SUKU KW; KETIKA IDENTITAS BUDAYA TERKIKIS
Oleh: Fauziah Syahraani

SUKU KW; KETIKA IDENTITAS BUDAYA TERKIKIS

Jumat, 19 Mei 2017 - 09:38:16 WIB
0 | Kategori: Kolom |Dibaca: 220

Kenali.co, Sering kali kita mendengar istilah KW (dibaca; kawe). Sebenarnya, istilah KW merupakan singkatan dari ‘kwalitas’ yaitu kata lain dari kualitas (mutu). Pemakaian istilah KW selalu diikuti dengan angka seperti KW 1, KW 2 dan seterusnya. Angka-angka tersebut menunjukkan kualitas yang ada, semakin tinggi angkanya maka semakin jelek kualitasnya. Untuk barang dagangan, istilah KW ini juga sering digunakan untuk merujuk pada barang tiruan. Barangnya persis sama dengan yang asli, tapi kualitasnya jauh berbeda. 

Pada artikel kali ini, saya tidak sedang membahan barang dagangan. Istilah KW ini akan saya masukkan pada kehidupan sosial kemasyarakatan menyangkut suku bangsa. Sudah sama-sama diketahui bahwa Indonesia kaya akan suku bangsa. Saya juga memiliki salah satu dari ribuan suku bangsa itu. Suku adalah suatu golongan manusia yang anggota-anggotanya mengidentifikasikan dirinya dengan sesamanya, biasanya berdasarkan garis keturunan yang dianggap sama. 

Ada fenomena menarik yaitu suku ‘KW’. Ya! Suku Kw terdengar asing di telinga karena biasa mereka menyebutnya dengan menyandengkan nama suku tertentu secara langsung kemudian di tambah dengan kata KW. Saya memiliki pengalaman menarik mengenai hal ini. Beberapa waktu  lalu, saya baru saja pindah ke asrama bertemu teman baru dari berbagai daerah. Salah seorang teman baru saya bertanya “Sukumu apa?”. Tentu dengan percaya diri saya  menjawab, “Bugis.” Lalu mereka meminta saya untuk  mengajarkan berbahasa Bugis. Namun dengan berat hati saya mengatakan, “maaf, saya tidak bisa, berbicara saja masih terbata-bata”.  Sontak mereka berkata “Oh jadi kamu Bugis KW”.  

Berangkat dari pengalaman itu saya pun mulai sadar, betapa munafiknya diri saya saat itu, bahkan sekarang.  Namun pengalaman itu saya jadikan sebagai tamparan bagi diri saya untuk lebih mengenali suku yang menjadi identitas saya. Hal yang sama pun ternyata juga saya temukan pada diri anak muda zaman sekarang terutama teman-teman sebaya. Namun anehnya mereka masih belum menyadari akan hal ini, mereka masih nyaman akan sebutan itu bahkan dengan berani mereka mempromosikannya sebagai bahan candaan.

Terjadinya fenomena ‘suku KW’ ini tentunya dilatarbelakangi oleh banyak factor. Bisa faktor lingkungan dimana keberadaan dari suku tersebut adalah minoritas, pengaruh perkembangan teknologi, trend dan sebagainya. Perkembangan teknologi sangat nyata membuat anak-anak muda Indonesia melupakan identitas budaya. Mereka lebih mengenal budaya luar ketimbang budaya nenek moyang mereka sendiri.

Lihat saja, pernah saya mendengar teman saya bisa berbahasa Korea karena pengaruh seringnya nonton film Korea. Bahkan mereka tahu banyak tentang budaya dan kehidupan negara tersebut. Tapi mirisnya, ketika saya memintanya untuk menceritakan tentang sukunya sendiri, dia mejawab “aku tidak tau, di kampungku saja jarang orang becakap menggunakan bahaso suku”. saya hanya tersenyum mendengar jawabannya, cukup saya jadikan bahan renungan saja jawaban itu.

Kepada generasi muda, kita adalah generasi penerus bangsa, bagaimana kita mau mengenali identitas Negara kita jikalau identitas diri sendiri saja masih samar-samar. Kita sudah hanyut di bawa oleh arus globalisasi, bahasa suku kita telah di ganti oleh bahasa-bahasa alay, negara  lain yang lebih “keren” dari bahasa suku sendiri.

Sekali lagi, sebagai penerus bangsa sudah saatnya kita menyadari akan hal ini. Jangan lagi dianggap sepele karena jagan sampai suatu saat anak cucu kita merasa asing dengan bahasa, budaya dan bangsanya sendiri.  Masih belum terlambat. Mulai lah untuk bebenah dan kenalilah identitas diri sendiri. Jangan miliki suku KW. Imitasi! 

*Mahasiswi Fakultas Adab dan Humaniora, UIN STS Jambi

#News1


kenali.co