Kenali Skizofrenia, Penyakit Gangguan Jiwa
Ilustrasi. Foto: pixabay.com

Kenali Skizofrenia, Penyakit Gangguan Jiwa

Rabu, 11 Oktober 2017 - 10:13:35 WIB
0 | Kategori: Lifestyle |Dibaca: 75

Kenali.co, Berbagai tekanan hidup yang dihadapi seseorang seringkali membuat seseorang stres bahkan berujung depresi. Salah satu penyakit gangguan kejiwaan yang kini semakin populer adalah Skizofrenia.

Skizofrenia adalah gangguan kejiwaan atau gangguan mental yang ditandai dengan gangguan proses berpikir atau gangguan jiwa berat.

Dilansir dari Jambione, Dalam momentum Hari Kesehatan Jiwa, penting bagi masyarakat untuk menghilangkan stigma-stigma terhadap seseorang dengan gangguan jiwa serta mengenal apa itu skizofrenia. Tekanan hidup seperti pengambilan keputusan di bidang pendidikan, bekerja, dan masalah asmara, seringkali membuat seseorang merasa tertekan.

Lalu kapan seseorang mengalami atau rentan terpapar gejala awal Skizofrenia?

Pakar Kesehatan dari Departemen Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) Prof. Dr. Budi Anna Keliat, S.Kp., M.App.Sc menjelaskan, ketika seseorang memasuki usia 15-25 tahun akan mengalami psikosis tahap awal atau early. Di tahap itu, seseorang akan mengalami prodroma atau gejala awal.

Tanda-tanda galau itu sebetulnya sudah mulai mendapatkan pertolongan. Di tahap awal, penderitanya sudah mulai merasakan halusinasi. Namun, kata Budi, di tahap awal ini atau early psikosis terkesan orang dengan gangguan jiwa cepat pulih atau nampak tak seperti orang sakit.

“Mulai dengar suara-suara atau halusinasi. Namun di tahap ini mulailah seolah (kerasukan) dan keluarga membawanya ke alternatif. Pada kejadian early psikosis karena sepertinya pulih, tetapi tak mendapatkan pengobatan karena keluarga menganggapnya sudah sembuh,” ujar Budi di RS Marzoeki Mahdi, Bogor.

Tetapi apa yang terjadi selanjutnya, setelah 5 tahun tak mendapat pengobatan disebut dengan duration untreated psikosis. Orang dengan gangguan jiwa terlihat sehat, tetapi sebetulnya tak ditangani.

“Karena begini ya, coba tolong masyarakat memahami dan menghapus stigma orang dengan gangguan jiwa. Gangguan jiwa itu enggak semuanya terganggu. Gangguan jiwa sama dengan penyakit lain, seperti hipertensi yang jika tak minum obat teratur atau ada pemicunya, bisa kambuh lagi. Begitu juga dengan orang dengan gangguan jiwa,” tegas Budi.

Budi menegaskan, sejak diterbitkannya Undang-Undang Kesehatan Jiwa nomor 18 tahun 2014, tak boleh lagi masyarakat menyebut seseorang dengan sebutan ‘gila’ pada orang lain. Namun mereka yang menderita gangguan jiwa disebut dengan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).

“Tak boleh lagi bilang gila. Karena kalau gila bukan penyakit. Kalau bilang gila, justru malah makin down,” tukasnya.

ODGJ dibagi dua sesuai Undang-Undang, yakni pertama, gangguan mental emosional. Jumlahnya 6 persen di Indonesia. Kedua, gangguan jiwa berat, konotasinya sama seperti Skizofrenia. Jumlahnya 0,17 persen sesuai data Riskesdes 2013.(*)

#News1


kenali.co