Berburu Pempek di Bulan Ramadan. Sedapnya Pempek Buatan Wong Palembang

Berburu Pempek di Bulan Ramadan. Sedapnya Pempek Buatan Wong Palembang

Senin, 20 Juni 2016 - 09:12:26 WIB
0 | Kategori: Lifestyle |Dibaca: 775

Kenali.co, Kota Palembang di Provinsi Sumatera Selatan bukan hanya dikenal dengan Sungai Musi, Jembatan Ampera, Pulau Kemaro, dan Benteng Kuto Besak-nya, tapi juga dikenal dengan makanan khasnya yakni empek-empek atau dikenal juga dengan sebutan pempek.

Berburu pempek akan terasa nikmat di bulan Ramadan, karena makanan khas Palembang ini dipastikan banyak dijual di pasar-pasar beduk dengan beragam varian dan harga sangat terjangkau.

Beragam jenis pempek pun dijajakan pedagang, mulai dari pempek keriting, adaan, kulit, lenjer, pistel, telok, dos dengan harga Rp1.000 per buah, dan lenggang dan kapal selam dengan harga Rp6.000 per buah.

Bahkan khusus pada Ramadan kali ini pembeli dapat menjumpai kreasi baru kalangan wirausaha muda yang menjual pempek isi keju, sosis, dan bakso.

Vira, salah seorang penjual pempek di pasar beduk Perumnas Palembang mengatakan saat Ramadan menjadi kesempatan emas baginya untuk meraup keuntungan berlipat dari berjualan pempek.

"Saya memiliki warung kecil-kecilan di rumah, tapi sejak Ramadan pindah ke pasar beduk," kata Vira.

Selama puasa ini, Vira dapat menjual 400 buah pempek kecil (pempek keriting, adaan, kulit, lenjer, pistel, telok). Padahal pada hari biasa hanya terjual sekitar 100 buah.

Lantaran itu pula, warga Rawasari Kelurahan Bukit Sangkal ini, sudah mencatat kenaikan omzet hingga empat kali lipat dan sudah mengantongi keuntungan sekitar Rp2 juta selama 10 hari puasa ini.

Bagi warga Palembang, pempek sudah demikian dekat dengan lidah, bahkan jika tidak memakan pempek di saat buka dirasakan ada yang kurang.

Amelia, salah seorang warga mengatakan setiap hari selalu menyediakan pempek untuk santapan berbuka anggota keluarganya.

"Tidak mesti beli, dapat juga buat sendiri. Tinggal beli ikan di pasar, digiling, kemudian diadon untuk dibuat pempek sesuai keinginan. Biasanya, saya membuat pempek adaan dan telok," kata ibu rumah tangga ini.

Untuk menyiasati tingginya harga daging ikan gabus yakni sudah menembus harga Rp50 ribu per kg, Amelia menggunakan ikan jenis lain seperti ikan rucah, otik, parang-parang, tenggiri, dan kakap.

Hal serupa juga dilakukan Choirul Dedy Kurniawan (24), pemilik bisnis online 'pempek meledos' yang sudah eksis sejak setahun terakhir.

"Karena saya patok harga hanya Rp1.500 per buah, maka sulit jika memaksakan memakai ikan gabus, jadi saya siasati dengan menggunakan ikan kakap. Untuk rasa, sama enaknya karena tergantung dari koki yang membuat," kata Dedy pula.

Menyantap pempek memiliki kekhasan tersendiri karena makanan berbahan ikan ini selalu disajikan dengan cuka atau lazim disebut 'cuko'. Warga Palembang sering mengatakan dengan istilah 'ngirop cuko'.

Cuko atau cuka terbuat dari air gula merah yang didihkan kemudian diberikan bumbu campuran bawang putih, garam, air asam, dan cabai hijau dengan komposisi yang sesuai.

Ada yang unik terkait cuko ini, karena gula merahnya mesti berasal dari Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan jika ingin mendapatkan rasa kelas wahid.

Dedy mengatakan kondisi ini juga yang menyebabkan bisnis online pempek cukup berjaya karena penikmat pempek mengetahui bahwa cuko yang enak harus asli buatan warga Palembang.

"Pempek, mungkin bisa dibuat di daerah lain karena banyak juga daerah yang memiliki sungai tapi untuk 'cuko'-nya ini yang sulit. Jika pakai gula merah selain dari Lubuklinggau maka akan terasa beda," kata Dedy, pelaku usaha yang sudah mengirimkan pempek dari Aceh hingga Lombok ini.

Nikmatnya kuliner pempek ini sudah menyebar di seluruh Indonesia dan saat ini bukan perkara sulit bagi mereka untuk menikmatinya karena sudah banyak jasa penjualan secara daring.

Pesatnya bisnis kuliner ini dapat terpantau dari tingginya volume dan kuantitas pengiriman pempek melalui jasa PT Pos Indonesia selama Ramadan ini, yakni sudah menembus berat 11 ton terhitung 1-14 Juni 2016.

Kepala Kantor Pos Besar Palembang Rodi Herawan di Palembang mengatakan, pada tahun lalu untuk satu bulan Ramadan hanya menembus 7 ton tapi saat ini baru 10 hari puasa sudah menembus 11 ton.

"Kondisi ini dipengaruhi oleh mulai memasyarakat belanja online. Pembeli sudah mau tidak mesti melihat barang dulu untuk membeli," kata dia.

Ia mengemukakan untuk merespons tingginya minat konsumen ini PT Pos Indonesia mengoperasikan satu untuk mobil pick up lagi untuk mengambil pesanan ke mitra dagang yakni pedagang UMKM hingga pedagang besar pempek, seperti Pico, Beringin, Pak Raden, Candy, Tince dan lainnya.

Pengiriman ini sebagian besar ke kota-kota di Jabodetabek, Bandung, Semarang, dan Surabaya.

Bisnis pempek online PT Pos Indonesia bertumbuh pesat hingga tiga kali lipat sejak mulai diluncurkan pada 2012 yakni dari 1-2 ton per bulan menjadi 6-7 ton per bulan pada 2015.

Pencapaian itu lantaran didongkrak peningkatan aktivitas berbelanja daring (online) di masyarakat, sehingga bisnis pengiriman kuliner ini telah tumbuh 33 persen jika dibandingkan tahun lalu.

Sejarah Pempek Pempek telah ada di Palembang diperkirakan mulai ada sejak masuknya perantau Tiongkok ke Palembang, yaitu sekitar abad ke-16 yakni saat Sultan Mahmud Badaruddin II berkuasa di kesultanan Palembang-Darussalam.

Nama empek-empek atau pempek diyakini berasal dari sebutan "apek", yaitu sebutan untuk lelaki tua keturunan Cina sedangkan "koh", yaitu sebutan untuk lelaki muda keturunan Tiongkok.

Berdasarkan cerita rakyat, sekitar tahun 1617 seorang apek berusia 65 tahun yang tinggal di daerah Perakitan (tepian Sungai Musi) merasa prihatin menyaksikan tangkapan ikan yang berlimpah di Sungai Musi yang belum seluruhnya dimanfaatkan dengan baik, hanya sebatas digoreng dan dipindang saja.

Ia kemudian mencoba alternatif pengolahan lain dengan mencampur daging ikan giling dengan tepung tapioka.

Makanan ini kemudian dijajakan oleh para apek dengan bersepeda keliling kota, sehingga warga memanggil penjualnya dengan sebutan "pek-apek".

Namun cerita rakyat ini patut ditelaah lebih lanjut, mengingat singkong baru diperkenalkan bangsa Portugis ke Indonesia pada abad 16, dan selain itu velocipede (sepeda) baru dikenal di Prancis dan Jerman pada abad 18.

Walaupun begitu sangat mungkin pempek merupakan adaptasi dari makanan Tiongkok seperti bakso ikan, kekian ataupun ngohyang.

Pada awalnya pempek dibuat dari ikan belida. Namun, dengan semakin langka dan mahalnya harga ikan belida, ikan tersebut diganti dengan ikan gabus yang harganya lebih murah, tetapi dengan rasa yang tetap gurih.

Pada perkembangan selanjutnya kemudian digunakan juga jenis ikan sungai lainnya, misalnya ikan putak, toman, dan bujuk. Bahkan jenis ikan laut seperti tenggiri, kakap merah, parang-parang, ekor kuning, dan ikan sebelah.

Satu adonan pempek, ada banyak makanan yang bisa dihasilkan sesuai dengan komposisi maupun proses pengolahan akhir dan pola penyajian, di antaranya, laksan, tekwan, model, celimpungan dan lenggang.

Laksan dan celimpungan disajikan dalam kuah yang mengandung santan, sedangkan model dan tekwan disajikan dalam kuah yang mengandung kuping gajah, kepala udang, bengkuang, serta ditaburi irisan daun bawang, seledri, dan bawang goreng maupun bumbu lainnya.

Varian baru juga mulai bermunculan seperti pempek keju, pempek bakso sapi, pempek sosis serta pempek lenggang keju yang dipanggang di wajan antilengket, serta pempek dengan bahan dasar terigu dan nasi sebagai pengganti ikan.

Pempek sendiri terbuat dari ikan yang dihaluskan dan sagu, serta beberapa komposisi lain, seperti telur, bawang putih halus dan garam.

Jenis pempek yang terkenal adalah "pempek kapal selam", yaitu telur ayam yang dibungkus dengan adonan pempek dan digoreng dalam minyak panas.

Ada juga yang lain seperti pempek lenjer, pempek bulat (atau terkenal dengan nama "ada'an"), pempek kulit ikan, pempek pistel (isinya irisan pepaya muda rebus yang sudah ditumis dan dibumbui), pempek telur kecil, dan pempek keriting.

Terbilang sulit untuk mengatakan bahwa pempek hanya bisa ditemui di Palembang sebagai pusatnya, karena semua daerah di Sumatera Selatan memproduksinya.

Penyajian pempek ditemani oleh saus berwarna hitam kecokelat-cokelatan yang disebut cuka atau cuko (bahasa Palembang).

Rasa pedas yang ditimbulkan cuko diharapkan dapat meningkatkan selera makan plus irisan dadu timun segar dan mi kuning yang ada di dalamnya.

(antara)

#News1


kenali.co