Masyarakat Jambi Jangan Segan-Segan Laporkan Dugaan Mal Praktek

Masyarakat Jambi Jangan Segan-Segan Laporkan Dugaan Mal Praktek

Kamis, 25 Agustus 2016 - 09:30:00 WIB
0 | Kategori: Berita Jambi |Dibaca: 500

Kenali.co,  JAMBI, - Wahyu Indrawan selaku pihak pelapor dalam kasus dugaan mal praktek, mengatakan bahwa dirinya sangat puas atas putusan sidang. Sebab, kasus ini sudah berjalan kurang lebih selama 3 tahun.

"Memang dalam sidang tadi disebutkan bahwa yang terdapat inkonsistensi dari sang dokter. Artinya si pasien ini sakitnya apa, terus tindakannya apa itu tidak konsisten, yang mengakibatkan anak pertama kami itu meninggal," katanya, Rabu (24/8/2016).

Menurutnya, kelalaiannya adalah dokter tersebut tidak melakukan upaya persalinan yang cepat dan tepat.

"Ada semacam salah memasukkan obat, dan mengakibatkan istri saya waktu itu seperti keguguran, sehingga bayi itu meninggal," tambahnya.

Menurut dia, peristiwa ini terjadi pada tahun 2012 yang lalu di RS Siloam. Ketika itu yang menangani persalinan inisialnya adalah dr GU SpOG.

Ia mengajak seluruh masyarakat jika mengalami kejadian atau tidak puas dengan pelayanan rumah sakit yang mengakibatkan cacat atau meninggal dapat melaporkan ke Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) dan tidak dipungut biaya apapun.

Diberitakan sebelumnya, Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDI) memutuskan memberi sanksi pembekuan izin praktek, terhadap dokter SPOG selama 3 bulan. Dokter tersebut sebelumnya pernah bertugas di Rumah Sakit Siloam yang dahulunya bernama Rumah Sakit Asia Medika, inisialnya dr GU SpOG.

Sanksi ini diberikan karena dokter tersebut melanggar disiplin dalam menangani istri pasien dari Wahyu Indrawan, saat hendak melahirkan hingga mengakibatkan sang anak meninggal. Anggota Majelis Pemeriksa Disiplin (MPD), M Lutfi Hakim mengatakan bahwa memang ada pelanggaran disiplin, yang menyangkut melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan, atau tidak melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan.

"Ini menyangkut yang seharusnya itu dilakukan tapi tidak dilakukan," katanya.

Ia mengatakan bahwa seharusnya dokter harus menjalankan praktek secara cermat, hati-hati dan penuh tanggungjawab.

"Kalau tidak sesuai, itu bisa dianggap sebagai pelanggaran disiplin," tambahnya.

Lutfi mengatakan, pelanggaran disiplin dalam dunia kedokteran dibedakan menjadi dua, yaitu pelanggaran peraturan kedokteran dan pelanggaran ilmu kedokteran.

"Ini yang dilanggar ilmu kedokteran," ujarnya.

Ia mengatakan, sebenarnya maksimum pencabutan izin praktek bagi dokter yang melanggar adalah 2 tahun. Akan tetapi, MPD memutuskan memberi sanksi pencabutan selama 3 bulan dengan ketentuan dokter yang bersangkutan mengikuti pendidikan.

"Terhitung nanti dikeluarkannya SK dari KKI," katanya.

(Ali)

#News1


kenali.co