TAK KUNJUNG LELAH
Budayawan Jambi, Junaidi T Noor
Junaidi T Noor

TAK KUNJUNG LELAH

Sabtu, 25 Maret 2017 - 10:44:36 WIB
0 | Kategori: Lifestyle |Dibaca: 454

Kenali.co, Cara pandang masyarakat primitif yang diteruskan oleh masyarakat yang mengklaim dirinya masyarakat modern itu terkadang membuat kita gamang dan merisaukan. Terjadi perubahan yang besar terhadap orientasi budaya. Nilai-nilai budaya yang telah diajarkan secara turun temurun untuk diwarisi dan nilai-nilai agama yang telah diajarkan semenjak dini secara perlahan telah bergeser dan makin jauh. Rasa malu, rasa keadilan, rasa keindahan, rasa kebersamaan berubah berketerusan tanpa dapat dicegah oleh siapapun.

Perubahan itu dianggap sebagai ekses, akibat samping dari kehidupan dunia modern dan globalisasi. Tidak bermaksud melebihkan, bahwa mass medialah yang membuka gerbang pagar masuknya nilai-nilai budaya asing dan budaya pop yang serba instan ke rumah-rumah. Kita tidak pernah menyalahkan diri kita sendiri, bahwa perubahan yang terjadi itu juga disebabkan oleh sikap budaya dan kesalahan dalam memperlakukan dan memandang nilai-nilai lama itu sebagai sesuatu ambigu, nisbi, tidak relevant dengan perkembangan dunia.

Hari ini seakan masyarakat kehilangan “rujukan” karena perlakuan masyarakat kita sekarang terhadap kebudayaan lebih memandang kepada material, sosok, wujud, bukan kepada perlakuan atau proses keberadaan. Masyarakat kita lebih percaya kepada material yang secara umumnya halal, bukan kepada perlakuan yang menyebabkan material menjadi haram. Semua itu dapat dilihat pada perlakuan atau proses pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, agama, budaya dan seni.

Satu dari yang tinggal sedikit itu ialah H. Junaidi T. Noor. Ia terlahir dengan nama kecil Jahidin. Karena sesuatu dan lain hal, oleh neneknya diganti menjadi Junaidi. Dilahirkan di Tanjungkarang-Lampung, 27 April 1947 dari rahim Bunda seorang Sunda dan Ayahnya dari Minang bernama Tajudin Noor (Tentara). Junaidi sudah menjadi orang Jambi sejak usia 4 tahun, belajar di SR, SMP, SMA sampai D3 Perguruan Tinggi diselesaikan di Jambi. Sarjana-nya di Institut Ilmu Pemerintahan IIP Jakarta Jurusan Pembangunan (1981). S2 bidang Manajemen LPMI - Jakarta (2001). Semua bidang seni disukainya, hobbi membaca, menulis dan menggeluti kebudayaan sudah sejak SMA dilakukan.

Kariernya dimulai sebagai PNS tahun 1969 sebagai Guru SD, kemudian "misbar" dan mengikuti Pendidikan Kedinasan APDN Jambi, 1971-1974, usai pendidikan ditugaskan di Kantor Camat Muarasabak, 1974-1979. Selesai Pendidikan IIP ditugaskan di Kantor Gubernur Jambi, 1981-1996. Dipercaya sebagai Kepala Bidang di Dinas Pariwisata Provinsi Jambi, tidak lama kemudian dialihtugaskan menjadi Ketua Bappeda Kabupaten Bungo-Tebo, 1997-1999. Selanjutnya kembali ditugasi sebagai Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Jambi, 1999-2001. Menjabat Kepala Biro Organisasi dan Hukum Setwilda, 2001-2002. Dipercaya menjadi Wakil Ketua Bappeda Provinsi Jambi, 2002-2003. Kemudian menjabat Asisten I Sekda hingga tahun 2006, selanjutnya dipercaya sebagai Ketua Bappeda Provinsi Jambi hingga purnabaktinya pada tahun 2008. Namun tidak berakhir di sini H. Junaidi T. Noor diperbantuka menjadi staf khusus Gubernur Jambi  (2014) .

Sepertinya perjalanan ini sangat melelahkan, satu hal yang menarik dari perjalanan karir birokrasinya, sejak diangkat menjadi PNS “tidak mengalami menjadi staf” justru setelah pensiun Ia ditunjuk langsung oleh Gubernur Jambi H. Zulkifli Nurdin menjadi Staf Khusus hingga sekarang mendampingi Gubernur Jambi H. Hasan Basri Agus masih sebagai Staf Khusus. Dan justru karena itu pula, masyarakat lebih mengenal H. Junaidi T. Noor sebagai budayawan ketimbang sebagai birokrat, karena kerapkali hadir dalam berbagai peristiwa budaya atau ceremonial kebudayaan.

Karya-karya budayanya banyak beredar dan mudah diapresiasi masyarakat, telah tercatat beberapa karya tekstual, ungkapan, gagasan, dan pemikiran-pemikiran dan keberpihakannya terhadap kebudayaan sangat membantu seseorang memahami makna kehidupan. Karena itu, kalau kita sendiri tidak bisa mengidentifikasi kehendak kebudayaan bangsa, maka bangsa kita akan kesulitan sampai pada tujuannnya” Ungkapan ini yang menggiring untuk bergegas menelusuri jejaknya.
Sejak menjadi pelajar di SMAn.2 Kota Jambi Ia sudah aktif menulis naskah sandiwara, puisi, dan artikel budaya. Seiring perkembangan kesukaannya Ia juga sempat menjadi penyiar radio bersama rekannya Yun Mastur, Hazi Yuzar, dan teman-teman lainnya, mereka mengasuh acara kesusastraan Jambi hingga menjadi mahasiswa di APDN. Tahun 1996, H. Junaidi T. Noor harus lebih cermat memberdayakan sisa waktu tugasnya untuk aktif di Dewan Kesenian Jambi (sebagai Ketua-I DKJ) tetapi belum genap satu periode Ia harus beralih tugas ke Kabupaten Bungo-Tebo, dalam keterbatasan ini pun Ia sempat menerbitkan 2 buah buku, satu diantaranya berjudul “Geografi Pariwisata Bungo-Tebo” yang menawarkan berbagai potensi wisata dan sejumlah cerita rakyat termuat dalam buku tersebut.

Kemudian saat dipercaya sebagai Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi, sangat banyak gagasan-gagasan budayanya termasuk mendukung penerbitan beberapa buku tentang kesenian Jambi. Sejalan dengan itu H. Junaidi T. Noor menggagasan terselenggaranya “Kemah Budaya” memperpadukan beberapa institusi dan melibatkan ratusan siswa-siswi dan pramuka di Provinsi Jambi. Kegiatan tersebut sebagai upaya meningkatkan apresiasi Kesenian Melayu Jambi dan Sejarah Kebudayaan Jambi yang kali pertama dilaksanakan di Situs Percandian Muarajambi. Kemudian kegiatan serupa ini diadopsi menjadi kegiatan tingkat nasional oleh Kementerian Pariwisata RI.

Di samping kepadatan kegiatannya H. Junaidi T. Noor harus juga siap membagi waktu untuk berbakti sebagai pengurus Lembaga Adat Melayu Jambi. Tentu saja di institusi ini pun Ia berkesempatan untuk menutur-tularkan tentang pemahaman adat istiadat Melayu Jambi kepada para tokoh adat di Desa dan Kelurahan sebagai pembekalan aparatur perdesaan di wilayah Provinsi Jambi. Berbagai potensi kearifal budaya lokal Ia angkat menjadi artikel dan usulan sebagai program pemerintah. H. Junaidi T. Noor kemudian tergabung dalam penelaahan busana khas Melayu Jambi, seperti “kuluk” sebagai tudung kepala wanita dan “telukbelango” sebagai busana khas pria Melayu Jambi.

Seiring perjalanan itu, semenjak di bangku SMA H. Junaidi T. Noor sudah tertarik tentang sejarah sementara Ia belajar di jurusan eksak. Sekitar tahun 2001 muncul lagi kegelisahan itu untuk memperdalam sejarah Jambi. Atas kesungguhannya, tujuh tahun kemudian karya-karya tulisnya diterbitkan dalam buku “Mencari Jejak Sangkala” (2007) lebih kurang 26 artikel sejarah Jambi termasuk memuat kembali Silsilah Raja-raja Jambi, buku tersebut dihantarkan oleh Prof. Dr. Susanto Zuhdi dari Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Kehadiran buku ini disambut antusias oleh masyarakat Jambi, meski buku ini pun pencetekannya dibiayai sendiri dan dibagikan gratis. Bersyukur cetakan kedua (2011) dibiayai penuh oleh The Society of Muarajambi Temple (The Somt). Berikutnya Ia pun membukukan kisah sejarah berpola pantun tentang PercandianMuarajambi dalam judul “Nandung Batu Pelangi” yang didukung sepenuhnya oleh The Society of Muarajambi Temple (The Somt). Di penghujung tahun 2012 H. Junaidi T. Noor menyusun ratusan bait pantun dalam buku berjudul “Pantun Titah”  terbagi dalam buku 1 dan 2 diterbitkan ekslusif oleh Pemprov Jambi. Sejumlah karya tulisnya sebentuk manuskrip belum semua terhimpun, buah karya ini sebagai makalah kebudayaan yang telah disampaikan/dipublikasikan dalam forum seminar atau sarasehan di berbagai tempat dan event, terutama kepada mahasiswanya di Universitas Batanghari Jambi.

Hingga hari ini, semangatnya tidak pernah punah memberikan bimbingan dan referensi tentang kebudayaan. Ia juga sebagai pemilik dan Ketua Lembaga Jambi Warisan “Jambi heritage” dianggap sebagai sosok yang mampu melepaskan diri dari kecenderungan polarisasi dalam banyak hal. Seperti polarisasi antara kebudayaan modern dan kebudayaan tradisional. H. Junaidi T. Noor adalah budayawan, sejarawan, dan tentu saja ia pun seniman, dengan kelakarnya yang khas, tak jarang di forum seminar yang dianggap serius, para peserta harus tertawa dan riuh bertepuk. Kehadirannya di setiap kalangan sungguh disambut sebagai orang tua, terkadang dijuluki sebagai “kamus berjalan”. H. Junaidi T. Noor seumpama Batanghari yang terus mengalir mengairi dan mengarahkan sampan-sampan  agar sapai ke muara. Terimakasih Pak Jun. ***

#News1


kenali.co