UNDP: Sumur Hidrant Upaya Antisipasi Karhutla

UNDP: Sumur Hidrant Upaya Antisipasi Karhutla

Senin, 14 Maret 2016 - 08:26:02 WIB
0 | Kategori: Berita Jambi |Dibaca: 283

Kenali.co, Jambi - Asistant Project United Nations Development Programme (UNDP) Wilayah Jambi, Cut Afita mengatakan, pembuatan sumur hidrant (sumur bor) di dua desa di Muarojambi merupakan upaya mengantisipasi kebakaran lahan dan hutan.

"Di dua desa, yakni Arang-Arang dan Puding, sudah ada masyarakat peduli api (MPA) dan mereka sudah kita latih, kita juga memberikan bantuan pembuatan sumur bor di lahan gambut sebagai langkah efektif cegah karhutla yang menyebabkab kabut asap," kata Cut di Jambi, Minggu (13/3).

Cut mengungkapkan, selain dibekali keahlian, masyarakat peduli api diberikan peralatan lengkap seperti pakaian pengamanan saat pemadaman, "global positioning system" (GPS) untuk melacak koordinat titik api dan peralatan operasional lainnya.

Selain di dua desa itu, pembuatan sumur bor di lahan yang rentan terjadinya kebakaran juga dibangun di tiga desa lainnya. Yakni di desa Pulau Mentaro dan Pematang Raman Kabupaten Muarojambi dan Kelurahan Simpang Kabupaten Tanjabtim.

"Kita sudah lakukan evaluasi pembuatan sumur sebagai langkah antisipasi pemadaman kebakaran. Masyarakat peduli api yang sudah terbentuk bisa mengajukan penambahan pembuatan sumur jika masih kurang," kata Cut menjelaskan.

Kepala Desa Arang-Arang, Bahri mengatakan, pada tahun 2016 hasil sumbangan dari pihak UNDP dan KLH telah membuat sekitar 10 sumur bor dan ditambah empat sumur bor hasil swadaya masyarakat setempat.

"Jadi sumur di sini sudah ada sekitar 14 sumur bor, itu semua untuk antisipasi kebakaran agar tidak terjadi seperti tahun 2015 kemarin," kata Bahri.

Dijelaskannya, jarak antara sumur bor di lokasi tersebut sekitar 200 meter dengan kedalaman sumur 24-30 meter. Kedalaman berbeda-beda karena tergantung dengan situasi lahan gambut itu sendiri. Sedangkan biaya pembuatan satu sumur sekitar Rp6 -7 juta.

Bahri mengatakan, Desa Arang-Arang memiliki luas wilayah sekitar 30 ribu hektare dengan daerah rawan kebakaran 20 ribu hektare. Dengan luasan tersebut jumlah sumur bor dinilai masih perlu dilakukan penambahan sekitar 16 sumur mengingat semua daerah itu merupakan lahan gambut.

"Sumur bos tersebut dioperasikan oleh kelompok MPA yang berjumlah 10 orang. Mereka sudah dilatih bagaimana mengantisipasi dan menangani kebakaran lahan gambut," kata Kades.

Bahri mengungkapkan, pada bencana kabut asap tahun lalu efek yang dirasakan sangat luar biasa. Banyak masyarakat di desa tersebut terganggu kesehatan dan perekonomian.

"Banyak warga mau keluar bertani takut karena asap dan banyak warga enggan menanam sayuran karena kering sayurnya. Bahkan tim dokter dari provinsi turun langsung ke desa kita mengecek kesehatan warga," katanya.

Sementara itu, Ketua MPA Desa Puding, Baihaki mengatakan, saat ini kawasan desa tersebut telah dipasangi sebanyak 10 unit sumur bor yang terbagi dalam beberapa titik dan berjarak lebih kurang 400 meter.

"Kawasan gambut di desa kita ini pada tahun lalu menjadi salah satu penyumbang titik api terbesar di Jambi. Untuk mengantisipasi hal itu kami saat ini sudah buat sumur bor 10 unit dan akan kami tambah 10 sumur lagi," kata Baihaki.

Pihaknya telah membentuk tim MPA agar ada petugas khusus yang memang sudah wajib untuk melawan api. Tim MPA Desa Puding sudah dilatih oleh UNDP.

Namun, pihaknya tetap meminta kepada pemerintah untuk menyosialisasikan kepada masyarakat, terkait bahaya membakar hutan dan lahan agar bencana asap tidak terulang lagi.

"Saat ini menurut saya sosialisasi tentang bahaya kebakaran hutan lahan masih kurang. Karena tidak semua masyarakat tahu bagaimana dan apa yang bisa terjadi kalau membakar lahan. Ini menurut saya sangat penting, apalagi warga di sini banyak yang trouma bencana asap tahun lalu," katanya menambahkan.

(Antara)

#News1


kenali.co