Menyoal Politisasi Puisi, Mahasiswa Angkat Bicara
Salah satu gambar yang beredar di media sosial tentang puisi yang dibacakan Ganjar Pranowo

Menyoal Politisasi Puisi, Mahasiswa Angkat Bicara

Senin, 09 April 2018 - 10:52:54 WIB
0 | Kategori: Berita Jambi |Dibaca: 1366

Kenali.co, Jambi (9/4/18), ramainya status di berbagai media sosial seperti WA, Instagram, dan Facebook yang menyoal tentang puisi yang dibacakan oleh calon gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di sebuah acara televisi, membuat pemberitaan tersebut menjadi viral. Beberapa konten secara langsung menyebutkan bahwa hal itu merupakan salah satu bentuk penistaan agama. Sontak saja hal itu pun menjadi banyak diperbincangkan.

Umat Islam secara umum tampak mengernyitkan dahi pada puisi tersebut, sebab secara bahasa  mengisyaratkan sebuh pertanyaan mengenai azan. Kau bilang tuhan sangat dekat/ kau seniri memanggil-mnggilnya/ dengan pengeras suara setiap saat/.

Dilansir dari berbagai media, hal itu seolah memojokkan umat Islam. Bukan hanya itu, larik puisi tersebut terlihat tidak sesuai dengan kenyataan. Bahwa memanggil dengan pengeras suara atau yang diartikan dengan azan itu sebenarnya ditujukan untuk memanggil orang-orang ke masjid, bukan memanggil tuhan.

Sementara di sisi lain, puisi sebagai media ekspresi menjadi ruang yang tepat untuk menyampaikan gagasan. "Puisi tidak hanya di maknai secara bahasa, tapi ia juga perlu ditelaah dari sudut pandang makna dan dunia pengarang nya,“ ucap Nani Fitri Ramadhani salah satu mahasiswa program studi sastra Indonesia Universitas Jambi.

Maraknya kecaman terhadap puisi yang dinilai menyinggung umat Islam akhir-akhir ini turut menjadi perbincangan hangat.

Memang puisi yang berjudul "kau ini kenapa atau aku yang harus bagaimana" karya KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gusmus) ini bukan puisi baru. Ia telah ada sejak tahun 80-an. Puisi tersebut dibuat untuk menyuarakan pendapat pada pemerintah kala itu. Dalam masa politik tahun 2018 ini, segala sesuatu perlu dipertimbangkan oleh paslon yang akan bertanding, termasuk membacakan sebuah puisi. Mengingat akan banyak nya penilian pro-kontra yang membumbuhi hal tersebut.

Di tengah arus teknologi yang tak terbendung ini, kita harus bijak dalam memilih dan memilah informasi. Tak heran banyak akun yang sengaja dibuat untuk mendukung atau menjatuhkan orang perseorangan maupun kelompok serta lembaga tertentu. 

"Menyikapi hal ini, mungkin pak Ganjar tidak menyesuaikan antara puisi yang dibaca dengan keadaan sosial politik masyarakat saat ini," ungkap Nani. 

Ditambahkannya, memang banyak isu akhir-akhir ini yang menjurus pada umat Islam. Namun, sebagai umat agama terbesar di Indonesia kita juga jangan mudah terprovokasi. (*)

Penulis: Novita Sari

#News1


kenali.co