Warga Belui Tolak TPA, Lima Hari Sampah Tak Diangkut
Terlihat sampah yang menumpuk di kota Sungaipenuh

Warga Belui Tolak TPA, Lima Hari Sampah Tak Diangkut

Senin, 09 Mei 2016 - 17:16:04 WIB
0 | Kategori: Berita Jambi |Dibaca: 129

Kenali.co, SUNGAIPENUH - Penumpukan sampah di kota Sungaipenuh terlihat di sejumlah titik kota Sungaipenuh. Pasalnya selama Lima hari sampah dalam kota Sungaipenuh tidak ada diangkut dari petugas Kebersihan.

Pantauan media ini di lapangan, Senin (9/5/2016), di beberapa titik seperti di jalan Depati Parbo, jalan Yos Sudarso Desa Gedang, terlihat tumpukan sampah yang berserakan di pinggir jalan.

Tidak hanya itu, mobil yang mengakut sampah terlihat terparkir di depan kantor Perizinan kabupaten Kerinci yang masih berisikan sampah.

Kondisi dikeluhkan oleh warga Sungaipenuh, sebab sampah sudah menumpuk di beberapa TPS dan tidak ada diangkut dari petugas Kebersihan Sungaipenuh.

"Sampah ini sudah tidak ada diangkut selama 5 hari ini, kita tidak tahu apa penyebab tidak diangkut sampah di kota Sungaipenuh ini," ujar Pernando salah seorang warga Sungaipenuh.

Namun, dia minta kepada pihak terkait dalam hal ini Dinas Kebersihan kota Sungaipenuh untuk dapat mengambil sampah yang menumpuk di beberapa titik dalam Sungaipenuh, karena sudah menimbulkan aroma yang tidak sedap.

"Kita minta Pemkot Sungaipenuh untuk memperhatikan sampah ini, karena sudah lima hari sampah tidak diangkut, warga mulai resah dengan baunya," katanya.

Dia juga mengatakan, padahal kota Sungaipenuh merupakan salah salah satu daerah yang mendapatkan piala Adipura. "Masa iya kota Sungaipenuh yang mendapatkan Adipura sampahnya berserakan seperti ini," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Badan Lingkungan Hidup, Kebersihann dan Pertamanan (BLHKP), kota Sungaipenuh, Munasri, kepada sejumlah wartawan, (9/5/2016), mengatakan tidak diangkut sampah di kota Sungaipenuh beberapa hari ini karena ada persoalan dengan Tempat pembuangan Akhir (TPA)

"Saat ini karena kita terkendala dengan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di KM 11. Kalau operasional dan honor tidak ada masalah," jelasnya.

Lebih lanjutkan, dikatakan Munasri, dihentikanya pembuangan sampah di puncak di KM 11, karena warga Belui mengklaim bahwa lahan tersebut masuk diwilayah adat Belui.

"Untuk mengatasi menumpuknya sampah saat ini, kita sudah membuat tempat baru di Renah Kayu Embun (RKE), kita akan pakai satu tahun, sambil menunggu mencari solusi,"sebutnya.

Sementara volume sampah yang diangkut dalam waktu satu hari, kata Munasri mengatakan dalam waktu satu hari, pihaknya mengangkut kurang lebih 36 Ton sampah ke TPA. "36 ton ini diangkut sebanyak 12 truk sampah," pungkasnya.

Sementara Kades Belui Tinggi, Alinus, saat dikonfirmasi harian ini terkait dengan penolakan warga terhadap pembuangan sampah oleh pemerintah Sungaipenuh, mengatakan sampah tersebut telah menganggu masyarakat.

"Kita menolak itu, karena dekat dengan pemukiman masyarakat jaraknya, sebabnya sekitar 1 kilo meter dengan pemukiman masyarakat,"jelasnya.

Menurutnya, lokasi tempat pembuangan sampah di KM 11 tersebut masuk dalam wilayah adat Belui, karena takut dampaknya maka masyarakan menolaknya. "Kita siap duduk bersama dengan Pemerintah kota Sungaipenuh. Kalau untuk membangun Rumah Sakit atau puskesmas masyarakat mengizinkan," tandasnya.

(sau)

#News1


kenali.co