PETI JALAN PINTAS GENERASI MALAS
Oleh: Nurlina Abunjani

PETI JALAN PINTAS GENERASI MALAS

Selasa, 16 Mei 2017 - 12:58:00 WIB
0 | Kategori: Kolom |Dibaca: 286

Kenali.co, “Man Jadda Wajada” adalah ungkapan Arab yang dulunya terkenal terbatas di kalangan pesantren. Namun saat ini telah menjadi ungkapan umum sebagai motivasi bagi seseorang yang mengalami putus asa. Arti ungkapan itu adalah “barang siapa bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkan hasil.” Tidak ada hal sulit di dunia ini jikal kita masih ada usaha yang bisa kita perbuat, dengan kerja cerdas, kerja keras, dan kerja ikhlas. Sebagaimana firman alllah dalam kitab suci Al-Quran bahwa “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai kaum itu sendiri yang mengubah nasib atau keadaan yang ada pada dirinya” (QS Ar-Ra’d 11).

Allah sudah memberikan modal dasar berupa otak dan akal yang lebih baik dibandingkan dengan mahkluk lain dimuka bumi ini. Jadi sangatlah keliru jika nasib tidak bisa dirubah, yang tidak bisa kita ubah adalah Takdir. Seperti sewaktu lahir hanya memiliki mata satu, tidak ada tangan dan hal lainnya.

Di era Globalisasi dan teknologi saat ini, manusia berpacu dengan waktu. Semua serba cepat dan instan. Kemudahan teknologi menjadi keniscayaan. Namun demikian, ternyata kemajuan teknologi juga memberi dampak negative terhadap pola hidup dan daya juang masyarakat. Kalimat ‘Manjadda wa jadda’ yang mengesankan untuk bahwa manusia harus berjuang untuk mencapai sesuatu kehilangan ‘roh’nya. Orang lebih memilih jalan pintas walaupun merusak.

 Itulah yang terjadi. Teknologi disalahgunakan untuk kepentingan sendiri dan menjauhi kepentingan masyarakat banyak. Dalam hal ini,  miris rasanya melihat meraja lelanya Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang di daerah saya yaitu Sarolangun. Sejak beberapa tahun silam penambangan masih menggunakan alat sederhana dan tidak merusak lingkungan. Namun saat ini, dengan kemajuan teknologi mereka telah menggunakan alat canggih untuk mengeruk kekayaan bumi ini. Alat canggih seperti bulldozer, eskapator, dll seharusnya digunakan untuk membantu manusai tapi malah disalahgunakan untuk membuat kehancuran. 

Ternyata manusia saat ini sudah kehilangan nilai-nilai dalam diri mereka. Jika seseorang tersebut bekerja cerdas, keras dan ikhlas maka ia tidak akan mungkin menghancurkan tanah tercinta dengan cara terhina. Banyak dampak yang disebabkan oleh PETI yaitu pencemaran air sungai, banjir tiba-tiba saja datang meskipun tidak ada tanda - tanda musim hujan,  dan longsor bisa saja terjadi. 

Sesacara sosial, dampak lain PETI ialah yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin, itulah kebanaran yang sebenarnya. Yang kaya hanya memperkaya diri mereka dan keluarga mereka dan yang miskin tetap saja miskin hanya menjadi budak dan pesuruh orang kaya. 

Lebih mengerikan lagi, PETI kemudian juga dijadikan jalan pintas bagi remaja sekarang untuk mencari pehidupan dan cepat kaya. Bahkan, bayak diantara mereka sudah tidak mau sekolah karena mereka berpikir sekolah itu hanya menghabiskan uang. Lebih baik mencari uang saja dengan cara ikut buruh PETI. Hanya dengan begadang, minum kopi dan menghisap rokok sambil menunggu eskaptor bekerja. Wah, hanya dengan cara ini kemudian mereka bisa menghasilkan uang ratusan juta! Tidak peduli apakah bahwa apa yang mereka lakukan telah merusak bumi Allah tercinta ini. 

Pemikiran ini sudah seharusnya di basmi. PETI hanyalah jalan pintas bagi generasi pemalas. Tidak mau kerja keras. Maka dari itu, para oknum cukong PETI dan Pemerintah setempat haruslah berpikir cerdas.  Pikirkan masyarakat yang terkena dampak. Berpikir arif, bijaksana, adil, dan tidak berpihak kepada siapa pun. Dampak PETI sangatlah tidak manusiawi, kasihanilah masyarakat yang ada hilir sungai mereka tidak bisa memanfaatkan air sungai, tidak ada air bersih, ikan dan mereka terkena dampak buaya yang marah ketika habitatnya diganggu.

*Mahasiswa Fak. Adab dan Humaniora UIN STS Jambi

#News1


kenali.co