, lalu dapat mengalirkannya ke tempat semestinya yakni sungai ataupun danau. Dan bisa jadi banjir ini juga disebabkan menumpuknya sampah hingga menutup akses keluar masuk air serta hilangnya tanah yang berfungsi sebagai penyerap air terbaik tergantikan oleh semen dan gedung-gedung yang menjulang tinggi dan megah. Mirisnya lingkungan masyarakat kini. 

 

Banjir Karena Ulah Manusia

Banjir adalah bencana alam yang memang merupakan kehendak Allah SWT, tak ada manusia yang bisa menolak ketika Dia telah berkehendak menimpakan bencana ataupun Rahmat kepada manusia. Akan tetapi, Allah sebagai zat yang maha baik tak mungkin menimpakan sebuah kesusahan jika umat manusia tak memintanya baik secara langsung ataupun tidak, dalam artian sesungguhnya manusia sendirilah yang menyebabkan Allah memberikan peringatan berupa bencana alam seperti banjir kepada sebagian manusia. Peringatan yang Allah berikan bisa jadi karena sikap abai manusia menjaga lingkungan tempat tinggalnya atau yang lebih parahnya lagi adalah sikap sombong para penguasa negeri yang senantiasa mencampakkan hukum-hukum Allah kemudian menggantinya dengan hukum ala manusia yang penuh kelemahan dan hawa nafsu ini. 

Ya, bencana alam yang tak sedikit Allah hadirkan di setiap penjuru negeri khususnya wilayah sailun salimbai ini mungkin adalah sebuah peringatan, teguran keras yang Allah berikan atas sikap sombong dan abai para penguasa terhadap syariat Allah. Sikap mereka yang cenderung menjadikan dunia barat bersama aturan kafir sebagai pedoman kemudian diterapkan di tengah-tengah kehidupan kaum muslim inilah sesungguhnya bencana yang membawa bencana bagi dunia.

Betul, akar permasalahan dari semua bencana dan peringatan Allah adalah penerapan sistem kufur bernamakan Kapitalisme. Ideologi ini berasaskan materi dan materi, pemilik modal adalah aktor utamanya sedangkan rakyat hanyalah penonton pasif yang tak dipaksa tunduk akan semua kebijakan mereka.

Banjir yang terus berulang seharusnya menjadi tanda tanya besar tentang kemanakah uang yang digunakan untuk pembangunan proyek irigasi ataupun tempat penampungan air lainnya. Korupsi tentulah tak lepas dari pengadaan proyek pembangunan infrastruktur umum. Ketika uang telah berbicara maka catatan dosa bukanlah hal penting lagi dan neraka bukan lagi tempat menyeramkan untuk kembali nantinya. Inilah rusaknya sistem Kapitalisme berwajahkan kebahagiaan semu,barat senantiasa membawa pengikutnya pada kesesatan dan mengundang murka Allah. Dan kini haruskah masyarakat tetap berharap akan adanya sebuah perubahan sempurna dari sistem bobrok ini ? 

 

Syariat Islam Sebagai Solusi Banjir 

Harus disadari bahwa syariat Islam adalah khithâb asy-Syâri‘ atau seruan Pembuat Hukum (yaitu Allah) yang menyangkut perbuatan-perbuatan hamba-Nya (manusia), baik yang menyangkut hubungan manusia dengan Khaliknya, dengan dirinya sendiri, serta dengan manusia lain, termasuk terhadap lingkungan. Singkatnya, syariat Islam itu berisi sekumpulan peraturan, undang-undang, hukum, yang terkait dengan seluruh aspek kehidupan manusia. Tidak ada satu perkara pun yang lolos dari syariat Islam, karena kesempurnaan syariat ini mengharuskan cakupannya bersifat menyeluruh.

Syariat Islam juga ‘ditawarkan’ kepada umat manusia sebagai penjelas, rahmat, kabar gembira, termasuk solusi bagi seluruh problem manusia. Aturan ini diciptakan oleh Zat Yang tidak memiliki kelemahan dan tidak merusak kehidupan manusia. Oleh karena itu, aturan ini pasti sempurna. Allah SWT berfirman: “Kami telah menurunkan kepadamu al-Kitab (al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu, petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS an-Nahl [16]: 89).

Dengan demikian, akibat ulah manusia yang tidak mengikuti aturan-aturan (perintah-perintah dan larangan-larangan) Allah SWT dan Rasul-Nya, manusia menerima akibat dari perbuatan-perbuatannya, termasuk bencana banjir! Lalu syariat di aspek apa saja yang memberikan solusi terhadap masalah banjir?

 

Syariat Ekonomi Islam

Salah satu cabang syariat Islam terpenting yang saat ini banyak dilupakan adalah syariat ekonomi Islam, terutama perkara yang menyangkut kepemilikan dan tanah. Islam membagi kepemilikan menjadi  kepemilikan umum, pribadi, dan negara. Kepemilikan umum di antaranya mencakup sumber alam separti minyak bumi, tambang emas, perak, tembaga, dan lain-lain; benda-benda yang pembentukannya tidak mungkin dimiliki individu-separti masjid, jalan raya; juga benda-benda vital yang dibutuhkan dan dicari-cari oleh manusia dan memiliki jumlah kandungan (deposit) yang amat besar, misalnya sumber mata air. Rasulullah saw. bersabda: “Manusia berserikat atas air, api dan padang rumput.” (HR Ahmad dan Abu Dawud).

Kepemilikan umum ini tidak boleh dialihkan oleh negara dengan menyerahkan pengelolaannya kepada pihak lain (menjadi dikuasai pribadi, baik swasta nasional atau asing). Pengelolaannya dilakukan oleh negara, mewakili rakyat. Oleh karena itu, kawasan-kawasan vital dan berfungsi sebagai penyeimbang dalam siklus air, daerah resapan air yang pada umumnya berupa bukit-bukit, hutan, gunung, pantai, daerah aliran sungai tidak boleh diubah menjadi milik pribadi. Negara tetap mengontrol daerah-daerah tersebut sebagai ‘daya dukung’ alam terhadap populasi manusia. Negara tidak berhak mengubah kepemilikan umum (milik masyarakat) menjadi milik individu, apa pun dalihnya. Selain itu, Islam memiliki seperangkat aturan/hukum yang bersifat spesifik dan berkaitan dengan tanah. Islam mendorong umat manusia untuk mengelola tanah secara produktif. Tanah-tanah terlantar (yang dibiarkan tidak tergarap, meskipun berpotensi subur) akan menjadi hak milik si penggarap. Syaratnya, selama tanah tersebut dikelola dan digarap. Rasulullah saw. bersabda: “Siapa saja yang telah menghidupkan sebidang tanah mati maka tanah itu adalah miliknya.” (HR al-Bukhari).

Dengan pengaturan yang jelas terkait kepemilikan ini, maka tak akan ada lagi pengambilan lahan kosong oleh Negara kemudian di perjual belikan ke pasar lelang yang nantinya di beli oleh para Kapital untuk membangun perumahan atau swalayan semisalnya. Inilah Islam dengan semua kemaslahatan yang akan diraih ketika menerapkannya secara sempurna dalam seluruh aspek kehidupan. Banjir akan teratasi dengan baik, sebab Negara sendirilah yang mengatur, mengontrol tatanan tempat tinggal masyarakat agar selalu seimbang dengan ekosistem alam yang ada. 

Dan oleh sebab itu, maka wajib bagi kaum muslim untuk mengetahui dan menyadari hukum-hukum Islam yang komprehensif, solutif dan wajib diterapkan secara total beserta Institusi Negaranya, agar kaum muslim dan umat manusia lainnya mendapatkan kemewahan syurga dan kesejahteraan hidup dunia. [Wallahu’alam]

*) Penulis adalah tenaga pengajar tempat pendidikan swasta

#News1


kenali.co