MENJEMPUT BENCANA
Oleh: Bahren Nurdin, MA

MENJEMPUT BENCANA

Minggu, 08 Januari 2017 - 06:21:03 WIB
0 | Kategori: Kolom |Dibaca: 175

Kenali.co, Suatu kesempatan saya diundang memberikan seminar motivasi di Kabupaten Kerinci. Ini bukan yang pertama kali. Di perjalanan menuju tanah Sakti Alam Kerinci itu suatu waktu saya pernah dengan sengaja berhenti di suatu daerah di wilayah perbatasan antara Kerinci dan Kabupaten Merangin. Jika tidak salah daerah itu bernama Perentak. Saya sengaja berhenti di daerah ini karena menyaksikan pemandangan yang amat sangat berbeda dengan beberapa kunjungan saya sebelumnya. Sangat berbeda. 

Ketika saya melintas di daerah ini, sebelumnya saya menyaksikan bentangan sawah nan hijau, sungai mengalir indah dan airnya jernih, hewan ternak berkeliaran ke sana ke mari, bukit-bukit kecil berjejer rapi, rumah-rumah penduduk menyatu dengan alam nan asri. Namun, Saya kaget, dalam waktu yang tidak terlalu lama saya tidak melintas di sana, alam sudah berubah. Semua bak disulap, sirna. Semua menghilang!

Ada penambangan emas yang sedang mengganas. Hamparan sawah berganti danau dan tumpukan batu sampah; meradang. Sungai memerah  berlumpur tanah. Bukit dirambah; rebah. Hewan ternak mengungsi entah kemana. Saya menyaksikan ‘tangan-tangan besi’ nan panjang dan serakah sedang mengobrak abrik tanah. Itulah eskavator nan jahat dan kotor. Danau-danau tandus menganga menghadap langit. Tumpukan-tumpukan batu sisa teronggok menimbun apa saja. Semua gersang dan tandus; pupus. Diyakini pula bahwa kejadian serupa juga ada di beberapa kabupaten lainnya.

Saya mencoba mencari logika apa yang mereka gunakan sehingga dengan enaknya mereka menghancurkan tempat hidup mereka sendiri. Bunuh diri. Sampai detik ini saya belum menemukan jawaban itu. Saya tidak percaya ada orang yang dengan suka rela menghancurkan sendiri tanah tempat mereka hidup. Oleh tangan mereka sendiri. Atau mereka memang telah kehilangan logika? Saya juga yakin mereka tahu bahwa mereka sedang menjemput bencana. Dengan kondisi alam yang mereka ciptakan itu, mereka juga faham bahwa banjir bandang akan segera menerjang. Longsor akan cepat menggusur siapa saja. Banjir pun tidak akan lama lagi akan meneggelamkan harta yang mereka cari. Dan bencana-bencana lainnya.

Bukankah Allah telah mengingatkan dalam Al-Quran  “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar). Katakanlah (Muhammad), “Bepergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (Q.S. Ar Rum (30) : 41-42). Okelah mereka tidak takut razia aparat penegak hukum, tapi apakah mereka tidak takut dengan bencana yang mereka ciptakan sendiri? Lagi-lagi saya kehabisan logika untuk memahaminya. 

Mengapa sedemikian serakahnya manusia saat ini hingga dengan mudah merusak bumi? Kemungkinan besar jawaban pertanyaan ini adalah karena mereka sudah dihasut oleh nafsu duniawi nan hedonis, materialistis dan antihumanis. Satu-satunya yang mereka inginkan adalah memilki gaya hidup yang materialistis. Yang penting punya uang banyak, mobil mewah, HP canggih, dll walau harus mengubur diri sendiri. Ini kenaifan zaman!

Tapi tunggu dulu, benarkah penduduk setempat benar-benar mendapatkan kekayaan itu? Seberapa kaya mereka? Sederhana saja, siapa yang menyediakan eskavator tersebut? Faktanya mereka sedang diperbudak oleh kaum kapitalis untuk menghancurkan bumi mereka sendiri. Ternyata oh ternyata, yang nenar-benar menikmati kekayaan dari penambangan emas ini adalah kaum pemodal. Masyarakat setempat sesungguhnya tanpa disadari mereka sedang ‘dikasih' alat pengeruk kubur mereka sendiri. Hasilnya dibawa lari. Yakinlah, suatu saat nanti, ketika bencana melanda, ketika bergelut dengan duka, sang pemberi eskavator sedang menikmati liburan di luar negeri bersama keluarga mereka. Sadarlah!

Inilah kisah lara hidup di negeri kaya yang raknyatnya sedang diperdaya. Berburu emas di perut bumi. Atas nama harta dan mengejar kemewahan dunia fana, mereka  rela menjemput bencana. Jangan salahkan Tuhan, kawan!

 #BN08012017

#News1


kenali.co