Wahai Profesor Sastra, Bertobatlah!
Ricky A Manik,

Wahai Profesor Sastra, Bertobatlah!

Sabtu, 22 April 2017 - 08:32:40 WIB
0 | Kategori: Lifestyle |Dibaca: 198

Kenali.co, Saya sebenarnya tak hendak menanggapi persoalan garis demarkasi antara sastra Indonesia dan sastra daerah yang dipaparkan oleh Dwi Rahariyoso dalam tulisnya di harian Jambi One tanggal 1 dan 8 April 2017 yang berjudul Sastra Indonesia; Sebuah Defenisi?. (atau klik disini : Sastra Indonesia; Sebuah Defenisi? ) Tetapi, hal yang cukup mencengangkan saya untuk kemudian ingin juga berkomentar pada apa yang ditulis Yoso adalah pernyataan yang muncul dari seorang Profesor sastra dengan membuat dikotomis antara sastra Indonesia dan sastra daerah (dongeng, cerita rakyat, tradisi lisan, mantra, mitos, naskah kuno) berdasarkan legitimasi tekstual dalam sejarah sastra Indonesia dan kebermanfaatannya. Sastra daerah/klasik dianggap sebagai bukan sastra Indonesia karena tak memiliki kontribusi terhadap sastra Indonesia. Oleh sebab itu, kajian akademik harus diletakkan pada hal yang bersifat legitimasi tekstual sejarah sastra Indonesia. Cerita rakyat, mitos, mantra, tradisi lisan, dan sejenisnya bukan sebagai kajian sastra Indonesia. Kalau seorang profesornya saja memiliki cara pandang seperti itu, saya tak hendak membayangkan akan seperti apa produk akademik yang dihasilkannya. Bisa benar apa yang diasumsikan Yoso: hanya menjadi reproduksi dan repetisi.   

Dalam tulisan Yoso tersebut, ada hal yang tak jelas mengenai legitimasi tekstual sejarah sastra Indonesia yang dimaksud oleh profesor tersebut untuk dijadikan sebagai kajian akademik. Bahwa produk sastra yang termaktub dalam sejarah sastra Indonesia menjadi hal yang prioritas dalam kajian. Pertanyaan yang muncul: sejarah sastra yang mana yang dimaksud sang Profesor? Legitimasi tekstual yang seperti apa yang membuat karya sastra Indenesia yang layak untuk dijadikan kajian akademik? Jika paradigma kajian sastra Indonesia itu didasarkan pada aspek bahasa Indonesia, lalu kerja-kerja filologi, terjemahan, sastra bandingan, yang semuanya berkaitan dengan kerja-kerja penafsiran (hermeneutik) menjadi runtuh semua sebagai bagian penting dalam kajian sastra. Secara esensial, saya sependapat dengan apa yang coba diulas oleh Yoso mengenai keresahannya dalam penarikan garis demarkasi antara sastra Indonesia dengan sastra klasik dan/atau daerah oleh sang profesor sastra. Sehingga harus mempertanyakan kembali defenisi sastra Indonesia.

Pembagian antara sastra Indonesia dan klasik dan/atau daerah secara apriori oleh sang Profesor justru mereduksi hubungan yang kuat akan kedua entitas tersebut (?). Sastra klasik dan/atau daerah dalam kajian akademik ditempatkan pada posisi yang marjinal, kuno, usang, tak memiliki kontribusi bagi sastra Indonesia. Sastra Indonesia diposisikan sebagai tempat yang terhormat dan bermanfaat dalam kajian akademik. Ini jelas sebuah pandangan yang menyesatkan. Cara pandang hegemonik ini seharusnya tidak boleh terjadi di dalam ranah akademik.   

Sejarah sastra Indonesia kita pernah mengalami hal pembedaan demikian. Kemunculan Balai Pustaka menjadi lembaga yang memiliki otoritas dalam melegitimasi karya-karya sastra yang boleh diterbitkan dan dibaca serta dianggap telah memberi peletak dasar kemunculan kesusastraan Indonesia. Sementara karya-karya yang tidak diterbitkan oleh Balai Pustaka dikatakan sebagai “bacaan liar”, karya picisan dan pengelolanya dikatakan “saudagar kitab yang kurang suci hatinya”. Begitu pula pada era 90-an, karya-karya sastra yang terbit oleh lembaga-lembaga sastra seperti Horison, media massa Kompas, Media Indonesia, kegiatan-kegiatan sastra seperti seni pertunjukan (teater), dan yang lainnya, memunculkan dikotomi antara yang “pusat” dan “pinggiran”.     

H.B. Jassin juga pernah menggunakan pandangan yang dikotomis yang menempatkan karya-karya Abdullah Bin Abdul Kadir Munsyi sebagai karya masa transisi yang menghubungkan kesusasraan Indonesia lama ke kesusastraan Indonesia modern. Penelitian Claudine Salmon dalam bukunya Sastra Indonesia Awal menempatkan karya-karya sastra di Nusantara (Indonesia) muncul jauh sebelum Balai Pustaka. Meskipun karya-karya tersebut menggunakan bahasa Melayu-Tionghoa. Amin Sweeney memperlihatkan karya-karya Abdullah Bin Abdul Kadir Munsyi dengan membahas dan memberikan gambaran situasi sosialkultural pada zamannya. Bahasan Amin Sweeney ini mempertegas bahwa pembagian dikotomis mengenai sastra Indonesia lama (tradisional) dan sastra Indonesia baru (modern) sudah tidak relevan dalam usaha membuat periodesasi sastra Indonesia.   

Kesusastraan tidak lahir secara tiba-tiba. Ada proses panjang yang menyangkut problem sosial, kultural, politik-ideologi yang berkelindan dari waktu ke waktu. Ia tak bisa dipisahkan dari beragam kebudayaan sebuah bangsa yang lahir dan tumbuh. Dikotomi kesusastraan Indonesia baik yang lama-baru, tradisional-modern bukan seperti garis pembatas seperti kehidupan dan kematian. Keberadaannya selalu berkaitan, bersambungan dengan sastra di zaman sebelumnya. Hubungannya bisa saja rumit dan problematis. Seperti yang dikatakan Yoso bahwa sastra daerah bisa saja menjadi sumber inspirasi dalam penciptaan karya oleh pengarang masa kini dengan suara-suara realisme magisnya.   

Dengan keterkaitan tersebut, proses kesusastraan Indonesia yang tak singkat itu,  bagaimana mungkin sang Profesor secara gampangnya membuat garis tegas yang memisahkan antara sastra daerah dan/atau klasik dan sastra Indonesia (?) atau sastra yang muncul kemudian yang telah menggunakan bahasa Indonesia. Belum lagi keterkaitannya dengan bidang-bidang lain yang terintegrasi dalam kesusastraan Indonesia seperti munculnya sastra Islam, sastra peranakan Tionghoa, sastra eksil, sastra cyber, atau yang lainnya. Artinya, kajian sastra tidak saja dilihat dari aspek intrinsikalitasnya, tetapi juga aspek ekstrinsikalitasnya yang tentu bisa saja ditemukan dan memiliki hubungan dengan sastra daerah dan/atau klasik seperti cerita rakyat, dongeng, mantra, naskah kuno, dan sejenisnya.   

Cara pandang Profesor yang bisa menjadi virus kemandegan ini tidak boleh dibiarkan dalam kajian akademik, terutama oleh Yoso yang bisa menjadi arus perubahan dalam kajian-kajian sastra di tempatnya mengajar. Paradigma tersebut jelas membuat kajian terhadap khazanah sastra Indonesia menjadi stag dan absolut. Yoso dan karibnya yang berada di dunia akademik harus segera meruntuhkan “jalan sesat” yang sedang dibangun oleh sang Profesor tersebut. Jika tidak, segeralah angkat kaki!    
    
Ricky A Manik, sejak lahir domisili di Jambi

#News1


kenali.co