Hael Pulang Part 2: KABAR BURUNG
Ilustrasi
Oleh: Soni Afriansyah

Hael Pulang Part 2: KABAR BURUNG

Minggu, 11 Maret 2018 - 19:19:46 WIB
0 | Kategori: Lifestyle |Dibaca: 247

Kenali.co, Hujan di awal Maret yang membasahi seluruh bagian-bagian bumi yang terpecik air suci itu. Di dahan pelam yang rapuh, tampak seekor burung Gereja yang mengibas-ngibaskan sayapnya yang basah kemudian ia kedinginan.

Hujan itu nikmat dan berkah, tapi sebagian orang menganggapnya sebuah bencana. Dengan hujan kita bisa merasakn kesejukan jika dalam kepanasan, merasakan kenangan terdahulu saat bersama orang-orang yang tersayang. “slurppp” suara emak Ani yang tengah minum kopi diruang tamu.

Hujan kini sudah cukup reda, sehingga terdengar suara ia yang berbincang-bincang dengan anaknya Linda. Ia meminta pendapat Linda tentang palawija yang bagus untuk ditanam di musim hujan ini. Tanah desa yang tidak begitu subur itu hanya bisa menanam singkong saja ketika musim panas, berbeda halnya jika musim hujan, tanah begitu gembur sehingga bisa saja menanam ubi jalar, cabe dan lain-lain.

Linda berpendapat bahwa ibunya harus menanam kedelai karena 2 bulan kedepan ada kenduri pernikahan temanya Dewi Parwati. Alasannya ia ingin berjualan kacang rebus di pengantinnya. Dengan demikian bisa nambah uang jajan dan membantu emak Ani. Emak Ani hanya tersenyum lepas mengingat ide cemerlangnya.

***

Linda berteriak dari kamar ibunya. Mengenai pakaian yang akan ia pakai, ia bertanya kelayakannya, berputar badan memamerkan gaun merah dari kawannya dewi pawati. Ibunya hanya tersenyum dan mengatakan iya. Ia heran dengan semangatnya luar biasa. Siapa yang menikah siapa pula yang senang luar biasa, di dalam hati mak Ani. Sembari Linda terus bersolek di depan cermin, mak Ani ke dapur menyiapkan sesuatu yang hendak dibawanya. Mak Ani membawa pisang sesisir, karea ia tidak begitu punya uang. Kadang ia menukarkan berasnya dengan hasil barter pisang. Ia menyekolahkan hael anak sulungnya saja karena bantuan dari pemerintah. Hael anak yang begitu berprestasi mendapatakan kesempatan kuliah dengan bantuan beasiswa Bidikmisi.

Seusai Linda bersolek, ia pun bergeggas pergi bersama ibunya. Ia menenteng kacang rebus di dalam baskom yang diselimuti oleh kain untuk dijual di pernikahan nanti sedangkan ibunya menenteng pisang sesisir yang berada di dalam kresek warna hitam. Di perjalanan mereka ketemu dengan seseorang yang berbadan tinggi tegap yang menu padanya.

“Buk, Anakmu pulang hari ini, katanya ia sudah ada di pernikahan itu” kata bapak tua berkaca mata itu dengan nada terburu-buru.

Dengan mendengar kabar tersebut, mak ani langsung  bergegas dan mempercepat langkahnya,  ia tidak menanyakan apa apa lagi kepada orang itu. Ia begitu rindu dengan  Hael yang sudah satu bulan tidak pulang.

Sesampainya di kenduri, ia terperangah. Ia menyaksikan dua orang yang mulai membina rumah tangga, dialah Azizan dan Dewi Parwati. Azizan seorang yatim piatu tetapi ia rajin dan gemar membantu sesama. Ia bahkan telah memiliki mobil dan rumah sendiri akibat jerih payahnya mengelola kebun kelapa peninggalan bapaknya.

Sedangakan Dewi Parwati seorang yang terpandang di desa, ia merupakan anak lurah yang telah menjabat sebagai PNS dan bekerja sebagai sektretaris kecamatan. Sungguh dari latar belakang yang berbeda, tetapi tidak ada halangan selama itu dalam lingkupan cinta. Cinta tidak memandang kamu siapa dan bagaimana tetapi bagaimana saling memahami dan bersinergi satu sama lain. sekali-kali terdengar sorakan penonton ketika acara King dan Queen, dimana Azizan menyuapi Dewi Parwati pertama kalinya dengan kue pengantin yang disaksikan oleh para undangan. Begitu romantisnya, dengan pakaian pengantin yang berwarna hijau dengan adat jawa yang begitu kental.

Sedangkan di sudut keramaian, semilir angin menggoyangkan helaian janur kuning tepat di depan orang yang berdiri mematung. Ia menangis karena telah bertanya ke seluruh orang kampung perihal kedatangan anaknya, satu persatu telah ia tanya apakah berjumpa dengannya. Akn tetapi, ia selalu mendengar kata tidak. Kemudian Linda memeluknya dari belakang, dan berkata “ Mak, tadi itu yang berkata bahwa abang pulang rupanya orang strees kampung sebelah, soalnya tadi saya Nampak dia juga mengatakan hal yang sama kepada semua orang “ kata Linda sedikit menurunkan nada suaranya.

Ani terbelalak, dan megahpus air matanya dengan cepat seraya menyumpah.
Kamprettttttt

Mendalo, 11 Maret 2018
#cerpen ini merupakan fiktif belaka jika terdapat kesamaan nama tokoh dan alur cerita itu hanyalah sebuah kebetulan saja

#News1


kenali.co