Marak Peredaran Uang Palsu,  BI Datangi Sejumlah Sekolah di Tebo

Marak Peredaran Uang Palsu, BI Datangi Sejumlah Sekolah di Tebo

Senin, 30 Januari 2017 - 20:20:45 WIB
0 | Kategori: Berita Jambi |Dibaca: 202

Kenali.co, Tebo - Peredaran uang palsu marak terjadi diwilayah Kabupaten Tebo jambi. Sehingga membuat pihak BI Jambi V turun langsung ke Kabupaten dengan menggelar sosialisasi Uang Rupiah NKRI di sejumlah sekolah menengah atas di kabupaten Tebo.

Salah satu sekolah yang menjadi kunjungan kali ini,  SMA Negeri 1 Kabupaten Tebo di Desa Teluk Kuali kecamatan Tebo Ulu. Dalam penyampaiannya, pimpinan BI Jambi V Carlusa menyebutkan bahwa Peredaran uang palsu terbanyak terdapat di Kecamatan Rimbo Bujang dan sekitar.

Pernyataan disampaikan langsung oleh Pimpinan BI Jambi V. Carlusa saat mengelar  Sosialisasi Uang Rupiah NKRI tahun 2016 di SMA Negeri 1 Kabupaten Tebo di Desa Teluk Kuali kecamatan Tebo Ulu.

"Berdasarkan laporan, Kabupaten Tebo paling banyak predaran uang palsu. Makanya kita adakan Sosialisasi yang dinilai pada saat ini sangat tepat," sebutnya. 

Dirinyapun meyakini bahwa uang palsu tidak dicetak di Kabupaten Tebo. Akan tetapi ada oknum yang tidak bertanggung jawab yang membawa uang palsu tersebut keberbagai daerah dan memilih Kabupaten Tebo sebagai target salah satunya. 

"Paling banyak kecamatan Rimbo Bujang dan sekitar," terangnya.

Mengenai lambang paru arit yang terdapat dibuang lembaran uang yang baru terbit dan sempat mengehebohkan masyarakat, dirinya mengatakan bahwa Pihak perbankan meminta masyarakat tidak khawatir.

Mengenai perihal tersebut dikatakan carlusa sebenarnya sama sekali tidaklah memiliki unsur komunis ataupun nama lainnya, hanya sebuah lambang yang telah disepati oleh pihak perbankan.

"Lambang di uang baru itu bukanlah lambang palu arit melainkan hanya lambang yang telah disepakati dan kita beri nama rectoverso," jelasnya.

Sementara itu, untuk perawatan dalam penggunaan uang lembaran kertas agar awet dan tahan lama berpesan agar  masyarakat tidak menulis tulisan diuang, jangan dilipat ataupun lainnya yang membuat uang tersebut rusak demi kenyamanan penggunaan uang dalam melaksanakan transaksi.

"Kalau semua kita sadar setidaknya negara tidak banyak mengeluarkan dana untuk cetak uang. Kita beri istilah  D3 (Didapat, Disimpan dan  Disayang), kita harus menyadari uang adalah simbol negara yang harus dijaga," tuturnya.

Dan untuk para pedagang yang notabenenya sebagai pengusaha dan tempat keberadaan perputaran uang, dirinya berharap terutama pada pedangan  pedagang kaki lima agar tidak lagi mengedarkan uang yang rusak ke masyarakat karena berdasarkan sifatnya sendiri, uang yang rusak bisa dikumpulkan dan ditukar ke pihak bank dan lebih penting harus jeli dengan peredaran uang palsu.

"Kepada para pedagang agar bisa lebih merawat keberadaan uang dan apabila ditemukan uang rusak itu jangan disebarkan karena bisa ditularkan kembali ke pihak bank dan juga terus menyadari keberadaan yang palsu," tutupnya.

Dilain tempat, salah satu warga kecamatan sumay, Naldi kepada harian ini mengaku bahwa di kecamatan sumay juga sedang marak peredaran uang palsu beberapa waktu lalu.

Jelas hal ini terus diantisipasi agar jangan lagi ada masyarakat yang menjadi korban keberadaan uang palsu.

"Beberapa waktu lalu disini (kecamatan sumay, red) sempat heboh dengan adanya uang palsu. Dengan adanya hal tersebut, kita bersama masyarakat lainnya mulai lebih jeli agar tidak lagi mendapatksn uang palsu tersebut," pungkasnya.(*).

(Nto)

#News1


kenali.co